Sang Guru Piano Berkisah Tentang Joey

by -

Si Anak Ajaib Harumkan Bangsa di Ajang Grammy Awards

Guru Piano Bonny Man dan Joey Alexander. Foto: Baliexpressnews.com

Siapa yang tak bangga menyaksikan Joey Alexander, seorang pianis muda kelahiran Bali 23 Juni 2003 membawa harum nama bangsa di ajang Grammy Awards ke 58 di Los Angeles. Decak kagum dan puji-pujian mengiringi langkah Joey di Negeri Paman Sam tersebut.

laporan: jpnn

Di balik keberhasilan itu juga ada nama-nama yang sempat turut mewarnai karier Joey dalam bermusik. Anak pasangan Denny dan Fara Sila, ini ternyata sempat belajar piano di Bali selain di Jakarta.

Ada beberapa nama guru musik yang sempat mengajarnya untuk memperkenalkan musik jazz. Salah satunya Bonny Man, seorang guru musik di LPM Farabi Bali dan Balawan Music Training Centre. Bonny tergolong guru yang kali pertama memperkenalkan Joey untuk musik jazz.

Bonny mengaku,  sempat mengajar sekitar 2009 waktu Joey berumur 7 tahun. Diakuinya, bakat Joey memang sudah terlihat sejak kecil. Sebelum Joey belajar piano, bapaknya juga sempat belajar piano di LPM Farabi Bali selama dua bulan.

“Setahu saya, bapaknya dulu sempat ikut les piano untuk mengajarkan anaknya. Setelah itu akhirnya saya langsung disuruh mengajar anaknya. Bapaknya juga bagus main piano. Dia belajar dengan saya,” jelas Bonny, mengawali perbincangan saat ditemui Baliexpressnews (Jawa Pos Group) di BMTC, Denpasar, kemarin (16/2).

Dituturkan, selama kurang lebih enam bulan Bonny sempat mengajar Joey untuk jazz piano. Kendati baru berumur 7 tahun Joey sudah bermain dengan mahir. Hampir tidak ada kesalahan. Tempo, dinamikanya menurut Bonny bagus. Makanya, tebersit dalam hatinya si Joey ini anak yang spesial.

Menurut Bonny, daya tangkap Joey sangat cepat dalam belajar. Itu juga didukung arahan dari orang tuanya.  Awal belajar meniru karena dulu masih kecil tetapi dia juga sudah bisa baca notasi.

“Kata bapak dan ibunya dia autis (dari hasil penilaian tim medis saat itu). Tetapi, cara mendidiknya benar. Karena anak autis pintar di bidang tertentu, salah satunya musik, ” jelas musisi yang sudah 23 tahun menetap di Bali ini.

Dulu Joey les piano langsung di kediamannya di Jalan Sidakarya, Denpasar. Sekitar 2-3 kali dalam seminggu dia mengajar untuk musik jazz.

Usai Bonny mengajar, Joey hijrah ke Jakarta dan baru belajar lagi di LPM Farabi Jakarta. “Si Joey gurunya banyak. Tapi, awal memperkenalkan jazz itu saya,” ungkap pria kelahiran Jakarta, 15 Maret 1961 ini.

Nah, setelah belajar di Jakarta, dia juga sempat balik ke Bali. Waktu itu, permainan piano Joey semakin sempurna. “Setelah belajar di Jakarta dan sempat ke Bali, dia mainnya sudah gila. Luar biasa. Saya sudah kalah nih, ” terangnya.

Menurutnya, perkembangan kemampuan di dunia musik sangat cepat sekali. Kalau orang normal tidak akan bisa menyamainya. Karena umur baru 12 tahun sudah mahir dalam permainan musik jazz.

Bonny menambahkan, lazimnya orang Indonesia belajar musik jazz sejatinya tidak mungkin dalam waktu lima tahunan. Dan, musisi yang jago main musik jazz itu hampir kebanyakan sudah berumur.

Tapi, berbeda dengan Joey. Di umur yang masih kecil sudah membuktikan kejeniusannya di panggung dunia lewat permainan pianonya.

“Si Joey ini kategorinya genius. Dari autis ke genius. Karena dididik dengan tepat,” lanjutnya dengan bangga.

Seperti diketahui, Joey Alexander telah merilis satu album yang berjudul My Favorite Things pada 12 Mei 2015. Album tersebut berisi 9 lagu yang diproduksi oleh pemenang Grammy, Jason Olaine, melalui label Motema Music Harlem. Album ini mendapat apresiasi luas di Amerika Serikat. Media-media besar macam The New York Times, Wall Street Journal, LA Times, Vanity Fair hingga majalah musikBillboard pun mengulasnya.

Tak hanya tampil di momen spesial, lewat karya-karyanya berhasil ia masuk nominasi dalam Grammy Award 2016. Bahkan, beberapa kali dia sempat berguru dengan sejumlah musisi di Bali dan Jakarta. Saat ini media massa lokal dan internasional menyebutnya sebagai ‘Anak Ajaib’. Maklum, Joey telah menorehkan sejarah besar di kancah internasional. Kali pertama musisi asal Indonesia masuk nominasi Grammy Awards dan juga musisi termuda yang masuk ajang penghargaan musik bergengsi itu.

Pada kesempatan even ini dia masuk nominasi di dua kategori. Yaitu Best Improvised Jazz Solo untuk lagu Giant Steps dan Best Instrumental Jazz untuk album My Favorite Things. Selain itu, dia juga mendapat kesempatan tampil dalam ajang award dunia. (*/dwija putra/pit/mus/flo/jpnn)