Sidang Kasus Reklamasi Pantai Air Saga, Toni Sebut Bahamas Tak Kantongi Izin

by -
Sidang Kasus Reklamasi Pantai Air Saga, Toni Sebut Bahamas Tak Kantongi Izin
Sidang Pemeriksaan Setempat (PS) di Hotel Bahamas kawasan Air Saga, Kamis (25/2) lalu.

belitongekspres.co.id, TANJUNGPANDAN – Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri (Kejari) Belitung menghadirkan Toni Irawan (49) dalam sidang pemeriksaan saksi perkara reklamasi Pantai Air Saga, di Pengadilan Negeri Tanjungpandan, Kamis (4/3).

Selama dua jam lebih, Toni dicecar sejumlah pertanyaan oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri Tanjungpandan. Di depan Hakim Ketua Himelda Sidabalok yang didampangi hakim anggota AA Niko dan Andika Bhatara, ia menjelaskan terkait kasus yang menjerat korporasi PT BMMI.

Menurut Toni yang juga tersangka kasus pengerusakan lingkungan hidup pantai Air Saga, beberapa tahun lalu dia sedang melakukan pekerjaan reklamasi di samping Hotel Bahamas. Lalu, dia dipanggil oleh petinggi hotel tersebut.

Saat mereka bertemu, akhirnya hotel itu tertarik untuk melakukan reklamasi. Hingga akhirnya terjadilah perjanjian dan kesepakatan untuk melakukan reklamasi. “Saat perjanjian waktu itu ada ibu Feny (orang Bahamas), serta Bestiandy Rhusianto (terdakwa). Setelah itu, kita lakukan pekerjaan pada tahun 2017,” jelas Toni.

Ketika ditanyai mengenai masalah perizinan reklamasi di kawasan Pantai Air Saga, ia mengaku tidak ada izin. Meski begitu, Toni tetap melakukan penimbunan di kawasan yang diindikasikan sebagai hutan mangrove tersebut.

“Waktu itu, kita berusaha untuk membuat izin. Namun saat saat itu, regulasi undang-undang yang mengatur tentang reklamasi baru disahkan tahun 2019. Sehingga kami memiliki hak untuk tetap melakukan penimbunan,” terangnya di hadapan Majelis Hakim, JPU dan penasihat hukum terdakwa.

Untuk pembangunan talud hingga penimbunan keduanya sepakat dengan harga kurang lebih Rp 1,3 miliar. Selama masa pekerjaan tidak ada komplain dari pihak Bahamas. “Seandainya dulu pada saat melakukan reklamasi, pihak Bahamas meminta berhenti, maka kita akan hentikan. Namun saat itu mereka tidak meminta itu,” pungkasnya.

Sebelumnya, untuk mengetahui secara langsung permasalahan permasalahan kasus reklamasi PT BMMI, Pengadilan Negeri Tanjungpandan dan JPU menggelar Sidang Pemeriksaan Setempat (PS) di Hotel Bahamas kawasan Air Saga, Kamis (25/2).

Dalam kasus ini, Bestiandy Rhusianto didakwa oleh Kejari Belitung dengan Pasal 98 Ayat 1 Juncto Pasal 116 Ayat 1 huruf a Undang-undang Republik Indonesia (UURI) Nomor 32 Tahun 2009 Tentang Perlindungan dan Pengelolaan lingkungan hidup.

Pasalnya, korporasi PT BMMI dinilai jaksa telah melakukan reklamasi tanpa izin. Sehingga mengakibatkan kerusakan ekosistem mangrove seluas 0,42 hektar di kawasan Air Saga, Kecamatan Tanjungpandan, Kabupaten Belitung.

Akibat kegiatan reklamasi tersebut, negara mengalami kerugian Rp 1.783.575.711.25 (satu miliar tujuh ratus delapan puluh tiga juta, lima ratus tujuh puluh lima ribu, tujuh ratus sebelas koma, dua lima rupiah).

Menanggapi sidang tersebut, terdakwa Bestiandy Rhusianto (BR) mengaku keberatan dengan keterangan saksi Toni. Khususnya masalah perjanjian. “Khususnya perjanjian pembayaran,” kata BR di hadapan Majelis Hakim.

Usai sidang Penasihat Hukum (PH) BR, C. Suhadi SH, MH mengatakan, dari kesaksian Toni dalam perkara ini sebenarnya tidak ada kaitan dengan perusahaan. Sebab, yang melakukan perjanjian adalah bukan perusahaan akan tetapi antara Feni dan Toni.

“Sehingga pihak perusahaan tidak ada kaitannya dalam masalah ini. Apalagi dalam hal ini, Toni melakukan reklamasi bertindak sendiri yang mengatasnamakan Fenytermasuk juga dalam pengurusan izin,” sebut Suhadi.

Menurutnya, Hotel Bahamas merupakan suatu perusahaan berbadan hukum, yang apabila bertindak keluar harus ada kaitannya dengan direktur. “Kesimpulannya perusahaan tidak tahu menahu. Satu lagi, dalam menyikapi kasus ini menjadi kabur dan tidak jelas,” pungkasnya.

Sementara itu, JPU Kejari Belitung Jaksa Tri Agung Santoso mengatakan, pihanya sudah mendengar secara langsung sidang kemarin. Apa yang diungkapkan Toni akan disampaikan dalam tuntutan nanti. “Toni merupakan saksi kunci dalam kasus ini. Tadi sudah diungkapkan oleh Toni, dalam reklamasi itu tidak ada izin,” kata Agung. (kin)