Setiap Pukesmas Harus Stanby Apoteker

by -1 views

Untuk Bertanggungjawab Peredaran Obat Keras
PANGKALPINANG – Peringatan Hari Persatuan Farmasi Indonesia pada 13 Februari 2016 yang lalu memberikan harapan baru bagi tugas-tugas dunia ke farmasian khususnya di Bangka Belitung, agar semakin baik lagi khususnya di tahun 2016 ini. Termasuk pula pemahaman masyarakat tentang bagaimana menggunakan obat, mendapatkan dan membuangnya secara benar dan tidak sembarangan.
Ketua Jurusan Farmasi Fakultas Politeknik Kesehatan Provinsi Bangka Belitung Rahmawati Felani Juriah kepada Babel Pos memberikan tanggapannya. Menurutnya sangat diharapkan para SDM farmasi khususnya di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung ini dapat semakin mampu menjalankan tugas-tugas ke farmasian yang telah ditentukan dengan semakin lebih baik.
“Di Babel sendiri kalau untuk sifatnya yang menerapkan bidang ke farmasian sesuai dengan standarnya barang kali masih belum mencapai sebagaimana yang diharapkan. Dan hal ini dikarenakan terutama Babel masih kekurangan tenaga ke farmasian.
“Tapi insyaAllah saya lihat makin ke sini ke arah menuju kepada kondisi ke yang lebih baik tetap ada, dan tenaga-tenaga farmasi yang dibutuhkan tersebut sudah mulai agak terbantu,“ sebutnya.
Namun diharapkan pemerintah tetap memberikan perhatian terutama menyangkut masalah SDM tersebut. Sebab selama ini di pukesmas yang seharusnya tersedia apoteker yang stanby disana, tetapi nyatanya apoteker seperti di Pangkalpinang pun hanya baru ada beberapa.
“Masyarakat harus tau bagaimana caranya mendapatkan obat menggunakan dan menyimpan termasuk membuangnya dengan benar. Sehingga memang penyuluhan-penyuluhan semacam ini harus tetap dilakukan,“ sebutnya.
Ia juga berharap kepada masyarakat agar semakin memahami bahwa sebenarnya obat  tidak boleh digunakan sembarangan. Sehingga kalau sakit maka gunakanlah obat dengan sebaiknya. Atau pun kalau tidak tau dan ragu aman tidaknya obat tersebut maka sebaiknya menanyakan langsung ke apoteker ataupun tenaga yang ada di tempat tersebut. Jangan langsung mengGunakan begitu saja.
Misalnya karena teman bilang penyakit ini obatnya ini, maka jangan langsung percaya, sebab  tidak semua orang obatnya bisa sama. Sebab kalau digunakan tidak sesuai dengan aturanya atau dosisnya maka bisa jadi akan bersifat racun.
“Kalau yang digunakan adalah obat yang biasa untuk pengobatan sendiri, pilihan sendiri, masalah. Tapi kalau misalnya obat yang digunakan adalah obat keras, maka pihak farmasi sendiri yang dinaungi oleh berbagai organisasi seperti, Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) dan Persatuan Ahli Farmasi Indonesia (PASI) juga terus memberikan perhatian maupun mengawasi untuk tau darimana obat tersebut bisa di dapatkan. Karena bagaimanapun terhadap obat-obat keras ini maka apoteker juga ikut bertanggung jawab terhadap peredaran obat-obatan tersebut. Makanya harus ada pengawasan,“ tambahnya lagi. (lya)

.