Pertokoan Warga Tionghoa Tutup

OYO 399 Kelayang Beach Hotel

//Padati Kelenteng Kwen Tie Miaw

PANGKALPINANG – Sekitar 90 persen toko milik warga keturunan Tionghoa di sejumlah pasar tradisional Kota Pangkalpinang Provinsi Bangka Belitung (Babel), tutup karena mereka merayakan Tahun Baru Imlek.
Di sejumlah pasar di Pangkalpinang seperti pasar Pembangunan Pangkalpinang, pasar Rumput Pangkalbalam dan sepanjang jalan protokol, toko-toko sembako, pakaian, perhiasan, bahan bangunan dan lainnya tutup.
Selain itu, suasana di sejumlah pasar tradisional dan jalan protokol Kota Pangkalpinang, terlihat sepi. Pedagang yang berjualan di pasar tradisional tersebut, hanya didominasi pedagang melayu yang berjualan sayur mayur, ikan, daging dan buah-buahan dan lainnya.
“Setiap perayaan Imlek, seluruh toko milik warga keturunan Tionghoa tutup dan pengunjung pasar sepi,” kata salah seorang pedagang daging, Sulaiman di Pasar Pembangunan Pangkalpinang, Kamis (19/2).
Sementara itu, Hadi salah seorang tukang parkir di Pasar Rumput mengatakan, perayaan imlek berdampak terhadap omset yang mengalami penurunan yang cukup drastis.
“Saat ini, pendapatan hanya sekitar Rp20 ribu saja dibanding pendapatan hari-hari biasa mencapai Rp250 ribu per hari,” bebernya.
Sepinya arus perdagangan di Pangkalpinang dimanfaatkan oleh warga Tionghoa untuk melakukan perayaan imlek dan memadati Klenteng Kwan Tie Miaw untuk menjalankan ritual sembahyang menyambut Tahun Baru Imlek.
“Sekitar pukul 05.00 WIB hingga 09.30 WIB, warga sudah memadati Klenteng Kwan Tie Miaw,” kata salah seorang pengurus Klenteng Kwan Tie Miaw, A Hong.
Pada hari perayaan, di Klenteng Kwan Tie Miaw terlihat warga silih berganti untuk melakukan ritual sembahyang dan memanjatkan doa kepada dewa. Selain itu, terlihat aparat kepolisian berjaga-jaga mengamankan ritual sembahyang Imlek di klenteng Kwan Tie Miaw yang sudah berusia 200 tahun, atau didirikan pada 1797.
A Hong mengatakan, pelaksanaan ritual sembahyang menyambut Tahun Baru Imlek ini, berlangsung aman, lancar dan tertib. “Kami sudah menyediakan ratusan ribu dupa, agar umat bisa memanjatkan doa-doa kepada dewa,” katanya.
Menurut dia, setiap tahun perayaan hari besar Kong Hucu, klenteng ini selalu dipadati umat karena klenteng ini memiliki nilai sejarah tinggi. “Umat yang sembahyang di kelenteng tidak hanya berasal dari Bangka Belitung saja, tetapi juga warga luar daerah dan negara lainnya,” tambahnya.
Untuk memeriahkan Tahun Baru Imlek ini, kata dia, pihaknya juga kesenian mengelar barongsai. “Setelah sembahyang, pengunjung dan warga melayu lainnya bisa menikmati tarian barongsai,” tandasnya. (ant/rb)

banner 1200x200

Baca Juga:  Mantan Kapolda Babel Meninggal Saat Pantau Hasil Pemilu 2019
Rate this article!
Tags:
author

Author: