Perusahaan ini Sepakat Penuhi 3 dari 4 Tuntutan

by -1 views
      PANGKALPINANG – Dua pabrik pengelolaan sawit, yakni PT Bumi Permai Lestari (BPL) dan PT Ledong West Indonesia (LWI) bersepakat akan memenuhi 3 dari 4 tuntutan warga 12 Desa, Kecamatan Kelapa, Kabupaten Bangka Barat.
      Hal itu disampaikan Ketua DPRD Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel), Didit Srigusjaya kepada wartawan usai memediasi perwakilan masyarakat dengan pihak perusahaan sawit, Jumat (27/7) di Ruang Banmus DPRD Babel.
       “Alhamdulillah dari 4 tuntutan masyarakat 3 disepakati. Pertama indikasi terjadi pencemaran akan dikroscek lapangan oleh pihak kepolisian apa itu Polda apa Polres. Kedua masalah perusahaan sepakat akan melibatkan masyarakat setempat, dengan catatan sifatnya profesional, contohnya jika dibutuhkan ahli mesin maka yang dicari harus ahli mesin,” ungkap Didit.
        Ketiga, sambung Politisi PDI Perjuangan itu, berdasarkan aturan CSR sebesar 1 persen pihak perusahaan berjanji akan transparansi dengan masyarakat.
        “Berapa keuntungan pada tahun 2018 maupun kedepannya akan dibagikan kepada 12 desa, dengan catatan pihak kepala desa membuat usulan program-program yang dipantau oleh Pemkab Bangka Barat,” ujarnya.
        Hanya saja, tuntutan masyarakat terkait kewajiban perusahaan memfasilitasi kebun plasma kepada masyarakat seluas minimal 20 persen yang berasal di dalam hak guna usaha (HGU), belum dipenuhi pihak perusahaan.
        “Masalah 20 persen kita belum bersepakat. DPRD, Pemprov, dan Pemkab Bangka Barat, kami juga minta Polda untuk mendampingi kami untuk secara bersama-sama mempertanyakan terkait kepastian hukum 20 persen tersebut. Karena interpretasi pasal per pasal antara kita ini berbeda-beda, jangan sampai ini menimbulkan permasalahan hukum di kemudian hari. Maka Kami menjadwalkan Insya Allah 31 Juli nanti akan konsultasikan dengan Kementerian kehutanan maupun komisi IV DPR RI yang menaungi masalah ini,” ungkap Didit.
       Ia melanjutkan, jika semua sudah disepakati pihaknya akan mengundang lagi perwakilan masyarakat. Untuk penandatangan kesepakatan akan disaksikan pihak Polda Babel. Setelahnya pengawasan menjadi tugas Pemkab Bangka Barat.  “Tiga sudah disepakati tinggal satu yang belum, jadi kami imbau masyarakat tenang tidak anarkis,” imbaunya.
       Sementara, Ketua Forum Rembuk 12 Desa, Susiadi menuturkan, dari empat tuntutan pihak perusahaan sudah bersepakat memenuhi tiga tuntuan. Namun, tegas dia, mereka akan terus mengejar apa yang telah disepakati tersebut.
      “Kami dari perwakilan masyarakat akan mengejar terus tindaklanjut dari pertemuan kita hari ini. Kita sudah sepakati bersama akan kami sampaikan ke masyarakat,” katanya.
      Terkait tuntutan agar perusahaan membayar CSR Rp55 ribu per hektar, Susiadi menjelaskan bahwa masyarakat
mengacu besaran yang dibayarkan oleg perusahaan lainnya di Bangka Barat.
       “Mengapa kita minta Rp55 ribu per hektar. Kenapa kita minta ke mereka, karena selama ini pihak perusahaan tidak pernah jujur ke kita berapa keuntungan, sementara undang-undang sudah mengatur minimal keuntungan 1 persen melalui CSR mereka dikembalikan ke masyarakat, tapi selama ini tidak pernah terjadi. Kami minta Rp55 ribu per hektare kami mengacu perusahaan lain yang membayar segitu,” terang Susiadi.
        Ia menambahkan berdasarkan Undang-undang No. 39 tahun 2014 tentang Perkebunan. Perusahaan perkebunan harus mengeluarkan minimal 20 persen plasma dari luas perkebunannya.
        “Kita tidak bicara untung rugi, Kalau kewajiban mereka ya harus di penuhi. Kami berkaca selama ini perusahaan selama bicara tidak pernah melaksankan kewajibannya. Masyarakat menduduki pabrik dua malam karena kejenuhan masyarakat karena ada ketimpangan dengan masyarakat. Kedepan pemerintah harus merespon persoalan ini,” tegasnya.
         Masyarakat, ujar Susiadi, sangat mendukung pemerintah daerah untuk mendatangkan investasi. Namun, tekannya, keberadaan investasi itu harus memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar.  “Kami mendukung investasi di desa kami tapi kalau tidak memberikan kontribusi untuk masyarakat untuk apa,” tutupnya. (fiz)