banner 728x90

Rizky Yoan Pratama, Pembalap Drag Bike Semula Dari Balap Liar, Ikuti Lomba Pernah Tangan dan Jari Patah

Life at ease with amazing nature| Leebong island

Pernah mengalami tangan kanan dan tiga jari patah saat mengikuti lomba. Tak membuat surut nyali Rizky Yoan Pratama, warga Desa Sodo, Kecamatan Pakel ini, tetap terjun di drag race. Dia bahkan telah mampu meraih prestasi tingkat provinsi maupun nasional.

WHENDY GIGIH PERKASA

BERPRESTASI: Rizky menunjukkan motor drag bike dan piala yang diraihnya dari berbagai ajang kejuaraan drag bike. (Rizky for RATU)

belitongekspres.co.id, Balap kuda besi di lintasan lurus sepanjang 201 meter atau juga dikenal dengan drag race banyak digandrungi anak muda. Tidak terkecuali di Kota Marmer. Itu terlihat setiap kali ada kejuaraan drag bike ramai peserta dan penonton. Hebatnya, Tulungagung memiliki pembalap yang tidak kalah piawai. Rizky Yoan Pratama salah satunya.

Saat wawancara, pria berusia 24 tahun itu mengaku, sudah jatuh cinta dengan drag bike sejak sekolah menengah atas (SMA). Awalnya, Rizky hanya coba-coba motor, utamanya saat dia belajar tentang motor di bengkel ARS 99 Gamping, Campurdarat. Balap liar pun pernah dilakoni sebelum banjir prestasi seperti saat ini.

Dia semula suka drag bike karena suka motor dan utak-atik mesin. Karena itu memilih sekolah di SMK jurusan mesin. Kebetulan, postur tubuh juga mendukung untuk menjadi pembalap drag bike.

Pada 2010, Rizky memulai drag bike resmi perdananya, yakni dalam lomba Drag Bike Clasmild. “ Saya mendapat juara I kelas bebek 2 tak 116cc lokal Tulungagung, dan bebek 4 tak 130 juara 2 karisidenan Kediri,” ungkapnya.

Nah untuk memperdalam ilmu drag bike, Rizky dibimbing Ahmad Taufik alias Afiek 99 yang juga mantan pembalap road race. Motor yang dipakai sejak awal, milik bos balap Batu Pualam Gamping Campurdarat. Dulu, pembalap drag bike masih diperbolehkan memakai celana jins dan jaket. Bahkan sepatu pun bebas asal menutupi mata kaki. Namun sejak 2016 lalu, aturan drag bike berubah. Semua pembalap wajib memakai wearpack.

Memulai debut dalam dunia drag, Rizky atau yang lebih akrab disapa Maruciel memiliki segudang prestasi membanggakan. Beberapa di antaranya juara umum kejuaran nasional (Kejurnas) Papua (Raja Ampat dan Jayapura) 2015, juara umum Lampung Drag Menpora 2016. Mengenai kelas poin ada di DB 1, sport 2 tak 155cc rangka std, DB 2 bebek 4 tak 200cc, DB 3 metik 200cc, DB 4 bebek 4 tak 130cc.

Rizky tak menepis olahraga yang ditekuninya berisiko besar, nyawa bisa jadi taruhannya. Dia pernah mengalami cidera saat balap drag di Klungkung Bali 2016 seri 4, karena pengereman kurang akhirnya menerobos pembatas. Tangan kanan patah. Kemudian saat drag di Kejurnas CST Mataram, karena kondisi hujan, motor terpelanting di jarak 150 meter. Akibatnya kaki cidera dan tiga jari patah.

Bagi Rizky, drag bike punya daya tarik tersendiri. Bukan sekadar tarik gas dan adu cepat, namun bertambah ilmu, pengalaman, dan sahabat. Orangtua (ortu) yakni Lilik Setyorini dan Suryani, awalnya melarang. Itupun dirasa wajar bagi Rizky sebab dia merupakan anak tunggal. Namun larangan itu dijawab dengan prestasi membanggakan, hingga akhirnya ortu mendukung. Karena drag bike resmi, Rizky akhirnya berhenti di balap liar. “Alhamdulillah dari drag bike, saya bisa membantu orangtua, dan dari drag bike saya bisa banyak teman pengalaman, dan stop drag liar,” kata Rizky.

Ditanya tentang biaya, alumni SMKN 3 Boyolangu itu mengaku, mendapat dukungan dari Batu Pualam Gamping Campurdarat. Selanjutnya diteruskan Nuansa Cell Bandung. Sponsor lain yakni Shakespire Lamongan, Arlians Racing Clothing Malang, Arya117 Jogja, dan Andy Speed Surabaya.

Dari uang hasil drag tidak digunakan untuk foya-foya. Rizky menyimpannya di bank. Untuk menambah pemasukan lain, dia memiliki usaha pakaian balap.

Sebagai seorang pembalap, Rizky berharap Tulungagung memiliki sirkuit drag seperti di Surabaya. Tujuannya agar ada tempat khusus untuk setting motor, latihan, dan lomba. Kemudian diharap ada perhatian dari pemerintah terhadap atlet putra daerah yang berprestasi.(*/din) (rt/whe/dre/JPR)

Tags:
author

Author: