Politik Baliho

0leh: Bambang Suherly, S.Ikom

belitongekspres.co.id, Media salah satu kampanye pemilihan legislatif (pileg) yang dianggap efektif di tengah masyarakat. Dengan adanya baliho, pesan bisa sampai ke publik.

iklan swissbell

Baliho dipasang agar diketahui masyarakat yang diharapkan berisi pesan singkat, jelas, dan terbuka. Bak iklan apa pun. Itulah baliho.

Memang, tak banyak pesan yang dapat disampaikan melalui baliho. Kalau baliho berukuran besar, ada ruang untuk merangkai kata kata atau kalimat yang edukatif, mengajak untuk mendukung dan memilih sang calon.

Ada juga berisi pesan mohon doa dan dukungan diakhiri dengan kata jangan lupa coblos. Jika baliho ukuran kecil, dipastikan pesannya singkat saja.

Sangat tergantung sang calon, kata apa yang mau dituangkan di lembaran baliho. Bisa berisi ajakan yang edukatif, progresif, dan provokatif.

Sesungguhnya, baliho dipasang menjelang kampanye, dan ia merupakan bagian dari strategi pemenangan, maka narasi-narasi yang tertera di baliho bagian dari mengedukasi publik. Dengan harapan elektabilitas naik.

Bagi politisi (caleg) incumbent, baliho itu sangat penting, untuk mengingatkan para pemilih dan pendukung setia untuk terus memilihnya di TPS (tempat pemungutan suara).

Baca Juga:  Merevolusi Mental Guru

Memang sumpek melihat baliho di sepanjang jalan kota dan kampung, tempat-tempat strategis lalu lintas warga, akan tetapi dengan adanya “gerakan” pasang baliho, rakyat bisa melihat, membaca dan menilai calon-calon yang ada dari sisi kata atau kalimat yang ada di baliho.

Menurut hemat saya, baliho dipasang hendaknya dilihat dari sisi strategi pemenangan. Dengan baliho, diharapkan calon makin dikenal secara gambar, dan dalam kerja politik hal itu belum paripurna, harus tetap diikuti langkah dan aksi tatap muka dengan warga oleh sang calon.

Sesungguhnya dalam panggung politik praktis, fungsi komunikasi lebih diutamakan. Politik baliho adalah politik sugestif. Dengan baliho, seseorang calon selain mengenalkan diri di tengah warga, juga mengajak warga mendukung dan memilih dirinya.

Kalaulah ingin mengetahui lebih dalam komitmen, visi, misi dan program/janji politik seorang calon, maka bisa dituangkan dalam brosur, pamflet, kontrak politik dan lain sebagainya.

Baca Juga:  Belajar Dari Kepemimpinan Nabi Muhammad SAW

Dan bagi saya, kegiatan politik lewat tatap muka ketemu warga masyarakat, sesungguhnya jauh lebih menyentuh dan memiliki ikatan emosional.

Dan kedua metode di atas, sama-sama urgen dalam strategi pemenangan pemilu. Sekalipun sebagian pihak menilai, kedua aksi tersebut ada kelebihan dan kelemahannya.

Pilpres, termasuk pileg 2019 merupakan agenda demokrasi yang harus kita sambut dengan ceria dan gembira. Baliho sebagai salah satu media kampanye hendaklah disambut dengan budaya politik yang dewasa, bukan sebaliknya, saling merusak baliho antar sesama caleg. Sesungguhnya hal demikian kurang cerdas.

Semoga, politik baliho secara tak langsung bisa mengedukasi publik dalam menyeleksi caleg yang bertarung di Pileg 2019.

Dengan gerakan memasang baliho, —–lebih keren politik baliho—, kerja politik lebih terukur dan terarah. Mari berpolitik secara santun lewat baliho.

Bahwa dengan media luar ruang seperti baliho ini diharapkan bisa mengenalkan diri di tengah warga, juga secara tak langsung tingkat popularitas dan elektabilitas bisa melambung. Semoga. *

Rate this article!
Politik Baliho,5 / 5 ( 1votes )
Tags:
author

Author: 

Leave a Reply