Pesimis Pembangunan Masjid Selesai

by -

*Bupati: Mana Mungkin Bisa Diselesaikan Dalam 50 Hari

sanem-e1461207118401

TANJUNGPANDAN-Bupati Belitung Sahani Saleh menyatakan pesimis pembangunan Masjid Al-Ikhsan di Jalan Jenderal Sudirman Desa Aik Rayak Tanjungpandan, bisa diselesaikan. Meskipun, pembangunan masjid dua lantai itu, telah diberikan perpanjangan waktu kontrak 50 hari kerja.

Itu disampaikan Bupati menanggapi molornya pembangunan masjid yang menghabiskan anggaran dana sebesar Rp. 9,1 miliar tersebut. Seharusnya sesuai kontrak pembangunan masjid sudah selesai pada 28 Desember 2016 lalu. Sebab, pembangunan sudah memakan waktu kurang lebih 7 bulan.

Sanem sapaan akrab Bupati Belitung, mengaku tidak begitu yakin karena kondisi fisik bangunan masjid baru mencapai 65 persen saat habisnya masa kontrak pertama. Oleh karenanya, tidak mungkin pekerjaan bisa diselesaikan hanya dalam waktu 50 hari. Menurutnya, jika ingin mendapatkan hasil maksimal, tentu akan memakan waktu yang lebih lama.

“Seharusnya kemarin itu, ketika sudah mepet kontraktor harus menambah jumlah tenaga kerja. Mana mungkin pembangunan itu, bisa diselesaikan dalam waktu 50 hari. Apalagi bangunannya berupa coran (dag), tentu memerlukan waktu yang lama baru bisa dikatakan betul-betul selesai,” ujar Sanem kepada Belitung Ekspres, Selasa (3/1) kemarin.

Sanem menjelaskan, salah satu proses yang membutuhkan waktu sedikit lama, misalnya saat pengeringan coran. Sebab, pekerjaan itu baru bisa dikerjakan ke tahap selanjutnya, setidaknya ada tenggang waktu sekitar 10-20 hari.

Lebih lanjut dikatakanya, jika pembangunan masjid tidak bisa diselesaikan tepat waktu, dalam hal ini yang akan dirugikan adalah masyarakat. Terutama bagi mereka yang beragama Islam.

“Mereka pastinya ingin segera memanfaatkan masjid untuk menjalankan ibadah. Namun, Karena masih dalam tahap pembangunan, tentunya akan merasa terhalangi,” ucap Sanem.

Masih menurut Sanem, apabila ingin berbicara kualitas tentu membutuhkan proses yang panjang dan lebih dari 50 hari. Sebab sisa waktu tersebut, bisa selesai dengan tepat waktu dirasa cukup sulit, apalagi disertai dengan hasil yang maksimal pula.

“Kalau fisik bangunan kemungkinan bisa di kejar (kebut), tetapi untuk finishing biasanya memerlukan waktu lama. Apalagi di saat cuaca (penghujan) seperti sekarang, perpanjangan waktu mulai 29 Desember lalu, tidak akan cukup,” tuturnya.

Lantas di sisi lain, kata Sanem yang lebih berhak menegur dan mengenakan saksi kepada kontraktor tersebut, dalam hal ini adalah Pemerintah Provinsi. Pasalnya, itu menggunakan anggaran biaya Provinsi, bahkan saat pembangunan dulu Pemerintah Daerah (Pemda) tidak pernah dilibatkan.

“Tidak pernah koordinasi dengan kita, provinsi langsung bangun-bangun saja. Seharusnya mereka memberitahu kita lebih dulu kalau ingin membangun, jadi ketika ada masalah seperti ini (molor) kita juga enak menjelaskan pada masyarakat,” ungkapnya.

Sanem menambahkan, seandainya waktu itu pihak provinsi pernah berkonsultasi, setidaknya Pemda dapat ikut mengawasi. Sebab, bangunan itu dibuat untuk keperluan masyarakat Kabupaten Belitung, bukan daerah lain.

