PLTU Mempaya Kembali Beroperasi

by -

*Setelah Sempat Terkendala Bahan Bakar

MANGGAR – Sempat terhenti beberapa waktu karena kekurangan bahan bakar, PLTU Mempaya kembali beroperasi. Kekurangan bahan bakar selama ini, diantisipasi dengan membeli kayu dari masyarakat. Hal tersebut diungkapkan Plt Kepala Dinas Pertambangan dan Energi (DPE) Kabupaten Beltim, Harli Agusta saat ditemui Belitong Ekspres, di ruang kerjanya, Kamis (13/8) kemarin.

“Sudah beroperasi sejak 2 minggu berjalan.┬áKami juga dikabari oleh Kacab PLN Tanjung Pandan, pak Donny. Cuma tetap ada kendala karena bahan bakar kayu yang diperoleh dari masyarakat masih terkendala perizinan dari SKPD terkait,” ungkap Harli kepada Belitong Ekspres.

Sejak dibangun tahun 2011, PLTU Mempaya memang terkendala pasokan bahan bakar. Rencana semula, PLTU berkapasitas 2×7 megawatt, akan memanfaatkan kayu milik masyarakat melalui penanaman jenis kayu tertentu.

“Kapasitasnya 2×7 megawatt, tapi riil hanya 1×7 megawatt. Mereka hanya membangkitkan 2 megawatt dan didistribusikan untuk wilayah Manggar,” jelasnya.

Menurut Harli, kebutuhan energi listrik di wilayah Beltim masih disuplai beberapa pembangkit. Di antaranya, PLTD Pilang kapasitas 22 megawatt, PLTD Manggar 9 megawatt dan PLTBiogas 1,2 megawatt.

“Untuk pasokan listrik yang dihasilkan PLT Biogas Jangkang, paling stabil. Karena tidak ada kendala bahan bakar. Masyarakat disana (Kecamatan Simpang Pesak dan Dendang) sejauh ini menikmati listrik yang cukup,” sebut Harli.

Belitong Ekspres pun sempat menghubungi Kepala Cabang PLN Tanjung Pandan, Donny Alamsyah, yang membenarkan jika PLTU Mempayak Beltim kini sudah kembali beroperasi.

“Sudah, sejak beberapa minggu lalu, karena sebelumnya sempat terhenti karena pasokan bahan bakar, dan kini sudah beroperasi kembali,” kata Donny saat dihubungi Kamis (13/8) kemarin.

Sementara itu, Kepala Bidang Kehutanan pada Dinas Pertanian dan Kehutanan (Distanhut) Kabupaten Beltim, Hendani menjelaskan pemanfaatan kayu untuk bahan bakar PLTU Mempaya tidak bermasalah selama pengangkutan kayu sesuai Peraturan Menteri Kehutanan. Disyaratkan, ada kayu yang boleh diangkut setelah keluar nota dan ada kayu yang boleh diangkut setelah diterbitkan SKAU (Surat Keterangan Asal Usul).

“Dalam Permenhut jelas diatur, ada kayu yang cukup dengan dibuat nota oleh pemilik atau pembeli kayu. Misalnya kayu kemiri, nangka, rambutan, duku dan cempedak. Tetapi ada jenis kayu yang harus terbit SKAU seperti kayu meranti, nyato, jati, belanger yang masuk kelas tinggi,” ujar Hendani.

Menurutnya, SKAU diterbitkan petugas di desa yang telah dilatih oleh SKPD. Melalui petugas penerbit SKAU, kayu yang akan diangkut harus diperiksa terlebih dahulu.

“Petugas akan mengecek terlebih dahulu. Benar atau tidak asal kayu apakah dari kawasan hutan atau memang tanaman masyarakat. Kemudian baru dikeluarkan SKAU agar bisa diangkut,” tandasnya. (feb)