Sepakbola Belitung Butuh Perhatian Serius

by -

*Stadion Dinilai Tidak Layak, SDM Masih Butuh Belajar Banyak

foto A- kondisi stadion pangkallalang (2)

Caption: foto A: ainul yakin
TAK LAYAK: Kondisi Stadion Pangkallalang di Tanjungpandan Belitung saat hujan air menggenang sehingga pemain sangat kesulitan bermain. Situasi foto saat adanya coaching clinic dari PT Pertamina

TANJUNGPANDAN-Kritikan dan masukan membangun sangat dibutuhkan semua bidang untuk kemajuan daerah, termasuk  bidang olahraga berikut sarana dan prasarananya. Salah satu sarana olahraga sepakbola di Belitung, Stadion Pangkallalalang mendapat kritikan tajam dari tokoh sepakbola nasional Bent Penturi. Sebab, kondisinya dinilai masih jauh dari harapan maupun standar.
Bent Penturi mengatakan, sepakbola Belitung bisa maju  asalnya mempunyai stadion yang relatif memadai. “Bukan seperti Stadion ini (Pangkallalang,red). Ini sangat tidak layak,” kritik Bent saat diwawancara Belitong Ekspres, Minggu (16/3) lalu di sela-sela kegiatan CSR PT Pertamina Coaching Clinic  di Stadion Pangkallalang.
Menurut Bent Penturi, masih banyak yang harus dilakukan oleh pemerintah. Di antaranya pembinaan pemain usai dini, pelatihan pemain muda dan infrastruktur stadion. Hal-hal tersebut merupakan modal utama dalam membangun sepakbola di Belitung.
“Tidak dapat dipungkiri, faktor stadion menjadi nomor satu dalam pembangunan sepakbola. Seperti di sejumlah daerah atau di Belanda, tepatnya di Amsterdam, dulu sepakbola di kota tersebut belum maju. Namun, dengan adanya stadion baru, membuat gairah sepakbola di kawasan tersebut meningkat. Hingga akhirnya kota tersebut menjadi barometer sepakbola di Belanda,” ujar pria berdaarah Indonesia-Belanda ini.
Kata Bent, Sumber Daya Manusia (SDM) di Belitung masih butuh sentuhan yang maksimal. Sebab, masih ada sejumlah titik lemah yang harus dibenahi secara serius. Dirinya mengaku sulit jika mengajarkan tentang sepakbola pada para pelatih di Belitung jika tak mendapat dukungan penuh dari berbagai pihak, khususnya pemerintah daerah. “Semua masih ada peluang, buktinya mereka semangat mengikuti arahan darinya dalam program klinik ini,’’ ungkap tokoh yang juga pengamat sepakbola ini.
“Mereka sangat semangat, ketika saya memberikan pelatihan dan arahan. Itu, yang membuat saya memberikan apresiasi. Rata-rata yang menjadi pelatih di Belitung mayoritas masih muda-muda,” katanya.
Untuk meningkatkan pengetahuan para pelatih, lanjut Bent, para pemain dan pelatih harus banyak belajar melalui berbagai media, salah satunya melalui  internet. Banyak hal yang harus dirubah dan ditingkatkan dari sisi ilmu dan pengetahuan seputar persepakbolaan. “Jika perlu belajar ke daerah lain atau ke pusat-pusat pelatihan agar ilmunya bertambah dan memiliki pemikiran yang terbuka luas,’’ sarannya.
“Sepakbola merupakan permainan tim, bukan individu. Para pemain dan pelatih harus banyak belajar melalui. Dan untuk pemerintah, setidaknya setahun sekali harus mendatangkan pelatih yang berpengalaman dan memiliki lisensi semisal lisensi A-AFC maupun FIFA,” ujar rekan Indra Syafri ini.
Dirinya berharap, untuk kedepan sepakbola di Belitung bisa lebih maju, dengan namanya lebih berkibar seperti di Kota-kota besar semacam Surabaya, Bandung ataupun Jakarta. “Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini, jika kita berusaha pasti bisa,”pungkasnya.(kin)