Pertamax Tidak Laku Dijual

by -

*Pihak SPBU Mengaku Merugi

‎MANGGAR – Pasca dikeluarkan aturan memperbolehkan mobil dinas pemerintah menggunakan BBM Premium, sejak Maret 2015 lalu, beberapa Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Kabupaten Belitung Timur (Beltim) yang menjual Pertamax sepi pembeli.

 

Meski terhitung pada sejak 19 Nopember lalu harga Pertamax turun menjadi Rp. 9.400 perliter, namun konsumen sepertinya tak bergeming. Selisih harga Rp 2.000 membuat premium masih jadi pilihan utama.

 
Kondisi ini mengakibatkan stok banyak menumpuk dan omset penjualan Pertamax jauh berkurang. Pengelola mengeluh mengalami kerugian, bahkan saking sepinya pembeli, salah satu SPBU memutuskan tidak lagi menjual Pertamax, dan kembali beralih ke premium.

 

“Sepi sekarang pak, orang lebih banyak beli bensin. Paling yang ngisi di sini hanya mobil dinas, itu pun terbatas mobil pejabat tinggi kayak Bupati dan Sekda. Mobil-mobil mewah aja jarang yang ngisi pertamax, dak terlalu ngaruh walau sering turun harga,” ungkap Pengelola SPBU Multi Patra Persada (SPBU Padang), Jumhari kepada wartawan, Jum’at (27/11) kemarin.

 

Pria yang akrab dipanggil Mandor ini mengungkapkan rata-rata dalam satu hari, penjualan pertamax tak pernah lebih dari 1.000 liter. Hal ini membuat stok pertamax di tangki penyimpanan banyak yang menguap dan membuat SPBU merugi.

 

“Paling sehari lakunye seton (1.000 liter) lebih la, kadang dak sampai. Itu pun pas bensin macet baru ramai yang beli. Belum lagi pas susut (menguap) sampai puluhan liter, jadi kalo’ diitong-itong banyakkan rugi jual pertamax ini,” terang Mandor.

 
Ia berharap ke depannya pemerintah daerah akan mengeluarkan kebijakan agar mobil berplat merah, khususnya yang keluaran produksi di atas tahun 2012 ke atas kembali menggunakan pertamax.

 
Terpisah, Pengelola SPBU Sungai Manggar, Sariman juga  mengatakan SPBU-nya sudah lama memutuskan tidak lagi menjual pertamax. Mengingat pertamax kurang diminati konsumen dan dianggap akan merugikan SPBU.

 

“Kalo’ kami sudah sejak awal tahun ini dak jual pertamax. Kami ini kan hanya ngandalkan pembeli umum, mobil dinas kan dak beli di sini, jadi susah,” keluh Sariman.

 
Abah panggilan akrab Sariman, mensinyalir selisih harga yang cukup jauh antara pertamax dan premium membuat konsumen enggan untuk membeli pertamax.

 

“Dulu-dulunya penjualan sempat lumayan, awal-awal premium naik. Uda itu sih, sepi benar. Stok itu sampai dua tiga bulan baru habis,” papar Abah.

 

‎Sementara itu, Kepala Bagian Ekonomi Pembangunan (Ekbang) Sekretariat Daerah (Setda), Hendri Yani menyatakan Pemerintah Daerah tidak bisa mengeluarkan aturan yang mewajibkan mobil-mobil plat merah untuk menggunakan Pertamax.

 

Hal ini dikarenakan kondisi keuangan daerah yang pas-pasan serta sudah dicabutnya subsidi premium oleh pemerintah pusat.

 

“Memang sejak dikeluarkannya Surat Edaran Gubernur dan Bupati, kita tidak lagi mewajibkan mobil dinas pakai pertamax. Kita tidak bisa mengeluarkan aturan wajib beli pertamax, malah kalau kita keluarkan aturan kita salah,” jelas Hendri.

 

Hendri yang juga menjabat sebagai Sekretaris Tim Monev BBM Kabupaten Beltim ini menambahkan, pemerintah daerah pada prinsipnya hanya bisa memberikan saran dan masukan kepada tiap SKPD agar mempertimbangkan untuk menggunakan pertamax. Ini bertujuan agar SKPD memperhatikan proses pemeliharaan kendaraan.

 

“Semuanya kembali ke SKPD masing-masing. Kita hanya menyarankan bahwa pembelian premium atau pertamax harus mamperhatikan usia kendaraan. Akan lebih baik jika kendaraan baru pakai pertamax karena baik untuk sisi pemeliharaan kendaraan,” tutupnya. (feb)