Ratusan Batu Akik Terhampar di Kantor Gubernur

by -

PANGKALPINANG – Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Bangka Belitung (Babel) menggelar pameran produk kerajinan batu khas Babel di pintu masuk perkantoran Gubernur Babel.
“Karena saat ini penggemar batu sedang marak, jadi kita gelar pameran ini.Tujuan kita hanyalah untuk memperkenalkan produk khas hasil Bangka Belitung,” ujar Kepala Disperindag Babel, Yulizwan, Kamis (12/3) kemarin.
Ia menjelaskan, pameran batu khas Babel ini diikuti 20 stand dari para pengrajin yang tersebar se Babel. Jenis batu dan harga yang dipamer pun bervariasi dari puluhan ribu sampai jutaan rupiah. “Pengrajin batu ini kita fasilitasi tanpa biaya apapun, bahkan mereka kita berikan konsumsi dan uang transportasi. Untuk tahap awal ini memang kita gelar disini, kedepan nanti baru kita usahakan ditempat-tempat strategis,” tegasnya.
Sementara Amrullah, Plh Sekretaris Daerah (Sekda) Babel mengatakan tidak mengetahui izin gelar produk batu yang diselenggarakan oleh Disperindag Babel ini. “Saya tidak mengetahui gelar produk itu izin dari siapa, saat Saya keluar, sudah ada pameran itu, dan mungkin izinnya dari Biro umum. Meski demikian, kita tanggapi dari sisi positif saja karena sebetulnya standnya itu disebelah halaman parkir mobil perkantoran Gubernur,” terangnya.
Saat disinggung apakah pameran batu khas Babel tersebut dapat mengganggu rutinitas kerja pegawai, menurut Amrullah, meski saat jam kerja, ini sama sekali tidak mengganggu kerja pegawai karena mereka bergantian melihat pameran ini.
“Pameran itu tidak akan mengganggu kinerja pegawai karena mereka melihatnya berganti-ganti, termasuk saya juga penggemar batu akik,” imbuhnya.
Kehadiran puluhan stand pameran batu akik di kantor gubernur menarik minat para Pegawai Negeri Sipil (PNS) Pemprov. Eki Pranata, salah satu pengrajin batu yang mengisi stand pameran batu akik ini mengatakan, pihaknya ikut dalam pameran ini karena mendaftarkan diri di Disperindag Babel. “Daftarnya gratis tanpa biaya, malah kita dikasih konsumsi dan transportasi, selama 2 hari ini mungkin transportnya dapat Rp 300 ribu,” bebernya.
Selama menjadi pengrajin batu akik, Eki mengakui di setiap minggu omsetnya mencapai Rp 15 juta dan omset bersih mencapai Rp 10 juta. “Saya jual batu sengaja mulai trend satu tahun ini, dari trotoar satu ke trotoar lain, pindah-pindah dan omset seminggu dapat Rp 15 juta, bersihnya Rp 10 juta,” lanjutnya.
Ditambahkan Eki, ia sudah sering mengikuti pameran batu di kantor Samsat Sungailiat, di event Babel Expo beberapa pekan lalu dan pameran di Kampung tengah. “Saya sudah sering ikut pameran, dan jenis batu yang kita tawarkan dari batu permata sampai batu akik dari berbagai daerah, harganya bervariasi dari puluhan ribu sampai jutaan rupiah. Kita harap pameran seperti sering digelar Pemerintah, karena selain bantu Pemerintah menonjolkan khas daerah, Pemerintah juga bantu ekonomi kita,” tambahnya.
Rudi, pengunjung pameran batu akik mengakui memang dirinya penggemar batu akik, dan adanya pameran seperti ini menurutnya dapat membantu Pemerintah mempromosikan produk khas Babel. “Karena saya penggemar batu, saya senang lihat pameran ini, walau letaknya di kantor gubernur, ini sama sekali tidak mengganggu kerjaan kita, karena kita berkunjung juga jam istirahat,” tandasnya. (eza)