Sarung Wali Kota

by -
Sarung Wali Kota
(Budiono/Jawa Pos)

Cerpen MURAM BATU

SARUNG yang diberikan Haji Mansyur belum juga dia pakai. Masih tersimpan di lemari. Masih berplastik. Dia sedang menunggu waktu yang tepat. Sarung bersejarah itu tak pantas dipakai ke masjid atau sekadar jadi selimut.

Padahal, dia sudah minim sarung. Ketika ke masjid, sarung kotak-kotak yang sedikit robek bagian bawahnya, yang dia beli di pasar pinggir sungai, jadi andalan. Hanya itu. Pun, saat sarung berbahan kain yang kasar itu jorok, dia paksa sang istri mencuci dan mengeringkannya dengan cepat.

Sarung pemberian Haji Mansyur beda. Tidak kotak-kotak. Berwarna hijau dengan corak kecil berwarna kuning di bagian atas dan bawah. Bahan kainnya pun beda. Lebih halus. Lebih bagus. Tapi, bukan sekadar itu yang jadi alasan dia tak memakai sarung itu. Dia memang sedang menunggu waktu. Hanya ada dua kejadian yang akan membuat dia memakai sarung itu. Pertama, kalau Haji Mansyur yang kini jadi wali kota itu mati. Kedua, kalau sang pemberi itu dipenjara karena korupsi.

”Dia masih sangat sehat. Lihat saja, dia makin gemuk,” bujuk sang istri agar dia mau memakai sarung itu ke masjid; sarung kotak-kotak makin tak layak.

”Kalau begitu, kita tunggu dia dipenjara.”

”Dia tak akan dipenjara, Pak. Lihatlah, kawan dia itu jaksa dan polisi.”

Dia tak menjawab. Hanya tersenyum. Dalam hatinya tertawa. Jaksa dan polisi itu bukanlah kawan yang setia. Apalagi untuk wali kota, orang-orang di sekelilingnya hanya teman jabatan. Politik itu beda. Sangat jauh dengan hubungan para sopir angkot, seperti dia dan kawan-kawan. Yang bisa minum kopi segelas beramai-ramai. Yang bisa makan nasi bungkus beramai-ramai. Yang bisa tak ada uang beramai-ramai. Perkawanan sopir angkot lebih berjiwa daripada persahabatan para pejabat. ”Kau tahu apa?” balasnya kepada sang istri.

Seperti biasa, sang istri langsung memajukan mulut sampai jauh: menggerutu. ”Belilah sarung baru! Gak malu kau ke masjid dengan sarung yang sebentar lagi tinggal benang itu?”

Seperti biasanya juga, dia akan menjawab, ”Kan masih bisa dipakai, kenapa pula kau sibuk kali?”

***

Namanya Budi. Berdarah Jawa. Tapi, karena sejak lahir sudah di tanah Deli, dia pun sudah lebih Medan daripada orang Medan asli. Tak ada istilah patuh layaknya ciri orang Jawa. Seperti orang Medan yang berasal dari kaki Pegunungan Bukit Barisan, dia adalah anak raja. Namanya anak raja pasti tak mau kalah. Itulah sebab angkotnya jarang menurut pada traffic light. Lampu hijau, merah, atau kuning itu sama saja. Selagi bisa jalan, kenapa harus berhenti. Soal berhenti mengambil penumpang pun tak harus rapi. Langsung sambar. Kalau gara-gara itu menimbulkan kemacetan dan semburan klakson seperti tak berhenti, itu urusan nanti. Itulah sebab ada ungkapan: Belok atau berhenti angkot di Medan, hanya sopir dan Tuhan yang tahu.

Sebagai sopir angkot, Budi lumayan terpandang. Ini bukan soal uang. Tapi, sosok Budi dan jam terbang yang tinggi membuat dia disegani. Apalagi, dia sempat bermasalah dengan polisi. Kisahnya itu bahkan menjadi legenda di antara sopir angkot Medan. Ceritanya, dia pernah ditilang karena tertangkap menerabas lampu merah. Dia dimintai uang oleh polisi. Dia berikan sepuluh ribu. Polisi minta seratus ribu. Dia ajukan dua puluh ribu. Polisi berkeras. Dia tambah jadi dua puluh lima ribu. Polisi mulai memaki. Budi pun langsung darah tinggi. Dia balik memaki. Polisi emosi. Budi tak mau kalah. Pertengkaran terjadi. Memang tak ada saling pukul, tapi makian telah membuat jalan raya macet. Banyak yang menonton tanpa berusaha melerai.

