Seniman dan Budayawan Harus Eksis, Dukungan Industri Dibutuhkan

//Ketika Seniman, Budayawan dan Pelaku Wisata “Kelakar” Memajukan Pariwisata

foto -boks atas ngelakar pak rosihan

Foto” yudiansyah/BE
Budayawan Belitong Rosihan Sahib

Masalah pengembangan pariwisata menjadi perhatian khusus para Seniman, Budayawan dan Pelaku Pariwisata Kabupaten Belitung. Mereka pun sengaja menggelar pertemuan untuk ngelakar (berdiskusi), agar pariwisata menjadi masa depan masyarakat di Pulau Belitong.
Laporan: Yudiansyah, Belitong Ekspres
Bicara sektor pariwisata tak bisa lepas dari potensi seni budaya daerah. Untuk mendukung kemajuan sektor pariwisata, seni budaya harus diangkat sedemikian rupa agar mendapatkan porsi terbaik untuk menopang pariwisata.
Namun, untuk mempercepat pembangunan pariwisata, tak lepas dari dorongan industri pariwisata yang dikawal pelaku wisata seperti kalangan tour travel, UKMK dan penyedia jasa akomodasi seperti perhotelan dan maskapai penerbangan.
Terkait seni budaya misalnya, berbagai kekayaan seni budaya Belitong sebisa mungkin mendapatkan ruang untuk berekspresi. Selain di ajang-ajang formil di berbagai even dan pementasan, seni budaya yang digalang oleh seniman dan budayawan Belitong harus terus eksis. Apresiasi terhadap mereka sudah menjadi kewajiban para pemangku kepentingan (stake holder) pariwisata.
Ini disampaikan budayawan Belitong Rosihan Sahib dalam acara Kelakar pengembangan pariwisata khususnya, seni dan budaya di Pondok Kampong Dedaun, Pantai Pendaunan, Tanjung Tinggi Sijuk, belum lama ini.
Menurut warga Pangkallalang, Tanjungpandan ini, atraksi kesenian bisa diapresiasi dalam bentuk pentas-pentas di berbagai momen. Bisa saja di acara-acara yang dikemas oleh berbagai pihak, baik pemerintah, even organizer (EO), perhotelan, tour travel dan berbagai pihak yang peduli terhadap pelestarian seni budaya Belitong.
Lantas, bisa juga atraksi-atraksi seni budaya bisa ditampilkan di bandara sebagai pintu masuk utama turis datang ke Belitung. Ibarat turis sudah masuk bandara, sebelum “menikmati” jalan dan mulus serta destinasi  wisata, sudah ada kesan mendalam atas nuansa wisata Belitong.
Lebih detil dipaparkan. Bisa saja produk seni budaya Belitong sudah dikenalkan dengan mempoles bandara dengan nuansa seni budaya Belitong. Dimulai dengan menempatkan “petugas” penerima tamu yang berpakaian khas Belitong.  Demikian halnya di hotel-hotel, para petugas juga menyambut tamu dengan pakaian adat.
“Saya contohkan, ini misalnya kayak di Bandara Ngurah Rai Bali, petugas bandara menyambut tamu dengan pakaian adat. Kemudian di Bandara Jogja sekala berkala ada penyambutan Gamelan Jawa dengan sidennya,” ujar Rosihan yang dikuatkan nara sumber lainnya seperti disampaikan oleh Pimred Belitong Ekspres Agung CN.
Melebar dalam diskusi, Roisihan menuturkan, pelaku wisata juga diharapkan bisa bekerjasama dengan pelaku seni saat acara Maras Taun di berbagai desa wilayah Belitong. “Atraksi tari Campak dan Pantun, tata cara makan Bedulang di acara Maras Taun ini bisa jadi daya tarik bagi wisatawan,” kata Rosihan.
Sementara ketika berbicara mindset, setiap pelaku wisata harus fokus terhadap usaha dan bisa menjadi ciri khas. “Kalau mau jual kopi, ya harus fokus dan benar-benar digeluti, jangan dicampur-campur yang lain yang bisa mengurangi karakter penikmat kopi,” sebutnya.(bersambung)

iklan swissbell

Baca Juga:  Masyarakat Diajak Jadi 'Pelakor Bijak'
Tags:
author

Author: