Pilkades Serentak Belitung 30 Agustus, Petugas KPPS Di-Rapid Test

by -
Pilkades Serentak Belitung 30 Agustus, Petugas KPPS Di-Rapid Test
Suasana rapat pelaksanaan Pilkades Serentak tahun 2020, bertempat di ruang sidang Pemkab Belitung, Selasa (28/7).

belitongekspres.co.id, TANJUNGPANDAN – Pelaksanaan Pilkades Serentak Tahun 2020 dipastikan 30 Agustus 2020 mendatang. Hal tersebut berdasarkan hasil rapat pelaksanaan Pilkades serentak tahun 2020, di ruang sidang Pemkab Belitung, Selasa (28/7) kemarin.

Dan itu ditegaskan Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana, dan Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Kabupaten Belitung Suksesyadi kepada Belitong Ekspres, usai rapat kemarin.

Suksesyadi menyebutkan, saat ini tahapan Pilkades dalam tahapan pembentukan KPPS, panitia pemihan kepala desa tingkat desa. “Karena hasilnya sudah putus, jadi mereka sudah mulai membentuk KPPS di desa,” jelasnya.

Menurut dia, ada 58 calon kepala desa dari 15 desa yang melaksanakan pilkades serentak serta ada 79 TPS. “Desa Air Saga, Keciput, Bantan, Simpang Rusa, Kembiri, Gunung Riting, Lassar, Membalong, Tanjong Rusa, Mentigi, Kacang Butor, Petaling, Selat Nasik, Suak Gual, dan Pulau Gersik,” jelasnya.

Lanjut Suksesyadi, seluruh tahapan Pilkades serentak harus mematuhi Protokol Kesehatan, baik itu dari mulai rapat atau sosialisasi, pelaksanaan kampanye, hingga pelaksanaan pemungutan suara di Tempat Pemungutan Suara (TPS). Diantaranya TPS yang digunakan dibangun di ruang terbuka atau lapangan, panitia Pilkades menyiapkan tempat cuci tangan, thermal gun, tisu dan disenfektan dan lain-lainya.

“Jika pemilih datang kemudian di cek thermal gun dan suhunya tinggi, maka akan kita periksa lagi dan suhunya masih tinggi, maka kita tidak berani beri masuk ke TPS. Namun terkait ini akan kita bahas lagi di rapat lanjutan jika ada kejadian seperti ini,” terangnya.

Dirinya juga menerangkan bahwa seluruh KPPS Pilkades serentak akan dilakukan rapid test. “Tadi pak Sanem minta agar semua KPPS di Rapid,” ujarnya.

Sementara itu Bupati Belitung H. Sahani Saleh mengatakan dalam kondisi saat ini, memang ada beberapa kekhawatiran, kalaupun teknisnya tidak begitu masalah tetapi masyarakat yang hadir saat pemungutan suara itu.

“Ada beberapa hal yang menjadi kekhawatiran, seperti masyarakat takut mau datang ke TPS, sehingga memilih tidak datang. Kalau mereka datang maka kita harus mempersiapkan berbagai Protokol Kesehatan,” katanya.

Maka dari itu, kata Bupati, hal ini perlu dirapatkan semuanya dengan terlibatnya unsur Forkopimda, sehingga masyarakat tidak merasa takut untuk hadir.
“Di TPS kita sudah menyiapkan secara terpadu terkait dengan SOP Protokol Kesehatan, menyiapkan sarana Protokol kesehatan itu mudah, tetapi memberi kesadaran itu sulit,” terangnya.

Orang nomor 1 di kabupaten Belitung itu menyebutkan sebagaimana SOP Protokol Kesehatan pada tahap awal memasuki TPS, masyarakat harus diperiksa menggunakan thermal gun.

“Mau tidak mau harus menambah alat ini (thermal gun), dan disisi lain petugas harus aman yaitu harus di rapid tes dulu,” terang Bupati yang karib disapa Sanem itu.

kekwatiran tersebut, dijelaskan Sanem, ada tanggung jawab yang lebih besar karena Pemkab Belitung sudah diberi insentif dana daerah sekitar Rp 12 Miliiar, yang merupakan penghargaan pemerintah pusat dalam hal penanganan Covid-19 yang dilakukan Pemkab Belitung. “Nah, ini artinya kita jangan main-main, sudah dapat penghargaan itu, harus lebih hati-hati,” papar Sanem.

Dana itu, dalam petunjuk pelaksana (Juklak) ditujukan sebagai upaya pencegahan penyebaran Covid-19, pengobatan dan pemulihan ekonomi. “Kita yang utama tetap upaya pencegahan ini,” ujarnya.

Selanjutnya tambah Sanem, apabila ada pemilih yang datang ke TPS, dengan suhu tubuh yang cukup tinggi, maka yang bersangkutan tidak bisa melakukan pencoblosan. “Tidak bisa milih, ya jadi suara mereka gugur karena Covid-19 lah,” pungkasnya. (dod)