Rela Tak Dibayar, Asal Anak-anak Mau Belajar Serius

by -

*Kisah Ayat, jadi Guru Ngaji Karena Teringat Pesan Bibi
Foto ade/be

Ayat bersama anak didiknya yang rajin mengaji.

Saat ini sangat jarang sekali ditemui pengajar yang ikhlas mengabdikan diri tanpa dibayar. Hanya sedikit dari mereka yang mau membagikan ilmunya tanpa dibayar. Rela mengabaikan aktivitas lain demi anak didik.

ADE SAHPUTRA , BELITONG EKSPRES

Di Belitung ada seorang pemuda kelahiran 8 Desember 1987 sudah tujuh tahun mengabdikan diri mengajar ngaji. Laili Hayat atau biasa disapa Ayat ini mulai Senin hingga Jumat, di rumahnya penuh dengan anak-anak mengaji. Mulai pukul 12.30 WIB hingga pukul 14.30 WIB, di rumahnya tidak sepi suara anak-anak mengaji. Lalu pada pukul 17.00 WIB hingga pukul 20.00 malam jadwal ngaji anak-anak kembali lagi. Saat ini sudah banyak anak-anak yang belajar sama Ayat.

Ia tinggal di Jalan Jendral A Yani RT 02 RW 01 Desa Air Raya. Di dalam rumah sederhana yang hampir rubuh itu ia menghabiskan waktunya sehari-hari.

Di rumah itu ia tinggal sendirian. Awalnya bersama dua orang abangnya. Namun saat ini abangnya sudah berumah tangga sendiri. Ayat menyebut rumahnya adalah rumah juang. Karena kondisinya yang cukup memprihatinkan, sederahan dengan atap yang dihiasi lobang-lobang kecil sehingga tak bisa dibayangkan jika hujan deras datang.

Pemuda 28 tahun ini mengaku terpanggil untuk mengajari anak-anak. Bahkan ia tidak pernah mematok iuran pada orangtua anak-anak. Per bulannya ia dibayar sesuai keihklasan orang tua murid. Bahkan ada yang tidak bayar sama sekali. Ia hanya merasa puas hati ketika sang anak semangat belajar.

“Aku dak pernah meminta bayaran. Pokoknya kalau mau beri, seikhlasnya saja. Asal anak ini mau belajar sampai pandai,” kata Ayat pekan lalu disela-sela mengajar ngaji.

Lalu, apa yang membuat Ayat mengabdikan dirinya bertahan mengajar ngaji hingga tujuh tahun tanpa bayaran. Rupanya ia ingat dengan pesan almarhum bibinya. Dulu, bibinya juga pengajar ngaji. Ia sempat terharu ketika menceritakan sekilas tentang bibinya itu.

“Aku ingat, bibi pernah bilang, sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang berguna bagi orang lain,” kenang Ayat.

Pesan itulah yang membuatnya sangat termotivasi. Lagipula, kata dia mengajar anak-anak adalah ladang investasi kedepan. “Lebih baik mewariskan ilmu untuk menerangi jalan anak-anak itu,” kata dia.

Selama tujuh tahun ini ia mengaku sempat ingin berhenti mengajar anak-anak mengaji. Sempat terlintas ingin mencari pekerjaan lain. Layaknya anak-anak muda lain kerja kantoran dan sukses dengan gaji besar. Namun ketika teringat dengan pesan bibi, niat itu diabaikan. Ia juga merasa cukup dengan rizki yang ia terima kini. Menurutnya ada-ada saja rizki untuk dirinya setiap hari. Sehari-hari ia berjualan kue keliling dari pagi hingga siang sebelum mengajar mengaji.

“Suatu hal yang dak bisa dibeli dengan uang, ketika melihat canda tawa mereka disini. Dulu mereka tidak lancar mengaji sekarang mereka bisa, itu sangat mahal harganya,” jelasnya.

Sayangnya ia merasa sangat sedih, karena banyak dari anak didiknya tidak sampai tuntas benar mengaji. Disitu kadang dia merasa sedih. “Dukanya ketika anak-anak dak sampai selesai ngaji, gara-gara mereka harus kerje. Kadang-kadang mereka nyebut Lum sempat pak, agik banyak PR, agik ade gawe,” kata dia.

Ia hanya berharap anak didiknya semangat belajar mengaji. Karena dari situ ia mendapatkan kepuasan hati. “Jadi pesan aku untuk anak-anak ini seriuslah dan semangat belajar. Mudah-mudahan dari mereka-mereka ini ada yang mengajar ngaji juga kelak,” kata Ayat.

Salah seorang orangtua murid ngajinya, Ira (38) mengaku terbantu dengan adanya Ayat. Anaknya memang pernah mengaji dengan dirinya di rumah. Namun kurang serius.

“Alhamdulilah sekarang dia mau ngaji. Pertama gak ngaji di rumah sendiri. Perkembangan e kuran. Ketemu Pak Ayat nak ngaji. Dari mulai dak pandai sampai sekarang alhamdulilah,” kata Ira. (***)