Rekonstruksi Tewasnya Hendi Pratama JE Otak Pembunuhan

by -
Adegan Rambut Korban Dijambak dan Leher Korban Dicekik.
Adegan Rambut Korban Dijambak dan Leher Korban Dicekik.

Rekonstruksi dugaan tindak pidana pembunuhan Hendi Pratama (25) telah selesai dilaksanakan kemarin (2/5) di tempat kejadian perkara (TKP), Jalan Lumba-Lumba kawasan Hutan dekat Stadion Depati Amir.
DARI 21 adegan yang dilaksanakan 1,5 jam, tampak jelas bagaimana peristiwa pembunuhan terjadi.  Adegan sendiri diperankan DE (13) dan AL (15) langsung, sedangkan JE dan Hendi diperankan oleh pemeran pengganti dari kepolisian.
“Pada pagi hari ini sekitar pukl 09.30 sampai 11.00 WIB telah melaksanakan rekonstruksi dugaan tindak pidana pembunuhan (Hendi, red). Alhamdulillah sudah berjalan lancar, sesuai dengan skenario. Ada 21 adegan menggambarkan peristiwa sesungguhnya yang terjadi (di TKP, red) dan disaksikan Jaksa Penuntut Umum, pengacara, Bapas termasuk juga dari pemerintahan, sudah kita jalankan sebaik-baiknya,” ujar Kapolsek Taman Sari, Kompol Nur Samsi.
Dari keseluruhan reka ulang adegan pembunuhan, tampak jelas JE (17) yang masih masuk Daftar Pencarian Orang (DPO) kepolisian menjadi otak perencana pembunuhan tersebut.  Lokasi tersebut memang biasa dijadikan tempat ketiganya untuk menghisap aibon (ngelem). Dan kedatangan korban ke TKP pun bukan karena ajakan atau ada janjian dengan para pelaku, melainkan juga hendak ngelem juga. Sehingga, memang secara kebetulan bertemu di lokasi tersebut.
Awalnya, ketiganya datang ke TKP, ketiganya asyik ngelem bersama. Lalu, berturut-turut, JE yang diperankan oleh anggota polisi (lantaran masih buron), mengajak DE terlebih dahulu untuk membunuh Deni yang biasa dipanggil Mozat dan mengambil sepeda motornya pada adegan ke-2. Lalu, AL pun sempat pergi sebentar dengan alasan menjemput neneknya. JE pun kemudian menyuruh DE mengambil uang di rumah JE untuk membeli aibon baru. Tinggallah JE sendiri di dalam hutan.
Lalu, tak berapa lama, DE datang lagi dengan aibon yang baru dibelikan. Barulah disusul kedatangan Hendi yang langsung ikut bergabung ngelem bersama. Hingga terakhir, kedatangan AL yang telah selesai menjemput neneknya dan bergabung bersama ketiganya di dalam hutan. Mereka berempat pun ngelem bersama.
JE pun mengajak DE dan AL agar berpisah dari korban. Kini giliran AL yang mendapat ajakan dari JE agar mau membunuh korban pada adegan ke-8. JE pun sempat menyuruh DE agar mengambil pisau di jok sepeda motornya. Namun, lantaran DE tidak kembali dengan pisau, JE pun segera meminta DE untuk menjambak rambut dan mencekik leher korban.
Pada adegan ke-10, aksi penganiyaan pun dimulai dimana DE langsung berdiri dan menuruti permintaan JE dengan menjambak dan mencekik korban. Korban yang sudah dalam pengaruh aibon pun tidak bisa melakukan perlawanan sama sekali. AL pun langsung menyusul dengan memegang bahu korban dan meninju wajah korban 1 kali, dimana cengkraman DE sudah dilepaskan saat itu, tertuang pada adegan ke-11.
Lanjut ke adegan-12, JE tidak mau ketinggalan dan menghajar korban habis-habisan dengan tinjunya hingga korban tersungkur. Sebenarnya, AL sempat menarik JE untuk menghentikan aksinya lantaran korban sudah terjatuh. Namun, masih dalam pengaruh aibon, korban kembali berdiri. Melihat itu, JE dan AL kembali mengambil kayu untuk memukul korban.
Pada adegan ke-15, AL memukul punggung korban dengan kayu sebanyak 2 kali dimana korban dalam posisi duduk. Lalu, adegan ke-16 dilanjutkan JE memukul korban dengan kayu hingga korban kembali terjatuh. Tak berhenti disitu, JE kembali memukul korban hingga kayu pun patah, tampak tergambar pada adegan ke-17. Korban pun tak sadarkan diri lagi.
Selama adegan berlangsung, posisi DE usai melepas jambakan dan cekikannya terhadap korban, hanya menyaksikan kedua rekannya menghajar korban habis-habisan. Setelah, mengira bahwa korban meninggal, ketiganya pun pergi ke sepeda motor untuk meninggalkan korban. Karena belum yakin, JE pun kembali mendekati korban dan memeriksa denyut nadinya untuk memastikan korban sudah meninggal. Adegan terakhir ditutup dengan JE menaiki sepeda motor korban, lalu DE dan AL menaiki sepeda motor satunya lagi.
“Mudah-mudahan (hasil rekontruksi, red) menjadi salah satu alat bukti kita dalam proses pidana selanjutnya. Semua adegan rekontruksi sesuai dengan hasil pemeriksaan bahwa peristiwa yang terjadi adalah salah satu perencanaan pembunuhan,” ujar Kapolsek.
Dari hasil rekontruksi punm ditegaskan Kapolsek bahwa tidak ada data tambahan karena semua sudah sesuai dengan berita acara pemeriksaan (BAP). Kejanggalan-kejanggalan pun tidak ditemukan sama sekali. Karena lokasi tersebut memang biasa digunakan untuk ngelem, sehingga memang keempatnya bertemu di lokasi tersebut pada hari kejadian karena faktor kebetulan. Namun, JE sendiri memang sudah diketahui menyimpan dendam terhadap korban.
“Tidak ada kejanggalan, sesuai skenario dan sesuai BAP. Otak pelaku masih dalam pencarian, mudah-mudahan kita bisa mendeteksi keberadaan yang bersangkutan. Mereka (para pelaku dan korban, red) sudah biasa melakukan aktivitas ini (ngelem, red), mereka sudah berteman melakukan ngelem itu, menghirup aibon itu,” pungkas Kapolsek.(aka)