Sisi Lain Dampak Pengembangan Pariwisata

Dermaga Kirana(Rumah Keong) Belitung. Foto. belitungtimurkab.go.id

Oleh :IRSYADINNAS
Statistisi Pemda Belitung Timur

RajaBackLink.com

Studi Kasus Analisa Deskriptif Pengembangan Pariwisata di Bangka Belitung

Pariwisata dalam banyak literasi seringkali diartikan sebagai mesin penggerak ekonomi atau penghasil devisa bagi pembangunan ekonomi di suatu daerah, dan secara agregat, dalam skala nasionalpun berlaku definisi serupa. Namun demikian faktanya, pariwisata sesungguhnya memiliki spektrum fundamental pembangunan yang lebih luas dari sekedar tujuan ekonomi bagi suatu daerah.

Beberapa alasan yang menyebabkan sektor pariwisata menjadi salah satu sektor unggulan yang dikembangkan di berbagai daerah, tak terkecuali Pulau Belitung kita yang tercinta ini adalah setidaknya mencakup berikut ini: (1) Pariwisata sebagai faktor pemicu bagi perkembangan ekonomi daerah, bahkan dipercaya menjadi semacam jalan pintas guna mendongkrak percepatan pembangunan ekonomi. (2) Pemicu kemakmuran melalui perkembangan komunikasi, transportasi, akomodasi, jasa-jasa pelayanan lainnya yang terkait langsung dengan dampak dari perkembangan pariwisata. (3) Sebagai salah satu upaya untuk memberikan perhatian khusus terhadap pelestarian budaya, nilai-nilai sosial agar bernilai ekonomi yang pada akhirnya diharapkan mampu mendongkrak taraf hidup masyarakat yang terdampak pengembangan pariwisata ke level sejahtera. (4) Pemerataan kesejahteraan yang diakibatkan oleh adanya konsumsi wisatawan pada sebuah destinasi. (8) Membuat pangsa pasar bagi produk lokal sehingga aneka-ragam produk terus berkembang, seiring dinamika sosial ekonomi pada suatu destinasi.

Pesatnya perkembangan pariwisata di pulau ini, bisa dicermati dari sejumlah indikator yang berhasil dihitung dan disajikan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) antara lain yang sangat mudah kita lihat adalah perkembangan jumlah hotel berbintang dan akomodasi lainnya di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Jika kita cermati data perkembangan jumlah hotel yang disajikan oleh BPS Babel melalui publikasi Direktori Hotel Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Tahun 2017 secara series mulai dari tahun 2013 lalu, maka bisa kita simpulkan bahwa pertumbuhan jumlah hotel cukup signifikan, bayangkan saja, dari jumlah hotel bintang pada tahun 2013 sebanyak 28 Hotel, dalam lima tahun saja investasi di bidang perhotelan ini bertambah hampir dua kali lipatnya yaitu sekitar 46 hotel berbintang.

Belum lagi perkembangan dari jenis penginapan lainnya misalnya penginapan sederhana, hotel melati yang tumbuh subur di berbagai daerah sekitar destinasi wisata dan pusat kota. Tercatat bahwa berdasarkan publikasi BPS tersebut, jumlah penginapan lainnya di Babel pada Tahun 2013 sekitar 93 penginapan, dalam lima tahun kemudian bertambah sekitar 27 penginapan, atau dengan kata lain, tumbuh menjadi sekitar 120 penginapan pada tahun 2017.

Dari jumlah pertumbuhan hotel berbintang dan penginapan lainnya yang cukup signifikan, bisa kita lihat sebaran hotel di Babel terpusat pada daerah yang memiliki jumlah penduduk yang relatif besar dan menjadi daerah primadona bagi kunjungan wisatawan dengan keunggulan dan keunikan dari masing-masing destinasi. Adapun Kabupaten/Kota di Babel dengan jumlah Hotel terbesar di Babel adalah di Kabupaten Belitung yang mencapai sekitar 59 hotel (19 hotel berbintang dan 40 jenis penginapan lainnya). DIsusul urutan kedua terbesar dari 7 Kabupaten/Kota di Babel adalah Kota Pangkal Pinang, dengan jumlah hotel sekitar 42 hotel (15 hotel berbintang dan 27 jenis penginapan lainnya), baru setelahnya disusul oleh kelima Kabupaten/kota lainya yang perlahan-lahan jumlah hotel dan jenis penginapan lainnya juga mengalami pertumbuhan. Sejalan dengan pertumbuhan jumlah hotel, tentu saja berdampak pula dengan peningkatan jumlah kamar hotel.

Baca Juga:  Gerakan Literasi Menuju Generasi Emas

Indikator lainnya yang terkait dengan pertumbuhan hotel dan jenis penginapan lainnya dan juga menjadi salah satu indikasi atau bukti bahwa tumbuh pesatnya pariwisata di daerah ini adalah tingkat penghunian kamar (TPK). Masih merujuk ke publikasi Direktori Hotel Provinsi Kep Babel tahun 2017, bahwa TPK Babel pada tahun 2014 sekitar 37,66%, dan meningkat menjadi sekitar 38,44% pada Tahun 2017.

