Senja Di Kaki Kubing

by -
Senja Di Kaki Kubing

Oleh. Kie Guevara

Awan jingga di balik senja menggelantung di langit Tanjungpandan. Senandung sore dibuai angin dingin berhembus susuri pohon-pohon durian. Tanpa disangka gelegar petir memecah kesunyian sore jingga, aku terjebak dalam rapat yang belum sampai pada titik temu, mungkinkah masalah ini akan dapat kami tanggulangi’ ucapku dalam hati.

“Pak we, apa yang harus kita persiapkan?”, tanya Catur, sekretarisku.

“Kalau hal ini dibiarkan bisa gawat jadinya”, seru Tileng, Ketua Divisi Lingkungan dan Konservasi.

“Bagaimana kalau kita ajak mereka bicara baik-baik, mungkin saja masalah ini dapat terselesaikan dengan mudah”, usul anggota yang lainya.

“Bagiku ini sudah jelas! Mereka ingin merusak Gunung Kubing dengan dalih pariwisata, panggil kawan-kawan untuk rapat seluruh anggota secepatnya, dan Catur tolong siapkan foto-foto yang didapat kawan-kawan Perepat, aku ingin masalah ini di ekpos media secepatnya”.

“Maaf Pak We, tapi masalah ini tidak bisa diselesaikan dengan langsung ke media seperti itu, kita harus berbicara kepada masyarakat Perepat agar mereka percaya kepada kita bahwa perusahaan itu hanyalah kamuflase semata,” sergah Tileng.

“Saya tahu seberapa penting Gunung Kubing buat kita dan masyarakat. Jika kita salah langkah, maka masyarakat yang akan jadi korbannya”.

**

Belum hilang pusing di kepalaku setelah rapat tadi siang, aroma masalah itu berlalu lalang tanpa henti di otakku, bagaimana cara keluar dari permasalahan ini. Tidak kusangka, mereka yang awalnya berniat baik, ingin menjadikan kubing sebagai tempat pariwisata ternyata hanya kedok semata. Di balik semua itu, ternyata ada niat untuk menjadikan kubing sebagai kawasan tambang timah. Memang manusia serakah! ucapku, tak puaskah kau hancurkan negeri ini hanya untuk kepentingan perut besar kelompokmu saja.

Lalu terlintas imaji di otakku “Mengapa tak kucoba cara lain agar timah itu dikupongkan (di kosongkan) saja kadarnya,” kalau perlu sekalian dihilangkan seperti yang terjadi ratusan tahun lalu, saat Belanda ingin menjadikan kawasan Membalong sebagai daerah tambang timah.
“Ha ha ha ha…,” itu dia ide yang sangat bagus untuk memecahkan masalah ini, akan kucari dukun yang paling hebat.

Kuhirup sedikit demi sedikit air teh tanpa gula dari cangkir kaleng hijau bermotif bunga. Ingatanku melayang jauh saat pertama kali kami menelusuri indahnya Tebing Kubing. Danau buatan Jepang menyambut kami saat sampai pertama kali di sana. Dari jauh, tebing-tebing Kubing memanggil-manggil untuk kami singgahi.

Pohon-pohon besar seakan-akan menyapa dengan dahan dan rantingnya yang menari mengikuti angin. Tanah-tanah merah masih basah oleh guyuran hujan semalam. Saat langkah kaki kami memasuki gerbang hutan dari pohon-pohon bambu yang berada di kiri dan kanan jalan, serasa memasuki dunia khayal di negeri Antah Berantah, ucap batinku tanpa dikomando.

Bebatuan granit tersusun rapi seperti anak tangga menuju surga. Gemericik air laksana alunan biola pengiring Campak Darat, bersaut-sautan saling mengisi dengan kicauan burung Murai Batu di barisan pohon Sekuncung.

Langkah kami terhenti sambil berdecak kagum, inikah surga tersembunyi di balik angkuhnya tebing curam Gunung Kubing? Belumlah puas kekaguman kami akan eksotisnya tempat ini, dari jauh terdengar suara monyet bersaut–sautan seperti beradu pantun kawinan adat Belitong. Seirama dan saling mengisi.

“Mungkin mereka peka akan datangnya manusia. Sebaiknya kita bakar kayu gaharu dan kemenyan pemberian dukun kampong sebelum kita lanjutkan perjalanan ini, biar seisi alam merestui kehadiran kita,” saran seorang kawan.

