Sekretaris PGRI Beltim: Guru Harus Biasakan Menulis

by -
Sekretaris PGRI Beltim: Guru Harus Biasakan Menulis
Sekretaris PGRI Kabupaten Belitung Timur (Beltim), Sadi Suharto, S.Ag.

belitongekspres.co.id, MANGGAR – Sekretaris PGRI Kabupaten Belitung Timur (Beltim), Sadi Suharto, S.Ag berpesan Guru harus membiasakan menulis. Karena, menulis sudah menjadi aktivitas dan bagian hidup sebagai seorang guru. Jangan sampai ketika diharuskan membuat karya tulis ilmiah maupun karya tulis lainnya, mereka berkilah tidak mampu menulis.

Tidak dapat dimungkiri, menurut Sadi bahwa banyak guru yang kurang dapat memanfaatkan dan memaksimalkan waktunya, baik ketika berada di sekolah maupun di rumah. Memaknai sebuah tulisan, tidak sekedar hanya terfokus pada tulisan karya ilmiah semata, tetapi itu hendaknya pula dimaknai dengan menulis tentang apa saja.

“Guru dapat menulis cerita tentang hari pertama praktik mengajar, cerita mengenai ketika pertama mengajar di sebuah sekolah yang baru, dan sebagainya. Guru pada zaman sekarang ini dituntut lebih profesional, lebih handal, dan lebih kompeten, hal itu menjadi tuntutan masyarakat modern. Maka wajar dan pantas bahwa sekarang ini menulis dalam bentuk publikasi ilmiah, adalah sarana untuk meningkatkan kemampuan guru dalam pengembangan profesi mereka lebih maju,” kata Sadi kepada Belitong Ekspres.

Dengan kegiatan publikasi ilmiah, kata Sadi, guru semakin diperkuat dengan hadirnya Permenpan dan RB Nomor 16 Tahun 2009 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya. Semula kewajiban publikasi ilmiah hanya dikenakan kepada guru yang akan naik pangkat dari Golongan IV.a ke atas. Namun berdasarkan Permenpan dan RB ini, kegiatan publikasi ilmiah guru harus dilakukan guru yang akan naik ke golongan III.c

“Merujuk pada Permenpan dan RB No. 16 Tahun 2009 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya, bentuk-bentuk kegiatan publikasi ilmiah yang dapat dilakukan guru dalam rangka pengembangan keprofesian berkelanjutan, yaitu Presentasi pada forum ilmiah. Menjadi pemrasaran/nara sumber pada seminar atau lokakarya ilmiah. Menjadi pemrasaran/nara sumber pada koloqium atau diskusi ilmiah. Melaksanakan publikasi ilmiah hasil penelitian atau gagasan ilmu pada bidang pendidikan formal,” ulasnya.

Selain itu, lanjut dia guru harus mampu membuat karya tulis berupa laporan hasil penelitian pada bidang pendidikan di sekolahnya. Diterbitkan/dipublikasikan dalam bentuk buku ber ISBN dan diedarkan secara nasional atau telah lulus dari penilaian BNSP. Juga membuat karya tulis berupa laporan hasil penelitian pada bidang pendidikan di sekolahnya, diterbitkan/dipublikasikan dalam majalah/jurnal ilmiah tingkat nasional yang terakreditasi.

“Guru juga harus bisa membuat karya tulis berupa laporan hasil penelitian pada bidang pendidikan di sekolahnya, diterbitkan/dipublikasikan dalam majalah/jurnal ilmiah tingkat provinsi. Membuat karya tulis berupa laporan hasil penelitian pada bidang pendidikan di sekolahnya, diterbitkan/dipublikasikan dalam majalah ilmiah tingkat kabupaten/kota. Membuat karya tulis berupa laporan hasil penelitian pada bidang pendidikan di sekolahnya, diseminarkan di sekolahnya, disimpan di perpustakaan,” urainya.

Tak hanya itu, kata dia, juga membuat makalah berupa tinjauan ilmiah dalam bidang pendidikan formal dan pembelajaran pada satuan pendidikannya, tidak diterbitkan, disimpan di perpustakaan. Selanjutnya, membuat Tulisan Ilmiah Populer di bidang pendidikan formal dan pembelajaran pada satuan pendidikannya. Lalu, membuat Artikel Ilmiah Populer di bidang pendidikan formal dan pembelajaran pada satuan pendidikannya dimuat di media masa tingkat nasional.

“Selain dari pada itu, membuat Artikel Ilmiah Populer dibidang pendidikan formal dan pembelajaran pada satuan pendidikannya dimuat di media masa tingkat provinsi (koran daerah). Membuat Artikel Ilmiah dalam bidang pendidikan formal dan pembelajaran pada satuan pendidikannya. Membuat Artikel Ilmiah dalam bidang pendidikan formal dan pembelajaran pada satuan pendidikannya dan dimuat di jurnal tingkat nasional yang terakreditasi. Membuat Artikel Ilmiah dalam bidang pendidikan formal dan pembelajaran, pada satuan pendidikannya dan dimuat dijurnal tingkat nasional yang tidak terakreditasi/tingkat provinsi,” kata dia.

“Lainnya, membuat Artikel Ilmiah dalam bidang pendidikan formal dan pembelajaran pada satuan pendidikannya dan dimuat di jurnal tingkat lokal(kabupaten/kota/sekolah/madrasah dan seterusnya). Melaksanakan publikasi buku teks pelajaran, buku pengayaan, dan pedoman guru, membuat buku pelajaran per tingkat/buku pendidikan per judul. Buku pelajaran yang lolos penilaian oleh BSNP. Buku pelajaran yang dicetak oleh penerbit dan ber ISBN. Buku pelajaran dicetak oleh penerbit tetapi belum ber-ISBN. Membuat modul/diktat pembelajaran per semester: Digunakan di tingkat Provinsi dengan pengesahan dari Dinas Pendidikan Provinsi,” imbuhnya.

Dari uraian tersebut, kata dia sangat jelas sesungguhnya banyak pilihan publikasi ilmiah yang bisa diambil guru, dalam rangka mewujudkan profesionalismenya. Mempublikasikan tulisan berarti mengibarkan bendera keilmuan.

“Oleh karena itu, guru hendaknya mampu mengibarkan bendera keilmuan masing-masing kepada khalayak melalui aneka karya tulis. Bila dengan membaca kita mengenal dunia, maka dengan menulis, dunia mengenal kita. Semua orang akan mati kecuali karyanya, maka tulislah sesuatu yang akan membahagiakan dirimu di akhirat kelak. Kalau kamu bukan anak raja dan engkau bukan anak ulama besar, maka jadilah penulis,” tandasnya. (dny)