Seniman Harus Manfaatkan Sumber Daya Lokal

by -

TANJUNGPANDAN-Seniman termasuk perupa di Pulau Belitung harus terus berkarya dan berimprovisasi secara konsisten.  Seniman dan perupa Pulau Belitong harus memanfaatkan sumber daya yang dimiliki di daerah lokasl yang sebenarnya kaya akan sumber daya alam ini. Seniman Belitong bisa menjadi terkenal di level nasional maupun internasional, asalkan selalu berkarya dan meningkatkan wawasan seluas-luasnya.
Demikian diungkapkan  seniman dan perupa Belitong, Mansyur Mas’ud yang akrab dipanggil Mansyur,  pelukis lulusan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta yang dulu bernama Sekolah Menengah Seni Rupa  (SMSR) Yogyakarta pada tahun 1986. Usai kuliah, perupa yang kini sering berada di Galeri kompleks Pasar Seni Ancol, pernah menjadi dosen di Medan dengan ikatan dinas. Namun, karena panggilan hati untuk menekuni sebagai seniman khususnya perupa, maka Masnyur Mas’ud memilih untuk menetap di Pasar Seni Ancol Jakarta sampai sekarang.
“Saya pernah tinggal di Pasar Senen, susah senang hingga akhirnya menetap di Pasar Seni Ancol yang di sana saya merasa nyaman dan bisa berkarya maksimal. Dan sejak tahun 1980 an itu juga saya selalu menamakan diri pelukis asal Belitung agar Pulau Belitung ini selalu dikenal seluas-luasnya,’’ ungkap Mansyur saat ditemui Harian Belitong Ekspres di Galeri Mansyur Taman Hiburan Tanjungpendam, Tanjungpandan, belum lama ini.
Sampai saat ini, Mansyur sudah membuat karya mencapai 10 ribu lebih. Karyanya itu tersebar di hampir seluruh bangsa dan separoh lebih negara-negara di dunia.  Berkat kegigihannya dan ketekunan serta konsistensi di dunia perupa, Mansyur beberapa kali meraih penghargaan dalam ajang kompetisi maupun pameran bergengsi, baik kelas nasional maupun internasional. Sehingga, terbilang Masnsyur merupakan perupa satu-satunya dari Belitung sampai saat ini yang sudah melanglang di kancah nasional maupun internasional.
Pria berkacamata ini berulang kali juga mencatat prestasi atas hasil karyanya. Selain melalui lelang, pameran-pameran lukisan yang diikuti Mansyur, juga semakin memacu untuk selalu berkarya dengan lebih berkualitas.  Dalam sebuah even Jakarta Art Award 2012, September 2012 di Galeri North Art Space, Pasar Seni Ancol, Jakarta, Mansyur mampu menyabet lima karya terbaik dengan judul lukisan “Detak Jantung Jakarta.”  Di ajang kompetisi yang diikuti 1200 pelukis nasioal dan internasional itu, karya Mansyur mampu menjadi lima terbaik dari sekitar 3500 karya pelukis. Selain piagam, lukisan yang sudah diminati kolektor di Jakarta itu mendapat hadiah sebesar Rp 75 juta.
Terakhir, Mansyur membuat karya lukisan berjudul Kelenteng Kelapa Kampit. Dalam acara peresmian kelenteng tersebut, lukisan Mansyur dilelang hingga diapresiasi mencapai Rp 46 juta, dengan separonya akan disumbangkan untuk yayasan.
Bagi Mansyur, dia berharap seniman tak hanya bicara soal rupiah. Tapi, bagaimana karya-karyanya bisa memberikan nilai bagi yang melihat dan menikmati sebuah lukisan. Sebab, pada saatnya karya-karya berkualitas dari seniman akan mendapat apresiasi dari penikmati seni.
“Kini sudah saatnya karya seniman, khususnya lukisan itu mendapat penghargaan yang wajar. Sehingga profesi seniman tak hanya bicara memberikan hiburan dan membuat orang lain senang, tapi sebuah profesi yang bisa menjanjikan kehidupan yang lebih baik,’’ pungkasnya.(kin)