Raja Terdahulu Ternyata Gandeng Penggawe Adat

by -
foto-kik-sakri-copy
Kik Sakri

DENDANG – Mempelajari sejarah sangat dibutuhkan agar dapat belajar dari apa yang sudah terjadi dan dilalui oleh para pendahulu. Merunut dari sejarah Kerajaan Balok yang dulu sempat berjaya di tanah Belitong dan runtuh pada tahun 1873 karena diduduki oleh Belanda, kerajaan yang bercorak Islam ini memiliki kiat sukses dalam menyebarkan agama Islam dan mempertahankan takhta.

Menurut pemandu situs Kerajaan Balok, Kik Sakri, dulu orang berebutan untuk belajar agama dan ditampung lewat dukun. Begitulah cerita beliau tentang suksesnya Raja-Raja terdahulu dapat berjaya dengan menggandeng lembaga adat. “Dulu orang percayanya dengan dukun. Kalau dukun bilang iya, orang pasti nurut. Kalau tidak, ya tidak. Sampai sekarang pun untuk pemilihan gubernur, dukun itu tidak bisa dilupakan,” ujarnya.

Sehubungan dengan pelaksanaan adat tradisional Belitung sejak awal telah dibentuk sistem kelembagaan adat yang memiliki fungsi pelaksanaan, pengawasan dan pembinaan adat. Sistem kelembagaan adat yang bersifat otorisatif dan turun temurun ini dijalankan oleh 2 kewenangan yang bersifat sosio cultural di serahkan kepada penggawe adat yang yang dikepalai oleh dukun kampong dan yang bersifat administratif diserahkan kepada ngabehi sebagai wakil depati membawahi juga lurah.

“Namun pada kenyataannya, wewenang sosio cultural lah yang paling banyak difungsikan karena beberapa hal yaitu 1 adat lebih dulu ada dan berkembang di dalam masyarakat dibanding pola pikir maupun agama, sehingga wajar jika dalam kehidupan sehari-hari masyarakat, adat lah yang paling banyak memberikan warna pengaruh, dan paling dipatuhi oleh masyarakat,” tutur Kik Sakri.

Lebih lanjut Kik Sakri menjelaskan, penggawe adat atau perangkat adat sebagai lembaga penanggungjawab adat tradisi dari 5 unsur yang ada dalam masyarakat di suatu daerah yaitu dukun kampong, lurah, penghulu, lebai, pengguling. Masing-masing unsur dalam penggawe adat ini memiliki wilayah kewenangan sendiri-sendiri dalam menjaga keselamatan dan ketentraman masyarakat desa dimana mereka tinggal.

“Setiap kampong, desa, atau dusun selalu memiliki dukun kampong yang menjalankan fungsi pokok sebagai tabib dan penjaga kelestarian hutan. Sebagai tabib, masyarakat menanyakan berbagai hal tentang penyakit dan penyembuhannya. Tempat bertanya, meminta izin, petunjuk, penentu persyaratan segala aktifitas yang berkaitan dengan hutan, air dan gunung sebagai sumber kehidupan,” ungkap Kik Sakri.

Untuk itu, dukun kampong harus diberi tahu supaya bisa menjamin aktifitas yang berkenaan dengan pemanfaatan hutan bisa dilakukan sesuai dengan aturan adat dan menjalankan tugas dukun dibantu oleh dukun mudak. Selain dukun kampong terdapat dukun-dukun lain sesuai dengan fungsinya dalam mengatur hubungan antar manusia dan alam. Misalnya dukun aik, angin, buaya, patah tulang, sakit gigi, dan lain-lain.

Dalam perkembangannya di kenal 2 kelompok dukun yang saling berseberangan. 1 dukun kampong sastra malaikat yang berazaskan ajaran agama islam, dukun kampong sastra guru yakni dukun kampong yang menggunakan adat tradisional turun-temurun yakni berupa mantera-mantera dan ritual animisme.

“Yang kedua Lurah. Lurah merupakan wakil depati selaku penguasa atau pemerintah. Karenanya lurah berfungsi atau bertugas mengurus bidang administrasi pemerintah. Jadi tidak boleh ikut campur urusan dukun kampong. Ada fungsinya masing-masing,” kata Kik Sakri.

Meski menjadi wakil penguasa dan ditunjuk oleh penguasa langsung, seorang lurah dituntut untuk memiliki kepribadian yang bersahaja, baik, dan jujur. Sebab jika tidak kepatuhan masyarakat adalah hal yang sulit didapatkan terlebih di dalam masyarakat peran dukun kampong masih sangat mendominasi dan lebih dipercaya.

“Yang ketiga penghulu. Penghulu adalah orang yang menjalankan fungsi ulama terutama yang berkeyakinan dengan urusan ritual yang menyangkut keagamaan. Misalnya perkawinan, penghulu diangkat berdasarkan seorang penggawe adat dan orang-orang yang dituakan masyarakat setempat berdasarkan kapasitas pengetahuan dan pengamalan agama,” jelas Kik Sakri.

“Yang keempat Lebai. Hampir sama dengan penghulu yakni mengurusi bidang keagamaan namun tugas lebai lebih simple yakni hanya menangani urusan kemasyarakatan dan membaca doa sejak orang baru meninggal dan dimakamkan, sebagai pembaca doa setiap hajatan, acara syukuran, bilang hari, dan peringatan hari-hari tertentu,” terang Kik Sakri.

“Yang terakhir pengguling. Tapi kini berangsur-angsur tidak dilirik orang karena telah adanya ilmu kebidanan dan masyarakat lebih memilih pergi ke Rumah Sakit,” ujar Kik Sakri.(mg3)