Langkah demi langkah tangga batu kami susuri. Walau terasa agak licin oleh lumut hijau, kaki kami seakan tak mau berhenti melangkah dan kadang sedikit melompat dari batu ke batu. Kami tetap berdecak kagum akan indahnya pemandangan yang disuguhkan kepada kami. Tak terasa sudah hampir satu jam perjalanan kami menyusuri tepian bebatuan. Kadangkala sedikit melompat menghindarkan genangan air, kadang pula berpegang pada dahan-dahan pohon agar tak tergelicir.

Tapi dengan semangat Empat Lima, akhirnya kami sampai pada tebing yang cukup terjal. Untungnya, banyak akar-akar pohon merambat sebagai pijakan dan pegangan sehingga sedikit memudahkan langkah kaki menggapai salah satu surga tersembunyi ini.

Sesampainya di atas, kami disambut oleh hamparan batu cukup lebar, dihiasi kolam alami di antara terjalnya batuan cadas yang digenangi air. Sebening kaca yang kemudian melunturkan keringat kami.

“Wow! inikah kolam alami para bidari di ketinggian cakrawala,” aku bergumam dalam hati.

Telaga Bulan ternyata bukan hanya legenda, tapi benar adanya. Kolam ini laksana pemandian di atas awan. Di depan mata memandang, hamparan hutan hijau bak permadani bersulam emas. Terus terang aku terpukau.

Titik- titik keringat membasahi wajahku dan membawaku kembali dalam alam sadar. Kesadaranku belum sepenuhnya pulih. Dengan refleks aku mencubit pipiku dan kurasakan sedikit sakit menahan perih, aku berusaha membuka mata dan mencoba melihat keadaan sekeliling.

Ternyata aku tertidur di ruang tamu. Dan, teh tanpa gula di gelas kaleng hijau bermotif bunga tadi sore menyapaku kembali dengan senyuman.
“Jangan memaksakan diri, lebih baik sekarang ayah kembali istirahat sampai otak ayah kembali fresh,” suara seseorang tiba-tiba mengagetkanku sambil menyodorkan handuk, yang ternyata adalah anakku.

“Segeralah mandi, ayah. Nanti sakit gigi ayah kambuh loh,” ucapnya sambil sedikit nyengir.

Kulangkahkan kakiku ke arah kamar mandi yang jaraknya terasa begitu jauh. Kusiramkan air, mengalir membasahi tubuhku, menghapus memori sesaat tentang Kubing yang terancam diperkosa oleh otak bejat para pengusaha tak bernurani.

**

Agenda pertemuan dengan masyarakat Perepat hari ini sudah pasti. Kami berenam pergi dengan segudang harapan. Semoga masyarakat sadar untuk tidak tergoda dengan manisnya bujuk rayu sang pengusaha pariwisata palsu.

Perjalanan menuju Membalong cukup melelahkan. Selain jalan yang sedikit sempit dan banyaknya lubang, menambah hangat suasana perjalanan ini. Tapi yang membuat kami terus melangkah adalah panggilan Tebing Kubing yang selalu berkelana dalam otak kami. Sebab, masih banyak lokasi yang belum kami susuri.

Kami tidak akan pernah rela hutan yang terus terjaga sejak zaman Lanun ini akan hilang ditelan keserakahan. Hutan Kubing adalah hutan alami yang dijaga turun-temurun. Selain hutan larangan yang menghubungkan dua desa, antara Desa Lasar dan Desa Perepat, barang siapa yang melanggar hutan tersebut dengan menebang sembarangan, maka Sakai pasukan sakti Gunung Kubing akan menculik dan memasukannya ke Gua Mak Santen. Untuk (jangka) waktu, yang kita manusia, tidak akan pernah tahu.

Satu Jam perjalanan tak terasa. Sebab, rasa letih akan terbayar ketika melihat Gunung Kubing menyapa kami dengan senyum penuh harap.

“Tet tet…!” klakson motor menandai kehadiran kami di rumah Dukun Kampong Perepat, yang sudah cukup kami kenal sejak pertama ekspedisi penelusuran Gunung Kubing beberapa tahun silam.

Kehadiran kami disambut sajian khusus masyarakat Perepat, yakni segelas Air Legen dari Pohon Kabung. Lalu Perlahan-lahan air legen menyusuri ronga tenggorokanku, sedikit melepas dahaga, serta menjinakkan cacing– cacing dalam perutku yang sedari tadi terus berteriak sedang demontrasi minta diisi. Seakan-akan ingin menerobos keluar dari dalam perutku.

