Revitalisasi Pendidikan Akhlak Dalam Keluarga

RajaBackLink.com

Oleh: Sadely Ilyas Rahman*
Pensiunan Guru SMA Tanjungpandan

KELUARGA merupakan wadah pertama anak bersosialisasi dengan lingkungannya. Dengan kata lain, melalui interaksi sosial yang terjadi dalam keluargalah anak pertama kali akan mempelajari pola-pola tingkah laku, sikap keyakinan, cita-cita, dan nilai-nilai kemasyarakatan sebagai wadah pengembangan kepribadian. Fungsi keluarga akan membentuk kepribadian sesuai dengan harapan orang tua. Peran orang tua sangat strategis “mengawal” anak menuju kedewasaan berpikir, bersikap dan berbuat.

Orangtua yang banyak terlibat terhadap pendidikan anak, akan berpeluang besar untuk mengantarkan anaknya menjadi manusia yang berguna. Hal itu dikarenakan terjalinnya ‘hubungan psikologis’ yang intensif antara anak dengan orangtua. Drs. Najib Sulhan, MA. (2016) menjelaskan, keluarga memiliki peranan penting dalam proses pendidikan. Orangtua yang banyak terlibat terhadap pendidikan anak, akan berpeluang besar untuk mengantarkan anaknya menjadi anak berkepribadian baik. Pentingnya fungsi dan peran keluarga dalam pembentukan kepribadian anak, karena

1) keluarga merupakan lingkungan pendidikan yang paling awal dikenal anak sejak kelahirannya;

2) secara kodrati kedua orang-tua sudah dianugerahi naluri untuk mendidik anak-anak mereka;

3) alokasi waktu efektif di lingkungan keluarga cukup panjang. Di rentang waktu yang cukup panjang itu, setidaknya orangtua, khususnya ibu mampu membentuk kepribadian yang yang baik bagi diri anak-anak mereka, terutama yang berkaitan dengan akhlak atau budi pekerti luhur.

Yang tidak kalah penting, saat anak beranjak dewasa, orang tua juga telah memberikan ‘rambu-rambu’ untuk tidak mengikuti ajaran selain ajaran Islam yang benar. Hal ini berindikasikan, banyak keluarga yang hilang kontak dengan anak-anaknya yang beranjak dewasa, dan baru dikatahui justru setelah terindikasi terlibat dalam aksi kekerasan. Melihat fenomena itu, semakin dirasakan pentingnya peran orang tua dalam membina mental serta akhlak yang terbaik bagi anak-anaknya. Bahkan meskipun sudah beranjak dewasa, perhatian, tuntunan, dan pengawasan dari keluarga tetap masih dibutuhkan.

Pendidikan akhlak dan penanaman nilai-nilai agama pada anak dalam keluarga untuk saat ini sangat penting. Dalam pendidikan keluarga anak-anak mengadaptasi pendidikan akhlak dari orang tua. Orang tua adalah guru pertama yang menjadi pendidik akhlak dan kepribadian anak. Pendidikan yang dilakukan dalam keluarga sangat mendasar, karena orang tualah yang paling dekat dengan anak-anaknya. Hal yang diutamakan adalah bagaimana menciptakan sebuah keluarga yang penuh perhatian dan kasih sayang. Karena dua hal ini akan berpengaruh terbentuknya perilaku anak setelah dewasa. Maka dari sini, kita perlu menjadi orang tua yang baik, sekaligus sebagai ‘role model’ manusia terbaik bagi anak.

Baca Juga:  Gerakan Literasi Menuju Generasi Emas

Kata akhlak berasal dari bahasa arab yang sudah diindonesiakan yang juga diartikan dengan istilah perangai atau kesopanan. Secara etimologis mempunyai arti tabi’at, watak, budi pekerti, kebijaksanaan, agama (al din). Menurut para ahli akhlak adalah suatu keadaan yang melekat pada jiwa manusia, yang dari padanya lahir perbuatan-perbuatan dengan mudah, tanpa melalui proses pemikiran (secara spontan), pertimbangan, atau penelitian. Akhlak biasa disebut juga dengan dorongan jiwa manusia berupa perbuatan yang baik dan buruk. (M. Abdul Mujieb, dkk (2009: 38)

Imam Al-Gazali (1058 M – 1111 M) dalam konsep pendidikan mengatakan bahwa pendidikan agama dan akhlak harus dimulai sejak usia dini. Sebab, dalam keadaan ini anak siap untuk menerima aqidah-aqidah agama semata-mata atas dasar iman, tanpa meminta dalil untuk menguatkannya, atau menuntut kepastian dan penjelasan. Oleh karena itu, dalam mengajarkan agama kepada anak-anak, hendaknya dimulai dengan menghafal kaidah-kaidah dan dasar-dasarnya. Setelah itu baru guru menjelaskan maknanya, sehingga mereka memahami, meyakini dan membenarkannya.

