Sidang Pembunuhan Museum Maritim Digelar

by -

Lima Terdakwa Berikan Pengakuan Saat Kejadian

 

TANJUNGPANDAN-Pengadilan Negeri (PN) Tanjungpandan menggelar sidang perdana, kasus pembunuhan Ali Imron di Museum Maritim Sijuk, (23/11) lalu. Sidang yang mengagendakan pembacaan dakwaan dan pemeriksaan saksi-saksi ini dilaksanakan di Ruang Sidang PN, Rabu (3/1) kemarin.

Sidang dipimpin Hakim Ketua Ferdinaldo didampinggi Anggota Hakim Khalid Soroinda dan Saeful Imam. Dalam sidang ini menghadirkan lima orang tersangka utama yakni
Hamdani (39), Samin (32), Suprayogi (23), Agus (34) dan Wandi (36).

Selain itu, Jaksa Penuntut Umum Kejaksaan Negeri Tanjungpandan Iwan Nuzuardi juga menghadirkan saksi-saksi di antaranya Zuliadi alias Dicung (Kakak Hamdani), Fitri Megawati (Istri Hamdani) dan Supi (Bos Ali Imron).

Dihadapan Majelis Hakim Pengadilan Negeri Tanjungpandan, JPU Kejaksaan Negeri Tanjungpandan membacakan dakwaan sidang perdana ini. Menurutnya, kelima pelaku di dakwa  Pasal 170 Ayat 2 ke 3. Tentang pengeroyokan yang menyebabkan meninggalnya seseorang.

Menurutnya, saat itu kelima korban melakukan pengeroyokan secara bersama-sama hingga menyebakan Ali Imron meninggal dunia. Barang bukti yang diamankan yakni, hape, motor dan satu batang kayu yang digunakan memukul korban hingga meninggal dunia.

Atas dakwaan itu, kelima pelaku yang didampinggi penasehat hukumnya Heriyanto SH, membenarkan apa yang di dakwa oleh JPU Kejaksaan Negeri Tanjungpandan. “Benar,” ujar Hamdani diamini  Samin (32), Suprayogi (23), Agus (34) dan Wandi (36).

Sidang dilanjutkan dengan pemeriksaan saksi-saksi. Zuliadi alias Dicung mengatakan, sebelum kejadian dirinya di telepon oleh Hamdani, lantaran ia memergoki sang istri selingkuh dengan korban di Museum Maritim.

“Hamdani menelpon saya, mengatakan istrinya selingkuh, setelah itu dia meminta saya datang ke lokasi untuk membawa polisi,” ujar Dicung di hadapan majelis hakim dan jpu, saat persidangan kemarin.

Mendengar informasi itu, dirinya datang ke lokasi dan menelepon anggota polisi. Setiba Museum Maritim dia melihat kondisi korban sudah tidak bernyawa lagi. “Hanya itu, yang saya ketahui,” kata Dicung.

Sementara itu, Fitri Megawati alias Pipit mengakui bahwa kelima terdakwa ini mengeroyok korban. Dijelaskan wanita ini, sebelum kejadian dia berencana untuk menginap ke hotel dengan korban yang berada di Tanjung Tinggi.

Sebelum menginap, dirinya bersama korban janjian di museum maritim. Setelah bertemu korban, dia ngobrol-ngobrol dengannya. Sekitar 15 menit kemudian kelima terdakwa ini datang dengan menyorot senter ke wajahnya.

“Setelah itu korban berkata “kamu”. Namun, mereka (kelima terdakwa,red) mengejar Ali, dan mengeroyok, hingga akhirnya korban tewas. Saya akui, aku selingkuh dengan korban,” katanya.

Terpisah, Supi mengaku sebelumnya ia diberitahu oleh warga sekitar kalau Ali terkapar di Museum Maritim. Mendapat laporan itu, dia menuju ke lokasi. Betapa kagetnya dia ketika melihat anak buahnya tidak bernyawa lagi.

“Kami melihat kondisi tubuh bagian wajah memar. Setelah itu, kami bawa ke RSUD Marsidi Judono dan esok harinya (24/1) korban kita makamkan di Tanjungpandan,” katanya. (kin)