Renungan Bagi (Calon) Guru

Oleh : SADELY ILYAS*

Seorang guru yang juga sebagai pendidik adalah ‘cermin’ bagi anak didiknya. Tugas kependidikan seoranng guru bukan hanya mengajar, lebih dari itu sebagai ‘wahana’ bagi mereka untuk “berkaca”. Semua perkataan,  tingkah laku, dan pola pikir guru akan dicontoh dan dinilai oleh anak didiknya. Oleh karena itu, sebagai ‘cermin’, guru harus menjadi ‘cermin’ yang bersih. Jika ada siswa yang kotor dan bercermin pada cermin yang bersih, ia akan dapat melihat kotoran yang melekat pada tubuhnya. Sebaliknya, siswa yang kotor dan bercermin pada ‘cermin’ yang kotor, ia akan kesulitan melihat kotoran yang melekat pada tubuhnya.

iklan swissbell

Eksistensi dan esensi guru sebagai profesi, di dalam maupun di luar sekolah guru harus senantiasa menjunjung tinggi martabat dan citra guru sebagai manusia yang dapat dipercaya dan diteladani. Profesi guru termasuk dalam profesi ‘pulic figure’. Seorang guru tidak boleh berprinsip bahwa profesi guru hanya ketika berada di lingkungan sekolah,  sedangkan di luar sekolah tidak mengedepankan  citranya sebagai seorang guru. Sebab sudah terkondisi bahwa guru merupakan sosok yang menjadi ‘cermin’, sebab dalam konsep Jawa kita mengenal guru sebgai orang yang patut ‘ digugu lan ditiru’ (bisa dipercaya dan diteladani).

Jika seorang guru menolak dijadikan publik figur karena merasa tidak cukup baik untuk diteladani, dan ingin bebas menjadi diri sendiri, serta membiarkan anak didiknya mencari teladan sesuka hatinya di mana pun. Semuanya itu merupakan alasan guru yang menolak aspek fundamental dari sifat seorang pendidik. Padahal sebaliknya, aspek yang sangat fundamental seorang pendidik adalah menjadi penutan bagi orang lain. Ketika aspek paling dasar ini tidak dijalankan, maka seorang guru telah mengurangi profesionalitasnya dalam proses pembelajaran.

Memang guru juga manusia, dan bukan malaikat.  Dengan predikat guru, ia tidak luput dari kesalahan dan kekurangan. Meskipun demikian, guru sebagai ‘agent of knowledge” tidak harus dimaknai oleh anak didik dengan meniru sepenuhnya,  melainkan bermakna  bahwa perilaku guru dapat berpengaruh terhadap psikologis anak didik.

Sebagai makhluk individual, antara guru yang satu dengan guru-guru yang lain tentu memiliki perbedaan karakter. Ini dilatar belakangi oleh  perbedaan keluarga, pola pikir, dan niat awal menjadi seorang guru. Semua ini nantinya akan ditampilan ketika seorang guru berinteraksi dengan anak didik. Karena itu, berdasarkan berbagai pebedaan tersebut kita akan menemukan karakteristik guru. Dalam buku “Guru Sejati, Guru Idola”, yang ditulis oleh El Fanany (2013), pengaruh kompleks yang muncul dari berbagai ‘input perubahan’ terdapat berbagai motif guru, yaitu terdapat:

(1) Guru yang tulus dengan tujuan berprinsip, yaitu guru yang benar-benar telah menyaring dunia sekitarnya dengan segala perhitungan prinsipnya yang kuat. Sifatnya tulus, menandakan bukan materi yang menjadi tolak ukur, bahkan dia rela mengorbankan materi dan jiwanya untuk menambah daya dukung tugas mulianya sebagai guru. Tujuan tugasnya mencerminkan sosok pribadi yang tangguh dari pengaruh kenegatifan yang datang dari berbagai arah, dan diupayakan sekuat tenaga suluruh prinsipnya untuk ditransfer kepada peserta didiknya. Guru berkualitas seperti ini sangat dipengaruhi oleh kehidupan spiritualnya yang kuat. Kedekatannya dengan Tuhan membuat pendidik bertipe ini mampu mengontrol seluruh tindakan, perkataan, sampai keinginan hatinya untuk selalu berjalan di jalan kebenaran. Tidak merasa benar sendiri walaupun ia berada di jalan yang benar, dan akan merasa sangat bersalah jika ia di jalan yang salah. Inilah salah satu tipe yang cukup membuat siswa terkesan, dan kesan yang diterima oleh sisiwa itu tentu kesan positif. Kesan positif akan membuat guru dikenang siswa, meski antara siswa dan guru terpisah oleh jarak dan waktu.

Baca Juga:  Gerakan Literasi Menuju Generasi Emas

(2) Guru tidak tulus dengan tujuan seadanya, yaitu guru yang awal jadinya kemungkinan hanya kebetulan nasib atau tidak terprogram ke dunia guru sehingga senantiasa bersikap seadanya. Apa yang terjadi pada jabatannya sebagai guru dan apabila dihadapkan pada pilihan tugas dan hak, ia akan memilih haknya didahulukan dan diutamakan. Guru seperti ini akrab dengan ‘materi’, tak bertujuan yang prinsip, bekerja tak serius dan senantiasa mengeluh terhadap tugas-tugas guru yang cenderung berat. Tujuannya sebagai guru, yang apa adanya mempengaruhi kualitas hidupnya yang hanya bisa diukur dengan ukuran pikiran bukan diukur dengan ukuran hati dan ikhlas. Hanya lingkungannya yang bisa menilai kekurangan dirinya, sedangkan pribadinya takkan pernah tersentuh dengan apa yang dinamakan introspeksi diri. Sebaiknya hindari tipe guru seperti ini. Karena, kehadirannya,  hanya akan dikenang oleh anak didik dalam candaan dan celaan.

