Petani Ciptakan Alat Pendeteksi Titik Panas

by -

IDE dan inovasi petani Kabupatan Belitung membuat bangga Gubernur Bangka Belitung (Babel), Rustam Effendi. Pasalnya kelompok petani asal kabupaten ini berhasil menciptakan alat pendeteksi titik panas dengan biaya produksi murah. Petani hanya mengeluarkan biaya sekitar Rp100 ribu untuk memproduki alat tersebut. Alat ini diharapkan dapat mengantisipasi kebakaran lahan perkebunan.
Gubernur menginginkan agar penyuluh mampu memberikan motivasi kepada petani untuk menciptakan karya. Sekarang dijelaskan Rustam, petani telah mampu menciptakan alat cukup canggih dengan biaya murah. Hal tersebut harus didukung, agar kelompok tani lain memiliki alat yang sama. Sehingga petani lebih mudah melakukan pemantauan dan mengantisipasi terjadi kebakaran lahan perkebunan. Keberadaan alat ini diharapkan dapat mendukung upaya percepatan produktivitas pangan.
“Saya memberikan apresiasi terhadap penemuan ini. Mudah-mudahan dengan adanya alat ini, ke depan tidak terjadi lagi kebakaran hutan. Penggunaan alat ini hendaknya dimaksimalkan, sehingga ikut membangkitkan kepedulian masyarakat,” jelasnya saat Temu Karya Pertanian, Perikanan dan Kehutanan Tingkat Provinsi di Hotel Soll Marina, Pangkalan Baru, Bangka Tengah, Kamis (5/11).
Hal senada disampaikan Hibson Effendy Sekretaris Badan Koordinasi Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Menurutnya, kegiatan ini dapat menyerap sebanyak mungkin informasi dan inovasi kelompok tani. Sehingga dapat memotivasi memunculkan temuan-temuan lain. Bangka Belitung memiliki tanah berbeda dengan daerah lain, untuk itu harus ada inovasi agar sektor pertanian semakin maju.
“Temuan alat untuk mengantisipasi kebakaran bisa dicontoh kelompok tani lainnya. Hingga saat ini sudah banyak teknologi tepat guna temuan kelompok tani di Bangka Belitung. Contohnya, mengenai cara menanam bakau. Jika di daerah lain bibit bakau langsung ditanam, sedangkan kita menggunakan wadah bambu. Ini dilakukan agar tanaman bakau tidak hanyut dihantam gelombang,” jelasnya.
Tak hanya itu. Ia menambahkan, dengan lahan sedikit petani Bangka Belitung dapat memproduksi pangan sendiri.  Nanti petani tak perlu memiliki lahan luas, sebab lahan kecil saja sudah dapat memberikan hasil maksimal. Ini guna menyambut Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) yang berdampak terhadap persaingan di sektor pertanian. Pasalnya produksi pertanian dari luar bisa masuk ke Bangka Belitung.
Hingga saat ini komoditi lada masih menjadi andalan. Ia menjelaskan, untuk itu penyuluh harus dapat memberikan informasi terkait penanaman lada. Termasuk mengatasi dan pengendalikan penyakit lada. Selain itu, pengembangan sektor budidaya ikan air tawar juga menjadi sektor yang diunggulkan. Peninggalan sektor pertambangan berupa kolong dapat dimanfaatkan sebagai lokasi budidaya ikan air tawar.
“Kita berharap sektor perikanan berkembang di Bangka Belitung. Kolong yang tidak terpakai bisa digunakan untuk budidaya ikan air tawar. Namun sebelum kolong digunakan, terlebih dahulu dilakukan pengapuran serta pemupukan menggunakan pupuk kandang. Kondisi air kolong harus disesuaikan dengan kebutuhan ikan, agar ikan dapat hidup,” ungkapnya.
Kendati komoditi lada tetap menjadi unggulan, Hibson menyarankan agar petani Bangka Belitung juga mampu mengembangkan tanaman jenis lainnya. Begitu juga dengan sektor kehutanan, sehingga masyarakat dapat hidup dengan mengandalkan hasil hutan. Saat ini sudah banyak hutan kemasyarakat, hutan desa dan hutan adat. Jika sekarang masih aneh menjual bibit kayu ke pasar, namun lain halnya nanti.
“Karena nantinya akan banyak masyarakat membutuhkan bibit-bibit tersebut. Hal tersebut dapat membuat masyarakat di sekitar hutan dapat hidup dengan hanya menanam kayu,” harapnya.(rel)