Anak usia dini menurut Imam Al-Gazali seharusnya dikenalkan dengan agama. Karena manusia dilahirkan telah membawa agama sebagaimana agama yang dibawa oleh kedua orang tuanya. Oleh karena itu seorang anak akan mengikuti agama kedua orang tua serta guru. Konsep ini menjadikan kedua orang tua sebagai pendidik yang utama menjadi kekuatan dalam diri anak, agar anak tumbuh dan kembang ke arah penyucian jiwa, berakhlak yang mulia bertakwa dan diharapkan menyebarkan keutamaan ke seluruh umat manusia. Pemikiran Al-Gazali tentang konsep pendidikan, beliau tuangkan dalam kitabnya yang terkenal, yaitu “Ihya’‘Ulum al-Din”. Karangan beliau ini hari ini menjadi rujukan dan landasan sebagian pemikir muslim yang mengangkat isu-isu pendidikan, terutama pendidikan keluarga.

Senada dengan itu, Drs. Najib Sulhan, MA. (2016), keluarga memiliki peranan penting dalam proses pendidikan akhlak. Orangtua yang banyak terlibat terhadap pendidikan anak, akan berpeluang besar untuk mengantarkan anaknya menjadi anak berkepribadian baik. Pentingnya fungsi dan peran keluarga dalam pembentukan kepribadian anak, karena keluarga

1) merupakan lingkungan pendidikan yang paling awal dikenal anak sejak kelahirannya.

2) secara kodrati kedua orang-tua sudah dianugerahi naluri untuk mendidik anak-anak mereka.

3) alokasi waktu efektif di lingkungan keluarga cukup panjang. Di rentang waktu yang cukup panjang itu, setidaknya orangtua, khususnya ibu mampu membentuk kebiasaan yang baik bagi diri anak-anak mereka.
Bagaimana cara mendidik anak-anak agar kelak menjadi anak yang baik dan santun kepada orang tua dan guru?

Baca Juga:  Politik Baliho

Menurut Prof. Zakiah Daradjat, teori ilmu pendidikan dan ilmu jiwa, belakangan ini banyak yang berkembang, untuk membekali setiap orang tua dan guru dalam mendidik dan memelihara generasi muda. Akan tetapi, teori-teori pendidikan itu akan kurang lengkap dan mungkin kurang berhasil, apabila tidak disertai agama.
Diantara cara pendidikan yang diajarkan Allah dalam Al-Qur’an seperti terdapat dalam surat Lukman ayat 13 s/d 19. Ringkasan isi ayat-ayat tersebut antara lain yang terpokok adalah:

1) menanamkan jiwa Tauhid;

2) menghargai dan menghormati orang tua;

3) memelihara dan memperlakukan orang tua dengan baik, bagaimana sifat dan tindakan mereka;

4) kejujuran bahwa tidak ada sesuatupun yang dapat disembunyikan kepada Tuhan, walaupun dalam batu;

5) supaya mendirikan shalat (ibadah);

6) mengajar kepada perbuatan baik dan mencegah yang mungkar;

7) supaya bersabar;

8) melarang keangkuhan dan kesombongan (dalam pergaulan);

9) sederhana dalam sikap, berjalan dan berbicara.
Mendidik anak bagi orang tua adalah suatu yang tak dapat dihindari, karena ia adalah kodrat. Dalam Islam, peran ini sangat gamblang dijelaskan oleh Allah dalam Al-qur’an, juga Hadist bahwa orang tua adalah pihak yang paling bertanggung jawab terhadap pembinaan dan pendidikan anak-anak mereka. Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman yang artinya: “Wahai umat yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari ancaman api neraka” (QS. At-Tahrim: 6).

Guru Besar Universitas Islam Negeri Jakarta, Prof. Dr. Zakiah Darajat (1982), dalam ‘Peranan Agama Dalam Kesehatan Mental’ menegaskan bahwa fungsi agama itu sangat penting bagi kehidupan seseorang yaitu:

1) Agama memberikan bimbingan bagi manusia dalam mengendalikan dorongan-dorongan sebagai konsekwensi dari pertumbuhan pisik dan psikis seseorang.

2) Agama dapat memberikan terapi mental bagi manusia dalam menghadapi kesukaran-kesukaran dalam hidup. Seperti pada saat menghadapi kekecewaan-kekecewaan yang kadang dapat mengelisahkan bathin dan dapat membuat orang putus asa. Disini agama berperan mengembalikan kesadaran kepada Sang Pencipta, Allah Subhanahu wata’ala.

3) Agama sebagai pengendali moral, terutama pada masyarakat yang mengahadapi problematika etis, seperti perilaku seks bebas, dan sejenisnya. Wallahu ‘Alam (*)

Tags:
author

Author: 

Leave a Reply