Budi kalap, seratus ribu bukan uang kecil. Tanpa diduga, dia ambil batu besar dan diangkatnya tinggi-tinggi. ”Bodat! Daripada kukasih kau seratus ribu, bagus kupecahkan saja kaca angkotku ini!”

Prankkkk! Orang-orang terkejut. Berteriak. Kaca depan angkot Budi berantakan. Polisi itu pun pergi. Tak lama kemudian, terdengar tepuk tangan riuh. Budi dipuji. ”Polisi kayak gitu memang harus digitukan, Bang!” kata salah satu pengendara sambil mengacungkan jempol ke Budi.

Dan, kisah empat tahun lalu itu menyebar ke segala penjuru. Budi mendadak jadi pahlawan. Polisi jadi hati-hati menilang angkot. Mereka tak mau dipermalukan. Itulah sebabnya, gara-gara Budi, kini angkot bebas bersikap sesuka hati.

Kebesaran nama Budi itulah yang membuat tim sukses Haji Mansyur mendekatinya. Sebagai calon wali kota, dia tentu butuh dukungan. Dan, sosok Budi sangat cocok untuk mendulang suara.

”Jadi, Bang, tinggal Abang bilang aja ke kawan-kawan tuk pilih Haji Mansyur. Aman itu, Bang. Kalau jadi wali kota, Haji Mansyur pasti gak lupa dengan Abang.” Itu kalimat tim sukses kepada Budi.

”Kalau Abang setuju, besok Haji Mansyur berkampanye kemari. Dia kasih sesuatu untuk Abang lah,” tambahnya.

Esoknya, apa yang dibilang tim sukses benar. Haji Mansyur dengan rombongan mendatangi warung kopi tempat biasa Budi dan rekan-rekan beristirahat.

Haji Mansyur duduk di samping Budi yang dikelilingi para sopir angkot lainnya. Mereka minum kopi layaknya sedang berbincang ringan. Jepretan fotografer seperti tiada henti. Budi sempat risi. Apalagi ketika dia menyadari bahwa Haji Mansyur hanya pura-pura minum kopi.

Setelah tiga menit, Haji Mansyur pun menyerahkan bingkisan kepada sopir angkot yang diwakili Budi. ”Dukung saya jadi wali kota, ya,” katanya.

Dua menit kemudian Haji Mansyur dan rombongan pergi. Budi dan rekan-rekan langsung membuka bingkisan itu. ”Bah, sarung aja! Mana uangnya?” kata salah satu sopir.

Budi tertawa. ”Ya sudah, kita tunggu saja dia mati atau korupsi,” balas Budi sambil memperhatikan sarung berplastik di tangannya.

”Jadi Ketua, kita pilih dia?”

Budi malah tertawa. ”Suka hati kau,” katanya sambil pergi. ”Ayo kerja, anak bini butuh uang!” teriaknya.

Dan besoknya Budi jadi bahan tertawaan. Fotonya dengan Haji Mansyur terpajang di setiap koran yang terbit di Medan. ”Taik lah, jadi kayak badut-badut aku,” katanya, disambut gelak tawa rekan-rekan seprofesinya.

Selang waktu, Haji Mansyur menang dalam pemilihan wali kota. Tim sukses yang merayu Budi tempo hari tak pernah kembali. Selesai. Tak ada kelanjutan kisah kampanye itu. Budi dan rekan-rekannya tetap sopir angkot. Tetap sibuk cari uang untuk anak dan bini.

