Prof Ahman Ingatkan Stake Holder Pariwisata

by -

*Potensi Alam Hanya 30%, Potensi Budaya Justru 60%

foto B- utk HL open

Foto B: ade/be
Prof Ahman (kiri) saat menerima cinderamata dari Ketua Yayasan PTK Krida Wacana Gideon Wobowo.

TANJUNGPANDAN-Apa yang disampaikan Deputi Bidang Pengembangan Kelembagaan Kepariwisataan Kementerian Pariwisata Republik Indonesia, Prof Dr HM Ahman Sya di Seminar pada forum Ukrida National Conference, di BW Suite, Kamis (3/9) kemarin,  pantas digarisbawahi bagi stake holder pariwisata di Pulau Belitong. Sebab, dia meningatkan, pembangunan pariwisata tak bisa hanya mengandalkan keindahan alam.
Menurut Prof Ahman,  faktor pendukung sektor pariwisata dari aspek keindahan alam (landscape) hanya menyumbang 30 persen.  Dan, yang paling besar pengaruhnya untuk mendukung sektor ini justru pada faktor budaya yang mencapai 60 persen. “Meski faktor keindangan alam seperti pantai menjadi daya tarik, namun hanya menyumbang angka 20 hingga 30 persen saja,’’ paparnya di hadapan civitas akademika Ukrida dan peserta Konferensi yang dihadiri perwakilan perguruan tinggi negeri dan swasta di seluruh Indonesia, termasuk perwakilan Kopertis (Koordinator Perguruan Tinggi Swasta).
Ia menyebut, potensi parwisista Indonesia luar biasa, seperti potensi budaya dan keindahan alam Indonesia. Sebab, jika dinilai dalam sistem grading A-D, maka nilainya A, bahkan A+. Sayangnya, untuk kunjungan turis, khususnya turis mancanegara nilainya masih C. “Itu artinya masih banyak yang perlu dikembangkan untuk meraih peningkatan jumlah kunjungan turis khususnya mancanegara. ,’’ tukasnya.
Dijelaskan, berdasar data dari Kementerian Pariwisata, jumlah kunjungan turis  mancanegara tahun 2014 Indonesia sekitar 9 juta, sedangkan Malaysia sudah mencapai 27,4 juta. “Jadi kalo kita capai 20 juta di tahun 2019 masih kalah dengan Malaysia. Tapi memang potensi yang A+ belum diberdayakan sehingga masih rendah angkanya,’’ terangnya.
Untuk bisa mencapai hasil maksimal, dia mengingatkan sejumlah hal penting yang harus diperhatikan stake holder pariwisata, seperti masalah infrastuktur. “Harus bahu membahu, sungguh-sungguh dan bersatu untuk mencapai target kunjungan turis. Sebab, ini adalah tugas bersama,’’ katanya.
Sementara itu, Ketua Dewan Pertimbangan Presiden RI Prof Sri Adiningsih memaparkan banyak hal tentang potret ekonomi Indonesia saat ini. Dengan kondisi ekonomi yang pertumbuhannya mengalami trend menurun belakangan ini, harus dilakukan kebijakan-kebijakan strategis. “Rata-rat di hampir semua daerah menurun pertumbunannya ekonominya, kecuali beberapa daerah yang memiliki sumber daya alam baik dengan dukungan komitmen pemerintah yang tinggi,’’ urainya.
Menurut Prof Adiningsih, untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi sekarang ini, daerah-daerah tak bisa mengandalkan potensi minyak dan gas. Jadi, dibutuhkan sumber-sumber ekonomi lainnya yang bisa menjadi pendorong ekonomi baru.
“Seperti Belitung ini dengan posisi strategis berhadapan langsung dengan Malaysia, harus bisa mencari sumber ekonomi baru dari sektor pariwisata dan ekonomi kreatif,’’ ungkap Prof Adiningsih sembari mengingatkan pentingnya antisipasi MEA dengan potensi persaingan di berbagai bidang, termasuk sumber daya manusianya.
Dikatakan, hampir semua orang dari berbagai kelas sosial ekonomi, saat ini dan ke depan membutuhkan wisata. “Sekarang pembantu saja kalo pulang pasti juga akan berwisata, termasuk wisata kuliner. Jadi besar sekali potensi pariwiasta ini,’’ ungkapnya optimis.
Presdir PT Galva Oki Widjaya, Bsc Hons, lebih banyak menyampaikan tentang potensi ekonomi kreatif yang masih terbuka luas. Pemanfaatan teknologi informasi, lanjut Oki, juga bisa dijadikan jalan efektif dalam rangka mengembangkan pariwisata dan ekonomi kreatif. “Kreatifitas harus diciptakan,’’ tukasnya.
Nara sumber lain, Kepala Departemen Ekonomi Universitas Padjajaran Dr Kodrat Wibowo SE MSc, lebih banyak memaparkan tentang hasil penelitian seputar parwisata dan sumber daya manusia di wilayah Jawa Barat. Disebutkan, banyak sekali sub sektor pariwisata yang ikut andil dalam sektor ini. “Hampir semua bidang di masyarakat masuk dalam sub sektor pariwisata,’’ katanta.(ade/be)