PT BIR Dilaporkan ke Dinsosnaker

by -

    PANGKALPINANG – PT Bintang Indomas Raya (BIR) yang bergerak dibidang distributor minuman diadukan 6 karyawannya ke Dinas Sosial dan Tenaga Kerja (Dinsosnaker) Kota Pangkalpinang. Kedatangan AS, selaku Supervisor dan 5 orang timnya, Nv, KS, IP, MY dan Hn untuk meminta keadilan.
    Mereka meminta agar Dinsosnaker menjebatani permasalahan yang mereka hadapi. Pasalnya menurut mereka, perusahaan yang berada di kawasan Baciang, Bukit Intan Pangkalpinang itu telah berlaku semena-mena terhadap mereka, tanpa kesalahan yang jelas.
    “Kami seperti dibuang tanpa kesalahan. Kami dimutasi tidak jelas lalu dinonaktifkan begitu saja dan pekerjaan kami digantikan orang lain,” ujar AS, usai pertemuan dengan pihak perusahaan dan Dinsosnaker, Kamis (18/6) kemarin.
    Ia membeberkan kronologis permasalahan yang menimpa mereka. Menurutnya, permasalahan berawal pada tanggal 15 Mei lalu, mereka tidak masuk kerja sehari. Atas hal itu, keesokan harinya pihak perusahaan menonaktifkan mereka begitu saja. Parahnya, mereka tidak diperbolehkan untuk bekerja lagi. Bahkan dihadang saat hendak masuk kerja.
    “Cuma tidak masuk sehari, kami langsung dinonaktifkan, tanpa surat peringatan atau pemberitahuan apapun. Kami dilarang bekerja, dihadang saat masuk kantor, kami malah dianggap seperti tamu,” jelas AS.
    Tak hanya itu saja, berselang beberapa hari diterimanya kabar penonaktifan itu, pihak perusahaan telah membawa karyawan baru untuk menggantikan posisi mereka tanpa pemberitahuan sama sekali. “Pekerjaan kami langsung digantikan oleh perusahaan. Mereka juga merekrut karyawan baru untuk menggantikan kami, padahal kami sama sekali belum diberhentikan secara resmi,” paparnya.
    Enam hari selanjutnya, ke-6 karyawan ini langsung disodorkan surat mutasi. Mutasi itu dinilai Agun tidak sesuai prosedur. Katanya, mereka dimutasi ke Palembang. Anehnya lagi, surat mutasi itu hanya ditunjukkan saja. “Kami dimutasi ke Palembang, yang bukan PT BIR, tetapi PT Bintang Sriwijaya. Artinya kami diberhentikan dari satu perusahaan dan dimasukan ke perusahaan lain, bukan dimutasi. Surat mutasi itu juga tidak diberikan hanya ditunjukkan saja. Kalau bersedia tandatangan, kalau tidak suratnya tidak diberikan. Kami seolah dipaksa keluar dari perusahaan dengan cara yang kejam,” urainya.
    Atas tindakan itu, mereka meminta Dinsosnaker untuk memberikan jalan terbaik kepada mereka. Disatu sisi perusahaan sudah membuang mereka dengan cara yang tidak prosedur. “Mungkin perusahaan ingin menyingkirkan kami tanpa mau mengeluarkan pesangon. Mau memecat tapi takut, jadi menggunakan cara seperti ini,” ungkapnya.
    Ia mengaku pertemuan ini merupakan kedua kalinya. Dinsosnaker sebelumnya sudah melakukan mediasi pertama pada 11 Juni lalu. Ia berharap Dinsosnaker memberikan pelayanan sebaik-baiknya agar mereka mendapatkan keadilan. Perusahaan dianggap sudah melakukan pelanggaran ketenagakerjaan.
    “Sudah dua kali pertemuan, tetapi perusahaan berkelit-kelit. Tadi (kemarin-red), perusahaan mencabut mutasi itu, mereka ingin kami bekerja kembali, tapi pekerjaan kami sudah digantikan orang lain. Itukan sama saja mempermainkan karyawan. Sekarang kami menuntut hak kami, pesangon dan sebagainya,” ujarnya.
    Sementara Kepala Dinsosnaker, Mikron Antariksa mengaku masih akan melakukan mediasi ketiga untuk mencari titik terang dari permasalahan ini. Pihaknya masih harus mengambil keterangan semua pihak yang kemudian mencari solusi terbaik.  “Kita hanya menjembatani saja. Yang jelas masih ada pertemuan selanjutnya, baru kkita akan menentukan langkah. Kemungkinan akan mengeluarkan anjuran kepada perusahaan terkait pesangon yang harus dibayarkan perusahaan,” tandasnya. (tya)