Tanpa diduga, dari dalam rumah terdengar suara berat sang dukun, “Anak Muda, silahkan masuk! kita makan bedulang. Kebetulan tadi diantar ikan dari Dukun Kembiri yang baru selesai acara Nirok Nanggok. Silahkan dibuka dulangnya, kita habiskan Sayur Rebung, ikan goreng Mengkawak, dan Sambal Belacan buatan nenek,” ucapnya penuh kebanggaan kepada istri, sebab masyarakat Membalong sangat menghargai istrinya yang bisa masak.

Setelah dahaga dan lapar terlampiaskan, kami duduk santai bersila ditemani beberapa gelas kopi dan rokok gawai yang disajikan dalam gelas, pertanda ada tamu yang bertandang. Lalu, satu-persatu beberapa perwakilan masyarakat ikut bergabung dalam lingkaran. Tak ketinggalan Pak Kades Perepat datang dengan beberapa perangkat desa.

“Assalamuallaikum,” Dukun Kampong memulai berbicara dengan suara pelan namun terdengar jelas, lalu Sang Dukun Kampong mempersilahkan kami untuk berbicara dengan masyarakat yang telah hadir dalam pertemuan.

“Assalamuallaikum dan selamat sore. Perkenalkan aku dan kawan–kawan dari Gerakan Pecinta Alam Belitong, hadir hari ini ke Desa Perepat untuk bersilatuhrahmi dengan masyarakat sini. Sekalian, ingin berjumpa secara langsung dengan bapak–bapak perangkat desa untuk sekedar berbagi informasi kepada masyarakat dalam menyikapi akan adanya pengusaha, yang katanya akan membangun Gunung Kubing sebagai salah satu objek pariwisata bertaraf internasional.

“Apakah Pak Kades sudah pernah didatangi pengusaha yang saya sebutkan tadi?” tanyaku.

“Beberapa minggu yang lalu memang kami didatangi beberapa orang yang ngakunya dari Jakarta. Dan, kalau tidak salah juga didampingi orang Tanjungpandan berperawakan tinggi besar dan berlogat lebih mirip Indo dari pada orang Belitung asli. orang itu menyerahkan map berisi beberapa gambar yang katanya hotel akan dibangun di kawasan Gunung Kubing, beserta perjanjian kerja sama yang isinya tidak terlalu kami pahami,” ungkap Kades membeberkan pertemuannya.

Mendengar jawaban Pak kades, rekan kami yang juga dari Gapabel langsung mengajukan pertanyaan pada masyarakat yang hadir.

“Apakah bapak–bapak setuju kalau Gunung Kubing dijadikan objek pariwisata?” tanya Tileng.

“Pada dasarnya, kami, masyarakat Perepat sangat senang apabila alam kubing dapat kami persembahkan untuk orang banyak. Selain dapat membuka lapangan pekerjaan baru, juga yang pasti akan menambah masukan kas desa,“ ucap Sekertaris Desa dengan nada cukup tinggi, disertai anggukan beberapa perangkat desa lainnya.

“Kalian Yakin?” tanya Danu dengan nada yang juga cukup tinggi. “Apakah kalian sudah tahu siapa mereka? Bagaimana sepak terjang mereka? mereka itu pengusaha tambang timah yang pernah merusak kawasan Gunung Tajam dan Batu Mentas dengan alasan yang sama seperti yang dijanjikan terhadap Gunung Kubing,” tegas Danu.

Catur dengan agak tergesa-gesa mengeluarkan beberapa foto dan kliping koran tentang kegiatan para pengusaha tersebut ketika merusak Gunung Tajam.

“Apakah kalian mau seperti ini?”, ucapnya sambil memberikan foto dan beberapa kliping koran tersebut ke perangkat desa.

Terdengar suara orang teriak di luar rumah, “Provokator, kalian orang Tanjungpandan hanya bisa protes. Kalian mau kasih makan kami apa?”

“Tenang–tenang,” ucap Kik Dukun sambil berlari keluar rumah dengan suara yang ditinggikan. “Kalian anggap saya ini apa? Kalau kalian merasa benar silahkan masuk, kita diskusikan sama–sama, bukan dengan teriak–teriak mirip orang Sekak, dak beradat!” ucapnya.

