Ruangan Amri Cahyadi Disegel

by -

*Mahasiswa UBB Gelar Aksi di DPRD Babel

PANGKALPINANG – Mahasiswa Universitas Bangka Belitung (UBB) menyegel ruangan Wakil Ketua DPRD Babel Amri Cahyadi, kemarin (5/3). Penyegelan dilakukan mahasiswa lantaran tersinggung sikap Amri dan Komisi IV DPRD Babel yang mempersoalkan status Rektor UBB, Prof. DR Bustami Rahman. Didampingi aparat kepolisian dan Satpol PP Babel, ratusan mahasiswa kompak masuk ke kantor DPRD Babel untuk menyegel ruang kerja Amri Cahyadi. Usai melakukan penyegelan tersebut, mahasiswa-mahasiswi UBB juga meminta Ketua DPRB Babel, Didit Srigusjaya untuk memberi hukuman dan memecat Amri Cahyadi.
Sebelum menyegel, ratusan massa terlebih dahulu menggelar orasi di halaman DPRD. “Kami datang untuk mengklarifikasi penyataan anggota dewan yang meragukan keabsahan rektor kami. Ini menunjukan pelemahan terhadap UBB,” ujar Vega, alumnus UBB, dalam orasinya. Massa juga mengecam anggota DPRD terutama Komisi IV untuk tidak campur terhadap pembangunan UBB. “Kami mengecam anggota dewan yang ikut intervensi dari DPRD yang jelas kami menolak semua ini,” tegasnya.
Kedatangan ratusan mahasiswa UBB ke gedung DPRD Babel sendiri diterima oleh Ketua DPRD Babel, Didit Srigusjaya dan Wakil Ketua Deddy Yulianto. Pada kesempatan itu para mahasiswa terus mengecam anggota DPRD karena dinilai telah melemahkan UBB. Mahasiswa juga terus berteriak agar anggota DPRD yang lain keluar dan meminta pertanggungjawaban anggota DPRD yang melontarkan pernyataan tentang UBB di media massa selama ini.
“Saya sebagai ketua DPRD minta maaf dan saya nyatakan tidak ada ketua maupun anggota yang melontarkan pernyataan yang melemahkan UBB,” ujar Didit yang disambut cemoohan dari mahasiswa. Para mahasiswa meminta kepada Amri Cahyadi selaku anggota Komisi IV yang mengeluarkan pernyataan yang melemahkan UBB tersebut untuk keluar dan meminta maaf. “Kami minta pak Amri keluar dan menemui kami untuk meminta maaf,” tegas para mahasiswa.
Melihat kondisi yang mulai memanas, Didit meminta perwakilan mahasiswa UBB untuk dialog di ruang Banmus. “Agar semua ini bisa dibicarakan dengan baik maka kami mengajak mahasiswa untuk dialog. Karena saat ini yang bersangkutan tidak ada di tempat sedang ada tugas ke Jakarta,” ujar Didit yang disambut teriakan penolakan dari mahasiswa UBB.
Didit juga mengklarifikasi terkait pemanggilan rektor dan dosen UBB oleh Komisi IV DPRD Babel itu karena memang pihaknya ingin mencari informasi berimbang untuk persoalan UBB, dan menurut Didit, persoalan UBB ini, beberapa eks mahasiswa UBB berada di bawah naungan pak Zainul. “Mungkin pada saat rapat itulah ada pernyataan yang dianggap kurang mengenakan, karena itu secara institusi Saya mohon maaf bila sudah menyinggung institusi UBB,” pungkasnya.
Kendati demikian Didit dan Deddy tetap ngotot untuk berdialog dan meninggalkan massa di depan gedung DPRD. Melihat ini membuat berang mahasiswa mengancam akan menduduki ruang Komisi IV. Para mahasiswa terus berorasi di depan gedung DPRD dan terus meminta Amri Cahyadi untuk keluar menemui mahasiswa.
Lantaran tuntutan mahasiswa tidak dipenuhi, kondisi aksi semakin memanas dan sempat ricuh, karena massa memaksa menerobos pagar pengamanan polisi. “Kami akan mendatangkan massa yang lebih besar lagi apabila permintaan kami tak dipenuhi,” ancam perwakilan mahasiswa.
Beruntung aksi para mahasiswa akhirnya dapat dikendalikan oleh pihak kepolisian yang sempat menenangkan para mahasiswa. Ratusan personil dari Polres Pangkalpinang dan Sat Pol PP Babel mengamankan aksi secara berlapis. Di garis depan pengamanan dilakukan oleh anggota Sat Shabara kemudian anggota Sat Pol PP dan barisan terakhir pengamanan dilakukan oleh Polwan serta aparat berpakaian preman.
Usai aksi demonstrasi, Kapolres Pangkalpinang,  AKBP Nur Rhomdoni menjelaskan, untuk unjuk rasa mahsiswa ini masih dalam koridor. “Walaupun ada riak wajar ini bumbu tapi ini masih wajar dan kami minta mereka pakai almamater pada pada waktu menyegel ruangan tadi,” kata Kapolres.
Lebih lanjut Kapolres menjelaskan, untuk pengamanan diterjunkan sebanyak 120 personil dari Polres dan dibantu dengan 2 SSK dari Polda. “Kami sengaja tidak menggunakan kendaraan taktis karena belum dibutuhkan dan masih terkendali,” tukas Nur.(cr62/eza)