Perseteruan Hukum Deddy & Secarpiandy Meruncing

by -
Ilustrasi

*Secar Sebut Tak Ada Damai

PANGKALPINANG – Dalam perseteruan hukum yang dialami 2 tokoh publik  yakni pengacara senior Secarpiandy versus anggota DPRD Bangka Belitung, Deddy Yulyanto bak peribahasa sejengkal jadi sehasta. Lalu menjadi kusut hingga susah penyelesaianya seperti  ungkapan air ditarik sungsang saja.

Ini nampak dari sikap yang ditunjukan Secar yang mengaku walau sudah menyandang sebagai tersangka di Polres Bangka atas kasus dugaan penggelapan -dari laporan Deddy Yulyanto- tidak gentar sedikitpun. Dia meyakini bahwa alat bukti yang dikantongi penyidik -yang juga dijadikan sebagai alat bukti- sangat prematur.  “Masak fotokopian saja (kwintansi), aslinya gak ada, penetapan tersangka apaan itu oleh penyidiknya. Begitu juga saya ditetapkan tersangka sementara saya tidak pernah diperiksa.  Penyidikan seperti ini tidak profesional dan  ini nampaknya pekerjaan penyidik lebih mengedepankan order semata,”  kesal Secar saat menghubungi harian ini kemarin.

Bilamana menetapan tersangka secara sewenang-wenang seperti ini katanya akan mencederai rasa keadilan serta kebobrokan mental penegak hukum. Penyidikan seperti ini menunjukan polisi arogan dan tak profesional itu.  “Bayangkan saya sebagai seorang pengacara yang mengerti hukum di buat sewenang-wenang seperti ini. Jadi bagaimana kalau masyarakat kecil yang tak mengerti hukum, tentu makin sewenang-wenang,” katanya.

Alat bukti penyidikan –kwintasi kopian- yang prematur seperti itu dikatakanya membuat penyidikan menuai blunder terhadap penyidik sendiri. Dengan begitu proses penyidikan nantinya akan berakhir kacau balau dimana akan dimentahkan begitu saja oleh pihak Kejaksaan Negeri Sungailiat. “Kalau hanya kwitansi kopian seperti itu saya yakin untuk menahan saya tak cukup bukti. Selaian itu juga apa iya Kejaksaan Negeri Sungailiat nanti saat pelimpahan berkas mau menerima begitu saja, tentu jaksanya tidak bodoh dan tidak mau konyol,” ungkap mantan pengacara artis Ayu Azhari.

Menurutnya atas ketidak beresan penyidikan sendiri  yang mulai terungkap di media membuat ketar ketir pihak-pihak tertentu. Bahkan sudah ada harapan dari internal kepolisian sendiri agar kasus ini diselesaikan secara damai saja.  Namun baginya penyelesaian seperti ini tidak bisa diterima begitu saja dan bukan jalan yang tepat  mengingat nama baiknya sudah terlanjur tercoreng.

“Bagi saya tidak ada kata damai, dan tidak semudah itu untuk damai. Nama baik saya sudah terlanjur tercemar sehingga saya akan menggunakan jalur hukum  untuk memproses pidana atas Deddy Yulyanto sesuai hukum yang berlaku. Gak usah damai-damai, kita uji saja dalam hukum yang berlaku. Kita ikuti saja proses hukum yang berlaku itu,” tegasnya.

Khusus laporanya atas Deddy Yulyanto terkait pemalsuan serta pengancaman di Polda Bangka Belitung sedang diproses intensif, Secar mengaku sudah mempersiapkan seluruh saksi-saksi serta bukti-bukti tambahan. “Penyidik Polda tentu profesional. Harapan saya 2 kasus pidana ini bisa cepat diproses hukum dan terselesaikan tanpa perdamaian. Biarkan peradilan yang memutuskan,” tandasnya.

Sementara sebelumnya Deddy sendiri sudah menyatakan apresiasinya atas penetapan tersangka Secar dalam dugaan penggelapan uang senilai Rp 50 juta. Penetapan tersebut sudah tepat dan sesuai hukum yang berlaku. “Dia sudah jadi tersangka,” singkat Deddy.

Sedang 2 laporan Secar atas diri anggota DPRD Bangka Belitung  ini ditanggapi enteng saja.  Bagi politi Gerindra ini setiap warga negara punya hak sama dalam hukum. Jadi bilamana merasa dirugikan bisa menggunakan hak hukumnya tersebut. “Itu hak dia, yang pasti dia sudah menjadi tersangka di Polres Bangka,” sebutnya.

Status tersangka Secar sendiri,  pihak penyidik sudah mengirimkan surat panggilan pertama  pada tanggal 20 Maret 2017 diperiksa sebagai kapasitas tersangka.  Hanya saja, pengacara kondang itu tidak hadir.  “Dia sudah dipanggil tapi dia gak hadir. Kemungkinan Senin depan dia akan dipanggil lagi, apabila nanti tidak juga hadir dia bisa saja dijemput paksa oleh,”  Deddy. (eza)