Laki–laki beperawakan hitam dan tinggi besar itu tertunduk, diam tak berbunyi sepatah kata pun.

“Iya kik,” ucapnya sedikit pelan, lalu terdiam seribu bahasa.

“Hei Bucoi, kau itu harusnya berterima kasih kepada mereka. Jauh–jauh mereka datang ke sini untuk mengingatkan kita. Mengingatkan ketidaktahuan kita, mengingatkan arti pentingnya Gunung Kubing buat anak cucu kita di masa datang. Kalian rela jikalau Gunung Kubing ini hancur akibat keserakahan manusia–manusia yang hanya selalu mementingkan isi perut tanpa berpikir panjang ke depannya. Kita dari zaman dulu tidak pernah kesusahan untuk makan. Kita masih punya kebun untuk ditanam lada, kita masih punya laut untuk mencari ikan, kita masih punya hutan untuk mencari kayu bakar, kalau semua itu rusak baru kita tidak bisa makan. Kau paham”, ucap Kik Dukun , dengan nada sedikit geram.

“Sudah–sudah” ucap pak kades. “Bucoi, sekali lagi kau kurang ajar, maka tak segan-segan kami akan menghukum kau ke Gua Mak Santen secara adat. Tanpa berkata–kata sedikit pun, Bucoi mencium tangan Kik Dukun pertanda dia menyadari kekeliruannya. Menyadari bahwa selama ini dia termakan bujuk rayu dan iming–iming kaki tangan tangan pengusaha.

Seketika suasana hening menghampar di ruangan kayu beratapkan daun rumbia tersebut.

“Maafkan kekhilafanku saudara–saudara, dan hari ini aku berjanji tidak akan mengulangi perbuatanku. Hari ini aku berjanji akan menjadi orang terdepan yang akan menjaga kelestarian hutan kita, Gunung Kubing kita, dari tangan tangan jahat”, ucap Bucoi yang masih dibumbui perasaan bersalah.

“Sudah–sudah yuk kita selesaikan menggale goreng buatan nenek,” ucap Kik Dukun Kampong sambil membawa beberapa piring kaleng menggale yang harumnya menghipnotis ruangan, tanpa kami sadari.

Suasana kian cair setelah terjadi riak–riak kecil dalam rapat tadi. Bucoi yang tadinya begitu ngotot akan keberadaan para pengusaha mulai memberanikan diri untuk berbicara dari hati ke hati dalam rapat kecil ini, walaupun tidak bisa dibohongi, raut wajahnya masih menyimpan sesal yang teramat dalam.

“Kik Dukun, Pak Kades, dan Bapak–bapak, serta sedare–sedare sekalian. Beribu–ribu maaf saya haturkan atas kekeliruan saya memandang kawan-kawan dari Tanjungpandan tadi. Dari lubuk hati yang paling dalam, saya meminta maaf. Tak lain tak bukan karena saya akui saya termakan bujuk rayu kaki tangan pengusaha tersebut, yang akan menjanjikan kesejateraan buat saya ke depannya,” ucap Bucoi, tak habis-habisnya merasa bersalah.

Seraya kemudian melanjutkan, “Tapi, setelah saya berpikir dengan matang, baru saya sadari, Kubing adalah rumah saya. Rumah penghidupan saya. Rumah bagi anak cucu saya ke depannya. Maka, di rapat yang terhormat ini, saya berjanji di hadapan sedare–sedare semua untuk menjadi garda terdepan dalam menjaga kelestarian Gunung Kubing,” janji Bucoi.

Tanpa kami sadari, hanya dengan Bepaham, ternyata sekat–sekat dinding yang selama ini membentengi rasa keegoisan masing–masing, luntur dengan sendirinya.

Catur yang biasanya terkesan tomboy, hari ini meneteskan air mata di pipinya yang cekung. Tileng tertunduk penuh haru. Danu yang biasanya berapi–api diam seribu bahasa, dan aku yang didampingi Jaya dan Ambon langsung berdiri untuk merangkul Bucoi.

Langsung kubisikan di telinga kirinya sebuah kalimat, “Kau jadi saudara kami hari ini, kawan.”

Senja yang jingga itu ditutup dengan segudang rasa. Tapi yang pasti, senja ini adalah senja kemenangan buat kami bersama. Senja pun berlalu, berganti dengan malam penuh bintang. Bunyi-bunyian burung malam dan suara jangkrik menghantar tidur kami malam ini dengan senyuman.***