Program Yuk Belajar Jadi Prioritas Bupati Beltim Terpilih

by -
Program Yuk Belajar Jadi Prioritas Bupati Beltim Terpilih
Wakil Bupati Beltim, Burhanudin.

belitongekspres.co.id, MANGGAR – Rata-rata lama sekolah di Belitung Timur (Beltim) tahun 2020 berdasarkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yakni 8,22 tahun atau meningkat 0,07 tahun bila dibandingkan tahun 2019 yang hanya 8,15 tahun. Namun, secara umum peningkatan ini masih jauh dari harapan jika mengacu pada wajib belajar 12 tahun yang dicanangkan Pemerintah.

Tidak tercapainya angka rata-rata sekolah sebagaimana wajib belajar 12 tahun menjadi prioritas yang akan dientaskan Bupati terpilih Kabupaten Beltim, Burhanudin. Dalam debat terakhir yang digelar KPU di masa kampanye, Burhanudin menyatakan salah satu visi misi mereka adalah Program Yuk Belajar.

“Ini (Program Yuk Sekolah) dalam rangka kita untuk mengantisipasi anak-anak kita yang DO atau drop out dari sekolah dikarenakan masalah pembiayaan. Alasan, tidak punya seragam, tidak punya buku, ditambah sekarang alasan tidak punya hp android membuat anak tidak sekolah,” ungkap Burhanudin kepada Belitong Ekspres, Selasa (2/9).

Berbicara dalam kapasitas sebagai Wakil Bupati Beltim, Burhanudin tentu sudah paham situasi pendidikan generasi muda sekarang ini. Ia tidak ragu mengakui bahwa alasan-alasan meninggalkan bangku sekolah adalah cerminan terburuk dunia pendidikan di masyarakat maupun Pemerintahan sebagai urusan wajib.

“Ini harus kita tuntaskan, jangan sampai karena masalah-masalah yang sepele, masa depan anak kita terkubur dalam hayalan tak terwujud. Kita membutuhkan generasi muda yang lebih baik kedepan, diimbangi dengan tingkat pendidikan yang baik. Sehebat apapun banyak uang, tetap ditanya orang pendidikannya apa,” ungkapnya.

Menurut Wabup yang akrab disapa Aan, Program Yuk Sekolah merupakan program yang disiapkan di luar sekolah formal. Tentu saja diperlukan kajian-kajian oleh Dinas Pendidikan sebagai leading sektor urusan wajib bidang pendidikan.

“Kita minta dinas (Dindik) untuk mempertegas dan mengkaji ulang program pendidikan luar sekolah. Agar anak-anak kita dapat mengikuti pendidikan melalui paket A, paket B dan paket C, tetapi cara mereka bersekolah jangan dipaksakan seperti sekolah formal,” ujar Aan.

Oleh karena itu, Aan menginginkan anak-anak kembali sekolah dengan suasana nyaman tetapi bukan berarti masuk kelas. Sebab, anak-anak putus sekolah sudah lama meninggalkan bangku sekolah.

“Kalau dia nelayan, kita belajar di tepi pantai, kalau dia di warkop kita nongkrong di warkop yang penting informasi pengetahuan dan transformasi ilmu bisa dilaksanakan di berbagai tempat. Tujuannya tercapai, anak mau sekolah dan mereka bisa lulus dengan baik,” tukasnya.

Aan menambahkan, persoalan anak putus sekolah maupun meningkatkan rata-rata lama sekolah harus menjadi perhatian serius bagi semua orang, Pemda dan tidak bisa hanya diserahkan ke Dinas Pendidikan.

“Harus semua pihak. Ada fungsi lain sosial, masyarakat dan pemerintah untuk memperhatikan secara serius generasi muda kedepan. Jangan sampai kampung kita tertinggal dari sektor pendidkan,” tutupnya. (msi)