Sistem Padi Ladang Mulai Ditinggalkan, Tapi…

Pelatihan Budidaya Padi dan Penanganan Pasca Panen yang dilaksanakan Dinas Pertanian Kabupaten Beltim kepada 60 Petani beberapa waktu lalu.

Pelatihan Budidaya Padi dan Penanganan Pasca Panen yang dilaksanakan Dinas Pertanian Kabupaten Beltim kepada 60 Petani beberapa waktu lalu.

belitongekspres.co.id, MANGGAR – Sistem menanam padi ladang yang selama ini identik dengan pola ketahanan pangan masyarakat di Kabupaten Belitung Timur perlahan mulai ditinggalkan. Dimasa lalu, masyarakat di pedesaan menanam padi ladang membuka lahan dengan cara membabat hutan dan dilakukan berpindah-pindah setiap tahun.

RajaBackLink.com

“Di kita memang sistem ladang berpindah sudah berusaha ditinggalkan. Alasannya memang kondisi kesediaan lahan hampir tidak ada, dan juga sistem ladang berpindah secara lingkungan tidak ramah,” ungkap Kepala Bidang Ketahanan Pangan pada Dinas Pertanian Kabupaten Beltim, Heryanto saat berbincang dengan Belitong Ekspres, Kamis ( 4/7) kemarin.

Menurutnya, meski sistem ladang berpindah ditinggalkan namun budidaya dengan memanfaatkan lahan kering tetap diupayakan. Salah satunya, inventarisir lahan-lahan eks ladang kering yang disebut bebak.

Baca Juga:  Atasi Harga Lada, Distan Beltim Berencana Bentuk Koperasi Petani

“Tapi bukan berarti kita meninggalkan sistem budidayanya. Kita tetap ada budidaya padi khusus d lahan kering seperti di bekas-bekas bebak (lahan) lama,” ujar pria yang akrab disapa Danton.

Danton menjelaskan, walau berstatus lahan eks ladang tetapi bisa produktif kembali dengan penanganan yang tepat. Salah satunya menyiapkan benih unggul khusus lahan kering.

“Mungkin dengan menanam benih padi unggul yang dirancang khusus untuk kondisi tanah kering. Istilahnya Himpago (hibrida padi gogo) yang memang khusus ditanam di lahan kering,” jelasnya.

Ada beberapa alasan menanam padi unggul di lahan-lahan kering bekas padi ladang. Diantaranya ketersediaan benih lama yang sulit ditemukan, kualitas benih padi yang menurun dan potensi hasil panen yang rendah. “Maka kita ganti dengan varietas baru yang unggul,” sebut Danton.

Danton mengatakan, upaya menanam padi di bekas lahan padi ladang hanya salah satu cara meningkatkan hasil panen padi yang digalakkan Dinas Pertanian Kabupaten Beltim. Saat ini, Dinas Pertanian juga sedang mengenalkan sistem tumpang sari padi jagung atau padi lada.

Baca Juga:  Gagal Nyaleg, Pajri Tetap Usaha Angkat Potensi Daerah

“Kita usulkan tahun ini untuk padi sistem monikultur padi gogo seluas 500 hektar dengan varietas yang ditanam adalah Situ Bagendit. Cukup dikenal petani dan cukup adaptif dengan tanah, hasil lumayan bagus dan rasanya beras yang enak,” ujar Danton.

“Melalui program tumpang sari kita juga mengusulkan seluas 150 hektar. Tinggal menunggu realisasinya saja dalam waktu dekat,” imbuhnya.

Selain sistem panen, Dinas Pertanian juga mendorong petani memanfaatkan alat pertanian yang bisa melakukan pekerjaan panen lebih maksimal. Teknik panen yang dilakukan petani selama ini dinilai memiliki potensi kehilangan hasil panen sekitar 10 persen.

Sebenarnya dengan mesin-mesin pertanian, potensi kehilangan hasil panen dapat ditekan sampai 5 persen.

Contohnya, penggunaan combine harvester yaitu mesin yang langsung melakukan beberapa bagian pekerjaan panen sekaligus. Petani cukup memasang karung untuk menadahkan gabah,” tukasnya. (msi)

Tags:
author

Author: 

Leave a Reply