Selama Pandemi, Kasus Curat di Belitung Naik 90 Persen

by -
Selama Pandemi, Kasus Curat di Belitung Naik 90 Persen
Jajaran Polres Belitung memperlihatkan BB Laptop, motor dan mobil saat konferensi pers, Rabu (11/3)

belitongekspres.co.id, TANJUNGPANDAN – Angka kriminalitas khususnya pencurian dengan pemberatan (curat) di Belitung, selama pandemi Covid-19 naik hingga 90 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Faktor ekonomi menjadi penyebabnya.

Bahkan untuk pelakunya lebih didominasi warga dari luar Belitung. Seperti kasus pencurian laptop di SMK Negeri 1 Tanjungpandan Maret 2020 lalu. Dalam kasus ini polisi berhasil empat tersangka. Mereka adalah DI, LA, SW dan RP warga Buton dan Pulau Bangka.

Sebanyak 13 laptop berbagai merek dan satu unit mobil diamankan Polres Belitung sebagai barang bukti (BB) kasus pembobolan di SMK Negeri 1 Tanjungpandan. BB tersebut ditunjukkan saat konferensi pers, di Mapolres Belitung, Rabu (11/3).

Selain mobil Honda Brio warna merah, juga ada satu unit sepeda motor matic sebagai BB. Pada kegiatan konferensi pers ini, polisi juga menghadirkan empat orang pelaku yang sudah ditetapkan sebagai tersangka. Mereka adalah DI, LA, SW dan RP.

Sedangkan yang kedua kasus pencurian timah di Kawasan Sijuk. Dalam kasus ini polisi mengamankan otak pelaku kasus pencurian timah yang merupakan dari luar Belitung. Dia adalah YH. Residivis asal Batam.

Selain mengamankan YH, polisi juga menangkap SY yang juga warga Belitung. Dia juga terbukti membantu YH saat melakukan pencurian dengan cara membobol gudang. Atas peristiwa tersebut, korban mengalami kerugian ratusan juta.

Ingin seperti ‘Robin Hood’, komplotan residivis melakukan pencurian pasir timah 360 Kg dan uang tunai Rp 376 juta di Kecamtan Sijuk, Maret 2020 lalu. Pelaku berdalih uang hasil kejahatan tersebut diberikan kepada fakir miskin yang ada di Bangka Belitung (Babel).

Kedua pelaku akhirnya berhasil diamankan Satreskrim Polres Belitung. Mereka adalah YH (48) asal Batam dan SY (37) warga Tanjungpandan, sementara satu orang lagi masih buron dan sudah masuk Daftar Pencarian Orang (DPO) Polres Belitung.

Wakapolres Belitung Kompol Andi Rahmadi mengatakan, dirinya tak menampik adanya kenaikan kejahatan konvensional, khususnya pencurian dengan pemberatan di Belitung. Didampingi Kabag OPS Polres Belitung Kompol Feri, Andi Rahmadi menjelaskan, pada semester pertama ada sebanyak 19 kasus pencurian dengan pemberatan. Yakni dimulai dari Januari hingga akhir Juni 2020.

“Rinciannya, di triwulan pertama (Januari sampai Maret) ada sebanyak 11 kasus. Sedangkan triwulan kedua (April Hingga Juni) ada sebanyak delapan kasus,” kata Andi kepada Belitong Ekspres, akhir pekan lalu. “Perbandingan di semester pertama 2019 lalu, hanya ada 10 kasus. Artinya, ada kenaikan 90 persen di tahun 2020. Diduga kuat penyebabnya adalah faktor pandemi Covid-19,” sambungnya.

Untuk mencegah naiknya kasus tersebut di semester kedua, Jajaran Binmas Polres Belitung terus melakukan upaya sosialisasi. Agar kejahatan di Belitung bisa ditekan. Dan juga berencana mengaktifkan kembali Pos Kamling.

Sementara itu, Pengamatan Hukum dan juga Lawyer di Belitung Marihot Silitonga SH MH, mengaku prihatin dengan tingginya angka pencurian di Belitung. Bahkan sampai naik hingga 90 persen, dari semester pertama tahun lalu.

“Kenaikan 90 persen untuk sekelas Belitung, sangat tinggi. Harus belitung lebih kondusif. Sebab, pulau ini merupakan tempat destinasi pariwisata yang sering dikunjungi wisatawan dari luar,” kata pria yang juga mengajar di Fakultas Hukum Universitas Terbuka.

Kata Marihot, berdasarkan pengalamannya saat beracara, faktor utama seseorang melakukan pencurian lantaran kendala ekonomi. Apalagi saat ini di Belitung juga mengalami pandemi Covid-19. Sehingga banyak orang yang kehilangan pekerjaan.

Sedangkan kebutuhan ekonomi serba mahal. Belum lagi yang memiliki tanggungjawab keluarga. Tentunya bagi orang yang tingkat pendidikannya rendah akan memaksa mereka untuk berbuat negatif. Salah satunya pencurian, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Adanya peningkatan kasus ini juga menjadi masukan kepada pemerintah daerah, agar lebih peka kepada masyarakat. Khususnya kalangan bawah. Dengan memberikan solusi untuk menciptakan lapangan kerja baru,” kata pria berdarah Batak ini.

Marihot meminta pemerintah harus merangkul masyarakat. Khususnya bagi yang terdampak Covid-19. Bahkan Pemda Belitung harus rutin menggelar seminar gratis. Yakni untuk mengembangkan diri untuk berkarya.

“Sehingga dengan adanya pelatihan-pelatihan masyarakat akan sibuk dengan mengembangkan diri. Dan aksi kriminalitas di Belitung bisa ditekan,” pungkas pengacara muda ini. (kin)