Haji Mansyur dilantik. Memimpin kota. Medan pun berjalan seperti biasa. Tak ada yang berubah. Tapi, di hati Budi ada dendam. Dan, dia tetap tak mau memakai sarung pemberian itu, kecuali ketika Haji Mansyur mati atau dipenjara karena korupsi. Ya, dendam yang muncul karena secara diam-diam dia dan istri memilih Haji Mansyur saat pencoblosan tempo hari.

***

Seperti sudah ada yang mengatur, Budi dan Haji Mansyur akhirnya bertemu. Di pernikahan. Bukan anak Budi. Bukan pula anak Haji Mansyur. Hanya perkawinan seorang kerabat. Pestanya di Asrama Haji. Di gedung yang begitu masuk gerbang Asrama Haji, belok ke kanan. Gedung yang besar.

Budi hadir ke pesta yang terbilang mewah itu dengan istri. Dari istrinya pulalah dasar kedatangannya ke sana. Teman istrinya punya adik dan adiknya itulah yang menikahkan anak. Itu saja. Sementara Haji Mansyur, tentunya, diundang karena pejabat. Namanya perkawinan pasti akan lebih hebat kalau ada pejabat, kan? Kebetulan, ayah pengantin pria teman semasjid Haji Mansyur. Dulu. Sebelum jadi wali kota.

Budi dan istri duduk di barisan kursi nomor empat dari belakang. Tepat di pinggir jalan masuk; jalur lurus dari pintu hingga pelaminan. Tanpa meja. Mereka berdua memegang piring penuh nasi dengan lauk rendang, tauco udang, dan siraman kuah sup. Ada juga kerupuk udang. Tidak ketinggalan satu buah pisang dan air kemasan gelas 250 mililiter.

Haji Mansyur datang. Kehebohan muncul. Biduan malah menghentikan lagunya yang belum sampai setengah. ”Selamat datang kepada Bapak Wali Kota.” Begitu katanya sembari menunggu kode dari seorang berbaju safari agar bisa melanjutkan lagu.

Saat itulah Budi hentikan suap. Istrinya juga. Kepala mereka serentak menoleh ke belakang. Ke pintu masuk. Entah siapa yang memerintah, Budi dan istri jadi berdiri. Seperti berbaris menanti sang wali kota lewat. Haji Mansyur terlihat gagah. Dia memakai batik berwarna hijau muda. Pakai peci.

Budi tak menyangka Haji Mansyur melihatnya. Sang wali kota malah sempat berhenti tepat di depannya. ”Makin sehat kulihat,” kalimat itu keluar tanpa sengaja dari mulut Budi.

Haji Mansyur tersenyum. Dia tak menjawab, tapi tangannya langsung menarik tangan Budi. ”Kita duduk di depan,” katanya.

”Tunggu dulu, masih makan aku. Istriku ini kekmana?”

”Sudah, bawa saja!”

Budi menurut. Dia berjalan di sisi Haji Mansyur menuju meja VIP. Yang bundar. Meja yang menyediakan buah-buahan dan botol air mineral 500 mililiter. Meja yang dibalut kain berwarna putih. Ke meja itu, Budi tetap membawa piring beserta isinya. Istrinya juga.

Tak pelak, tamu undangan sempat heran. Tapi, Budi tak peduli. Begitu juga ketika dia duduk di sisi Haji Mansyur. Orang tua pengantin yang turun dari pelaminan pun akhirnya memilih kembali ke pelaminan. Padahal, seharusnya mereka duduk semeja dengan sang wali kota.

”Kupikir tak ingat lagi,” bisik Budi.

”Mana mungkin tak kuingat Abang. Abang itu kan terkenal. Apalagi, Abanglah yang buat aku menang. Foto kita di warung kopi itu, yang dimuat di koran-koran, kubingkai dan kupajang di ruang kerja, Bang.”

”Masih kusimpan sarung itu,” kejar Budi.

”Bah, kenapa tak dipakai? Kurang bagus? Sudah kusuruh anggota cari yang paling bagus. Untuk Abang itu khusus, beda dengan sopir yang lain.”

”Tak jelas!”

Haji Mansyur menatap. ”Jangan bilang amplop khusus untuk Abang dan juga amplop untuk anggota Abang tak sampai?”

”Potong kupingku kalau memang sampai.”