(3) Guru setengah-setengah. Tipe guru yang ketiga ini adalah gabungan antara kedua karakteristik lainnya. Guru bersikap setengah-setengah kebanyakan adalah guru yang sebenarnya condong lebih kuat ke tipe yang pertama, tetapi berhubung ada berbagai pengaruh dari luar yang tidak diimbangi dengan kekuatan prinsip hidupnya, membuat guru bertipe “setengah-setengah” ini terkadang jatuh ketipe kedua.
Seseorang yang pada awalnya sengaja atau tanpa sengaja masuk ke dunia guru, yang disertai niat untuk membaktikan hidupnya menjadi “abdi negara” dan “abdi bangsa” bisa berubah berlawanan arah dikarenakan terpengaruh oleh teman, lingkungan, atas atau sistem yang berjalan sehingga melunturkan niat sejatinya sebagai pendidik atau gurusejati. Tidak jarang guru tipe ini merasa menyesal telah salah karena tidak menjalankan tugas semestinya, tetapi terkadang ia lalai dan lupa bahwa tugasnya sudah banyak terlampaui tanpa ada pertanggung jawaban yang pasti. Pernyataan yang harus dibangun oleh guru yang bertipe “setengah-setengah” di dalam diri maupun perilaku adalah “saya adalah guru dan saya akan menjadi guru sepenuh hati”. Dengan pernyataan yang kuat seperti itu, maka kita (calon) guru tidak akan menyesal menjadi ‘apa’ yang telah digariskan Allah SWT.

Akhirnya, kepada para (calon) guru, mari kita berintrospeksi diri, tentang niat dan tugas yang akan dan telah kita lakukan; seperti apa yang kita cita-citakan dahulu sebelum menjadi guru. Karena hanya dengan berkaca diri, kita tahu dimana letak kekurangan ‘wajah hidup kita’ yang harus dibubuhi dengan ‘bedak’ kepositifan akal, dan dipermak dengan kesantunan sikap. Alangkah indahnya jika guru itu sungguh-sungguh menggurui dirinya sendiri dahulu, kemudian berbagi dengan anak didik kita, juga kepada orang lain. Di kalangan pendidik Indonesia, Ki Hajar Dewantara sangan terkenal dengan semboyannya dalam bahasa Jawa. Bunyinya, “Ing ngarso sun tulodho, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani”. Maksudnya,  seorang guru itu, di depan memberi contoh, di tengah memberi semangat, di belakang memberi dorongan.

Baca Juga:  SIPIL OTORITARIAN

Hubungan komunikasi antara anak dan guru akan terjadi dengan baik, jika guru juga bersedia menjadi pendengar yang baik. Saat guru mendengarkan anak didik berbicara, ia mengerahkan seluruh dirinya secara total untuk menerima cerita anak. Bukan hanya telinga dan mata yang turut mendengarkan, tetapi pikiran dan hati.Menjadi pengdengar yang baik juga mengandung arti senantiasa mendorong anak didik banyak berbicara tentang diri, masa depan, keluhan, perasaan, cita-cta, dab kegalauan hatinya untuk direspon secara bijak dan arif.  Bicaranya sangat menyejukan hati, ilmunya juga bak mata air yang tak pernah habis diambil, dan kehadirannya membuat anak didik merasa belajar menjadi menyenangkan. Mereka pun merasakan ‘betapa nikmat’nya berada di sekolah. Hal yang perlu digaris bawahi oleh (calon) guru, bahwa seorang guru yang dihormati anak didik tentulah guru yang dianggap menyenangkan bagi mereka. Guru menyenangkan, menurut Drs. Suryadi (2010) adalah guru yang dapat memberikan kesenangan dan kepuasan belajar bagi anak didik, tetapi juga menyenangkan bagi guru dalam melaksanakan tugasnya.

Guru menyenangkan ditopang oleh dua faktor, yaitu kepribadian dan kompetensi. Pribadi guru menyenangkan adalah pribadi yang memancarkan sikap positif dalam proses pembelajaran. Sedangkan, kompetensi guru menyenangkan adalah kemampuan yang memenuhi standar pembelajaran dengan penguasaan ilmu pengetahuan, serta ilmu didaktik-metodik yang benar.

Mendidik manusia (baca: anak didik) adalah amal (jariyah) yang tiada terukur nilai kemuliaannya. Amal seperti inilah yang kelak akan menjadi sumber ‘royalti’ bagi seorang guru di alam akhirat. Nilai royalti ini tiada habis-habisnya, mengalir terus-menerus. Seperti ditegaskan Allah SWT melalui firman-Nya, “Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, maka bagi mereka kenikmatan yang tiada putus-putusnya” (QS. at-Tin [95]: 6).

Guru telah mengajarkan pelbagai ilmu pengetahuan, keterampilan, dan sikap terpuji (cinta, kasih dan sayang). Lantas, disebabkan cinta pula, anak didik menirunya mengamalkan kebaikan itu. Maka hal itu akan kembali menjadi sumber pahala bagi sang guru kelak. Sumber ini takkan pernah kering sebelum zaman berakhir. Wallahu A’lam (**)
*) Pemerhati dan Praktisi Pendidikan, Tinggal di Tanjungpandan, Belitung.

Rate this article!
Tags:
author

Author: