Polres Belitung Amankan Dua Pengerit Tangki Modifikasi

by -
Polres Belitung Amankan Dua Pengerit Tangki Modifikasi
Kedua pelaku diduga pengerit beserta barang bukti saat diamankan Polres Belitung, Kamis (23/1). Foto : Dok Polres Belitung. Foto BE.

Berasal dari SPBU Air Merbau?

belitongekspres.co.id, TANJUNGPANDAN – Dua orang terduga pengerit berinisial HN (37) dan MO (37), diamankan jajaran Satreskrim Polres Belitung, karena menggunakan mobil dengan tangki modifikasi. Warga Desa Buluh Tumbang yang membawa BBM jenis premium di dalam tangki yang sudah dimodifikasi khusus, Kamis (23/1/2020) sekira pukul 11.00 WIB.

Penangkapan berawal ketika polisi menjalankan patroli rutin di seputaran Tanjungpandan, kemudian melihat dan merasa curiga terhadap kedua mobil Toyota Kijang. Lalu polisi membuntuti keduanya dan memberhentikan kedua mobil itu ketika melintas di jalan Jendral Sudirman Desa Buluh Tumbang, yang berjalan beiringan.

Jajaran Satreskrim Polres Belitung langsung menggeledah kedua mobil ini. Dalam mobil yang dikendarai HN polisi mendapati tangki besi berukuran 155 cm x 105 cm x 53 cm, dengan isi volume 400 liter BBM premium. Sedangkan dalam mobil MO didapati tangki besi berukuran 145 cm X 100 cm X 44 cm, berisi 300 liter BBM jenis premium.

“Menurut keterangan pelaku BBM jenis premium itu berasal dari SPBU di Air Merbau dan akan dibongkar di rumah mereka,” ungkap KBO Reskrim, Satreskrim Polres Belitung Ipda M Fadhillah Makhbul kepada belitongekspres.co.id, Senin (27/1/2020).

Sebagai barang bukti, polisi mengamankan 1 unit mobil minibus merek Toyota type Kijang Standart warna hijau dengan nomor polisi BN 1795 XN beserta tangki modifikasi. Dan 1 unit mobil minibus merek Toyota type Kijang Standart warna hijau kombinasi warna abu – abu dengan nomor polisi BN 1286 XL beserta tangki.

“Untuk pelaku belum kita lakukan penahanan, namun mereka wajib lapor. Sedangkan untuk tindaklanjutnya kami akan berkoordinasi dengan BPH Migas sebagai ahli dan pihak SPBU serta melakukan pemanggilan terhadap saksi,” kata Ipada Makhbul.

Lebih lanjut kata Makhbul, penyidik akan menerapkan premier Pasal 55 subsider Pasal 53 huruf b Undang-Undang RI Nomor 22 Tahun 2001 Tentang Minyak dan Gas Bumi. “Dengan ancaman maksimal 6 tahun penjara,” pungkasnya. (fg6)

Editor: Yudiansyah