Haji Mansyur terdiam. Terdengar suara pembawa acara meminta Haji Mansyur bernyanyi. Dia pun bangkit. Dia memang gemar jika ditodong untuk menyanyi. Bahkan, kalau ada pesta yang tidak memintanya bernyanyi, maka dia akan marah besar. ”Nanti kita selesaikan, Bang. Selalu ada untuk Abang, tapi pakailah sarung itu ya, Bang,” bisik Haji Mansyur sembari permisi untuk bernyanyi.

Budi pergi. Hanya satu bait lagu dia saksikan wali kota beraksi. Malamnya ajudan wali kota datang ke rumah. Memberikan cek dengan nilai yang tak pernah terbayang oleh Budi. Istri teriak histeris begitu orang suruhan itu pergi. ”Jadi, pakailah sarung itu ya, Bang!” katanya.

Budi masih menimbang. Sarung kotak-kotak tetap dia gunakan saat Subuh di masjid. Sarung Haji Mansyur tetap berplastik. Masih di lemari. Masih ada dendam terasa. Ya, meski uang dua puluh lima juta sudah bisa dia cairkan pagi itu juga.

Sepulang dari bank, sekira pukul 12 siang, Budi tak langsung ke rumah. Dia ke warung kopi. Tumpukan uang itu dia letakkan begitu saja di angkot. Berplastik hitam.

”Bang, sudah nonton berita?” sambut salah seorang sopir angkot.

”Kau ini, mana sempatlah kutonton. Kayak gak ada kerjaanku aja, bagus aku cari penumpang,” balasnya.

”Bah, rugilah. Haji Mansyur ketangkap tangan tadi malam.”

”O mak, serius?”

”Woi, kau hidupkan dulu tivi itu! Biar bisa dilihat Abang kita ini!” teriak sopir tadi kepada penjaga warung.

Televisi menyala. Tak ada berita soal Haji Mansyur. Penyiar sibuk membacakan berita pilkada. ”Tunggu, Bang, jangan dengar yang dibacanya itu. Coba Abang baca tulisan yang jalan-jalan itu, kadang muncul dia di situ.”

Mata Budi menyipit memperhatikan running text. Dan, benar. Muncul juga yang ditunggu. ”Sial gak tu, Bang, sudah kita pilih dia, kan? Parah, baru dua tahun menjabat,” kata sopir lainnya.

Budi melihat sekeliling, ternyata sudah cukup banyak sopir di sana. ”Semua sopir angkot memilih dia, Bang!” aku yang lain. ”Kalau tahu kekgini, bagus tak usah milih kayak biasanya, kan? Abang pun mau terima dia kemarin itu,” timpal sopir lainnya lagi.

”Bah!” Budi pun berdiri. Dia pergi ke angkotnya. Dia ambil lima belas juta. Tanpa plastik. Tanpa amplop. Sisanya dia biarkan di angkot, berplastik hitam. Dia kembali ke warung. ”Ini kalian bagi lah. Menang taruhan aku,” katanya sembari balik lagi ke angkot. Menghidupkan mesin dan menuju rumah tanpa memedulikan para sopir angkot yang syok melihat uang sebanyak itu.

”Mana sarungnya? Mana sarung Haji Mansyur itu? Aku mau ke masjid!” teriak Budi.

Sang istri tersenyum dan langsung menuju lemari. Sarung berpindah tangan. Budi langsung memakainya. Dia pun bersiap berangkat.

”Kok uangnya kurang?” protes sang istri begitu membuka plastik hitam.

”Ribut kali pun kau, makanya nonton tivi!” balas Budi.

Medan Johor, 41

————————————-

MURAM BATU

Lahir di Limapuluh, Sumatera Utara. SD hingga SMA diselesaikan di Langsa, Aceh, kemudian merantau ke Jogjakarta. Kini sudah 11 tahun menetap di Medan. Karyanya masuk buku kumpulan cerpen Hujan Kota Arang (2018). Naskah dramanya Lena Tak Pulang terbit pada 2006.

 

Cerpen ini sudah dimuat di Jawapos.com dengan judul Sarung Wali Kota