Indikator-indikator kepariwsataan lainnya yang juga menunjukkan pertumbuhan positif antara lain perkembangan jumlah pekerja hotel yang mampu diserap oleh tumbuhnya hotel-hotel baru dan jenis penginapan lainnya, lalu kemudian jumlah kedatangan penduduk luar babel dalam rangka kunjungan wisata ke daerah-daerah di Babel yang dengan sangat mudah bisa kita jumpai di 2 bandara di babel ini telah semakin menguatkan fakta bahwa babel dan seluruh Kabupaten/Kota di Babel ini telah mampu merubah stigma masyarakat dunia bahwa dari paradigma babel sebagai daerah dengan sektor ekonomi utama yaitu tambang menuju daerah dengan basis potensi ekonomi baru yaitu pariwisata.

Tentu hal ini merupakan suatu yang menggembirakan, namun ibarat koin mata uang yang selalu memiliki dua sisi, dibalik kesuksesan pariwisata yang telah mampu mendongkrak pertumbuhan ekonomi di daerah ini, ternyata keberhasilan tersebut juga menimbulkan permasalahan-permasalahan baru yang menuntut untuk juga diselesaikan.

Beberapa potensi masalah dan bahkan sebagian besar dari uraian berikut ini memang disinyalir telah menjadi masalah yang perlu segera dicarikan solusinya akibat dari perkembangan pariwisata di daerah ini antara lain: Dari aspek sosial budaya: meningkatnya kriminalitas, pola hidup yang menuju konsumerisme mulai merasuki cara hidup masyarakat lokal, permasalahan moral yaitu mulai tumbuh suburnya komersialisasi seks.Terkikisnya nilai-nilai budaya dan norma-norma masyarakat lokal akibat interaksi dengan masyarakat asing yang tidak terfilterisasi dengan baik.

Meskipun diawal tulisan telah diurai bahwa pariwisata telah menjadi salah satu instrumen dalam peningkatan ekonomi lokal, namun di sisi lain, pariwisata juga memiliki dampak negatif terhadap bidang ekonomi juga, misalnya: Meningkatkan harga barang-barang lokal dan bahan-bahan pokok atau dengan kata lain inflasi yang sulit dikendalikan pada jenis komoditas tertentu misalnya bahan pangan. Dikarenakan sulitnya menghitung nilai pasti konsumsi yang bertambah akibat kunjungan wisatawan pada momen-momen tertentu, mengakibatkan sulitnya menjaga ketersediaan komoditas bahan pangan tertentu di pasaran, dampaknya adalah terjadinya kelangkaan semu pada komoditas bahan pangan tadi, misalnya komoditas ikan atau jenis seafood lainnya, yang menjadi jenis konsumsi utama bagi wisatawan yang berkunjung ke daerah ini seringkali mengakibatkan kelangkaan di pasar selain faktor musim yang menjadi kendala nelayan penangkap ikan untuk melaut.

Baca Juga:  Muslimah Perindu Surga

Dampak ekonomi lainnya yang bisa kita lihat meskipun kecil adalah fluktuasi pendapatan masyarakat yang bekerja dan menggantungkan hidupnya di sektor pariwisata. Karena peningkatan pendapatan yang cukup tinggi hanya terjadi secara musiman tergantung dari tingginya rendahnya tingkat kunjungan wisatawan pada waktu-waktu tertentu saja, misalnya hari libur nasional, atau hari libur sekolah.

Isu lainnya yang tidak kalah penting yang berpotensi menjadi masalah jika tidak dikendalikan dengan baik adalah isu dampak lingkungan. Peningkatan jumlah kunjungan wisatawan, artinya akan terjadi peningkatan jumlah produksi sampah akibat aktivitas berwisata. Yang semula ukuran jumlah sampah yang diproduksi terbatas pada sampah rumah tangga yang mudah diprediksi dan dikelola atau ditangani, menjadi produksi sampah yang perlu usaha lebih untuk menghitung dan kemudian mengelolanya. Peran pemerintah dan wisatawan tidak cukup untuk menjaga lingkungan di sekitar daerah pariwisata. Peran sentral ada pada masyarakat yang mengelola daerah sekitar pariwisata tersebut. Perlunya kepekaan dan peningkatan kesadaran dalam membuang sampah pada tempatnya. Seperti memisahkan sampah organik dan anorganik juga memisahkan sampah yang mudah terurai dan yang sulit terurai harus sudah diperkenalkan kepada masyarakat sejak dini. Pemerintah bisa mengadakan penyuluhan atau pelatihan dalam mengedukasi masyarakat akan pentingnya menjaga lingkungan demi kelangsungan hidup dan keberlangsungan industri pariwisata.

Sebagai penutup ulasan ini, maka dipandang perlu sekiranya untuk menggugah kesadaran kita bersama agar pembangunan pariwisata sejatinya jangan hanya diupayakan dan dieksplorasi terbatas pada kepentingan ekonomi semata, namun juga harus memperhatikan keberlangsungan dan kesinambungan pembangunan seutuhnya. Bahwa pembangunan harus diartikan sebagai upaya peningkatan perbaikan di segala aspek dan bidang kehidupan, tidak terpusat pada kepentingan ekonomi saja. Salah satu kiat yang ditawarkan di berbagai diskusi ruang publik untuk mengurangi dampak negatif dari pembangunan pariwisata, adalah melalui perencanaan pembangunan pariwisata yang baik dan matang seperti Sustainable Tourism Development atau sering disebut dengan Green Tourism, Soft Tourism, Alternative Tourism, dan Eco Tourism , managemen pariwisata yang peduli dengan masyarakat miskin (Pro Poor Tourism), dan community based tourism. Semoga.
Halaman – 1

Tags:
author

Author: 

Leave a Reply