“Kalau sudah begini tentu masyarakat menanyakannya lebih dulu kepada Bupati bukan langsung ke Gubernur. Sementara koordinasi (dari provinsi) ke kita tidak ada. Seandainya nanti ada pihak menanyakan hal serupa, akan saya jawab apa adanya. Salah satunya itu tadi, tidak pernah berkoordinasi,” tandasnya

Diberitakan sebelumnya, atas molornya pembangunan Masjid Al-Ikhsan, PT. Zuty Wijaya Sejati selaku kontraktor terancam dikenakan denda keterlambatan sebesar Rp.450 juta.

Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK) Dinas Pekerjaan Umum (DPU), Belitung Pratiwi mengatakan, denda akan diberikan selama masa perpanjangan waktu kontrak 50 hari kedepan.

Selama masa perpanjangan kontrak itu, rekanan diharuskan membayar denda dengan rumus 1/1.000 x nilai proyek atau maksimal 5% dari nilai proyek. Denda itu dihitung setiap hari selama masa perpanjangan.

“Mulai hari ini (kemarin,red) denda sudah diberlakukan. Jadi, kalau pekerjaan selesai dalam waktu 50 hari, denda yang harus dibayar sekitar Rp.450 juta,” kata Pratiwi kepada Belitong Ekspres, Kamis (29/12) lalu.

Menurutnya, progres fisik pembangunan masjid diperkirakan baru sekitar 65 persen. Adapun permasalahan molornya pembangunan masjid, karena pekerjaan baru dimulai pada bulan puasa dan pekerja banyak pulang kampung saat hari Raya Idul Fitri.

Selain itu, ada beberapa item pekerjaan pembangunan masjid yang tidak sesuai dengan rencana awal, sehingga harus direvisi atau CCO. Permasalahan lainnya juga, yaitu, ada peralatan kerja yang harus didatangkan dari luar Pulau Belitung, seperti bore pile.

“Jadi itulah sejumlah kendalanya, sampai saat ini kita juga sudah melakukan CCO sebanyak 3 kali. Alat bore pile juga harus nunggu lama karena didatangkan dari luar Belitung. Termasuk juga kendala cuaca hujan,” jelasnya.

Meski demikian, ia berharap pembangunan masjid Aik Rayak bisa diselesaikan pada masa perpanjangan waktu 50 hari tersebut.

Harapan saya bisa segera selesai, jadi pembayaran dendanya bisa berkurang, maksimal selesai 40 hari lah,” ucapnya.

Pratiwi menambahkan, kalau pembangunan masjid tidak selesai pada masa perpanjangan waktu, maka akan diberikan sanksi pemutusan kontrak.

“Selain itu, sanksi lain kontraktor juga akan diblacklist, dan uang jaminan pelaksanaan pekerjaan bisa dicairkan,” tandasnya.

Sementara itu, pihak kontraktor pembangunan Masjid Al-Ikhsan belum dapat dikonfirmasi untuk menanggapi molornya pembangunan masjid tersebut.

Saat Belitong Ekspres pergi ke lokasi pembangunan masjid di dekat Jembatan Aik Rayak, hanya ada sejumlah pekerja yang sedang sibuk bekerja. Akan tetapi mereka tidak berani memberikan keterangan apapun.

Belitong Ekspres juga berusaha meminta nomor handpone (Hp) kontraktor kepada PPTK Dinas Pekerjaan Umun Belitung, Pratiwi. Namun, dia terkesan enggan memberikannya.

“Saya lagi di jalan, nanti saya kirim ya,” ujarnya saat dihubungi Belitong Ekspres melalui telepon seluler.

Keesokan harinya, Jumat (30/12), Belitong Ekspres kembali berusaha menghubungi PPTK untuk meminta nomor Hp pihak kontraktor. Tujuannya, untuk konfirmasi ke pihak kontraktor agar pemberitaan berimbang. Namun, lagi-lagi sms yang dikirim ke nomor PPTK, tak digubris. Hingga berita ini diturunkan nomor Hp kontraktor tersebut tak kunjung dikirim oleh Pratiwi. (mg2/yud)