Ribuan Marga Chai Lakukan Tradisi Ceng Beng

OYO 399 Kelayang Beach Hotel

*Wujud Penghormatan Kepada Leluhur dan Meminta Rejeki Melimpah

foto A Ceng Beng

Ket foto : Persembahyangan leluhur menandai penutupan Ceng Beng warga Tionghoa yang bermarga Chai di pemakaman leluhurnya di Dusun Gunungm Desa Lalang Jaya Manggar. (foto dokumen yayasan foto BE)

MANGGAR – Puncak Ceng Beng atau ritual sembahyang kubur dilakukan sebagian besar warga tionghoa seluruh dunia khususnya yang menganut agama Konghucu. Di Kabupaten Belitung Timur, ritual sembahyang kubur tersebut diperingati secara meriah oleh warga Tionghoa yang bermarga Chai.

Minggu (5/4) pagi kemarin, ribuan warga Tionghoa dari margai Chai mendatangi makam orangtua dan leluhur mereka di Dusun Gunung Desa Lalang Jaya Manggar. Di makam ini, mereka tidak hanya berdoa tapi juga menyediakan sesajen berupa makanan serta buah-buahan.

Upacara penghormatan ini dilakukan dengan berbagai jenis, misalnya dengan membersihkan kuburan, menebarkan kertas sampai dengan membakar kertas yang sering dikenal dengan Gincua (Mandarin: Yinzhi atau kertas perak, red).

Baca Juga:  Kasi Intel Kejari Beltim Resmi Diserahterimakan

Ketua Yayasan Perkuburan warga Tionghoa Kecamatan Damar yang juga bermarga Chai, Harijanto Johannes mengatakan Tradisi Ceng Beng yang berasal dari bahasa Mandarin berarti terang dan cerah, dimulai sejak 2500 tahun lalu pada saat dinasti Zhou berkuasa. Awalnya, tradisi ini merupakan suatu upacara yang berhubungan dengan musim dan pertanian serta pertanda berakhirnya musim dingin.

“Namun dalam perkembangannya, sebagian umat Konghucu mempercayai bahwa pada saat Ceng Beng, pintu neraka dan surga dibuka lebar-lebar. Ini tujuannya memberikan kesempatan kepada penghuninya untuk mengunjungi anak keturunannya di bumi,” jelas Pria yang akrab disapa Asin yang juga merupakan anggota DPRD Beltim.

Asin mengungkapkan, persembahyangan leluhur merupakan wujud penghormatan kepada leluhur sekaligus meminta diberkati agar mendapat rezeki melimpah. Persembahyangan leluhur juga menjadi puncak penutupan Ceng Beng warga Tionghoa.

“Harapan kita, semoga tahun depan kita bisa bikin persembahyangan leluhur lagi. Kita mengadakannya dengan sederhana supaya bisa dilaksanakan lagi tahun depan. Mudah-mudahan rezeki keluarga marga Chai tambah makmur agar tahun depan bisa lebih ramai,” terang Asin.

Baca Juga:  Beltim Kembali Gelar KALPO 2019

Menurut Asin, suasana Ceng Beng sudah terlihat sejak tanggal 1 April lalu. Setiap hari menjelang puncak ritual Ceng Beng yang jatuh pada hari ini Minggu (5/4) warga keturunan datang ke kuburan orangtua dan lelulhurnya untuk melakukan sembahyang kubur.

“Mereka, tahun ini ramai yang datang untuk berziarah melakukan sembahyang kubur, hampir dari seluruh pelosok Indonesia, mereka bersama datang ke makam leluhurnya yang ada di Pulau Belitung,” tutup Asin.

Pantauan harian ini, Minggu (5/4) pagi, cuaca panas sepertinya tidak menghalangi niat warga Tionghoa untuk melakukan perayaan Ceng Beng. Tradisi yang terus dijaga secara turun temurun ini membuat sebagian warga harus rela kepanasan demi menjalankan warisan keluarga. (feb)

Tags:
author

Author: