Rakyat, Kemana Suaramu Nanti?

by -
Rakyat, Kemana Suaramu Nanti?
Syahril Sahidir, CEO Belitong Ekspres Grup.

Oleh: Syahril Sahidir
CEO Belitong Ekspres Grup

SATU hal yang pasti, setiap calon yang siap bertarung dalam Pilkada, adalah adanya keyakinan akan menang. Sehingga wajar jika sang kandidat rela dan siap melakukan apapun guna membuktikan keyakinannya.

SURVEY senetral dan se-independent apapun kadang tidak dipercayai dan bahkan dicurigai dibiayai kandidat lawan, ketika hasilnya menempatkan sang calon pada posisi kalah. Sebaliknya, survey abal-abal sekalipun, akan sangat diyakini ketika menempatkan dia sebagai pemenang.

Sekali lagi, ini karena keyakinan yang sesungguhnya bukan berasal dari hati nurani, tapi justru didorong syahwat kekuasaan yang kadang sudah mengalahkan kata hati yang tidak bisa berdusta.

Dari sinilah sebenarnya, seorang Calon Bupati/Calon Wakil Bupati (cabup/Cawabup) yang berkeinginan keras bertarung di Pilkada jangan hanya bertolak dari dorongan syahwat politik, tapi harus bertolak juga dari akal sehat. Cabup/Cawabup jangan hanya mendengar kata orang sekitar yang kadang hanya akan bersuara dengan kata yang enak didengar, padahal jauh dari fakta yang sesungguhnya. Tidak ada salahnya Cabup/Cawabup sekali-kali mempelajari hasil survey yang benar-benar independent atau survey kandidat lain yang independent sebagai bahan pertimbangan.

Intinya, jangan sampai syahwat mengalahkan akal sehat.

*

INGATLAH, pada akhirnya, dengan sistem Pilkada langsung sekarang ini, rakyat menjadi penentu. Dengan Pilkada langsung ini, rakyat bisa balas jasa seorang pemimpin atau calon pemimpinnya dalam diam, dalam senyum, dalam tawa, atau dalam duka. Sekalian juga bisa balas dendam atas kekecewaan atas fakta yang telah diperbuat oleh sang calon, meski dalam diam.

Diakui memang, euforia pemilihan langsung sudah mengesankan bahwa suara rakyat bisa dibeli, dipengaruhi, dibujuk, dan ditukar dengan cendera mata segala macam bentuk. Tapi, ingatlah. Rakyat adalah manusia yang punya hati nurani. Sehebat apapun seorang calon pemimpin atau pemimpin mempengaruhi bahkan hingga ke tahap cuci otak sekalipun, pada akhirnya rakyat punya kesempatan untuk merenung, memikirkan, hingga memutuskan siapa yang dinilai layak dan dinilai patut memimpin 5 tahun ke depan.

Di sisi lain, Cabup/Cawabup benar-benar harus paham akan makna popularitas dan elektabilitas.
Seorang calon bisa jadi demikian dikenal dan terkenal atau populer. Tapi belum tentu dipilih (elektabilitas).
Misalnya ada pertanyaan, apakah anda mengenal si Polan?
Dijawab responden: Kenal.

Jika si Polan mencalonkan diri menjadi Cabup atau Cawabup di daerah Anda, apakah Anda akan memilihnya?
Disini kadang jawaban respon di luar dugaan. Karena ini menyangkut track record si Polan.

Jadi jelas, untuk Cabup/Cawabup, populer dan dikenal banyak orang atau rakyat, adalah keharusan.
Tapi, tingkat keterpilihan dalam artian akan dipilih atau tidak, harus diperjuangkan.

*

PARA politisi terkadang tidak sadar, bahwa apa yang telah mereka perbuat mengecewakan rakyat. Salahnya rakyat kenapa tidak bersuara kalau hati sudah terluka. Sehingga ketika Pilkada rakyat jadi berbalik arah. Rakyat kadang tak segan, di depan muka senyum sumringah, balik badan lain bicara. maklum hati sudah terlanjur kecewa.

Di sisi lain, di sinilah kadang jahatnya politik itu. Orang yang sebelumnya jujur, lurus, bisa jadi berbalik ketika menjadi politisi. Tidak sedikit diantaranya menjadi terjebak dalam permainan orang-orang sekitar. Niat suci dan luhur jika terpilih akan berbuat maksimal untuk kepentingan rakyat, malah terjebak hanya untuk kepentingan partai, golongan, kelompok, bahkan kepentingan keluarga dan teman-teman.

Joseph Alois Schumpeter seorang ekonom Amerika-Austria dan ilmuwan politik menyatakan: Ketika politik mengajarkan bahwa tugas politikus sesungguhnya melaksanakan kehendak rakyat. Namun, yang terjadi mereka hanya mementingkan dirinya sendiri.
Lalu, Hitler tokoh Nazi menyatakan: Beruntunglah penguasa bila rakyatnya tidak bisa berpikir.
Kekalahan itu gelap dan tak ada laron yang mengerubungi kegelapan. Demikian dikemukakan politikus Indonesia, Burhanuddin Muhtadi.

Tokoh militer dan negarawan Perancis, Charles André Joseph Marie de Gaulle, menyatakan: Politisi tidak pernah percaya atas ucapannya sendiri. Mereka justru terkejut bila rakyat memercayainya.
Politik itu memang hanya punya pintu masuk, tapi tak punya pintu keluar.
Tapi begitu banyak yang menikmati meski terjebak di dalamnya?*