Siswa SD Makan Roti Campur Cat

by -

// BNNP : Ini Berbahaya Dibanding Narkoba

PANGKALPINANG – Kasus anak menghisap aibon di Bangka Belitung (Babel) semakin hari semakin memprihantinkan. Bahkan, sudah membahayakan perkembangan generasi muda di Babel. Kabid Pencegahan Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Babel Hanopan menjelaskan, kasus tersebut sudah merebak di kalangan anak-anak sekolah dasar.
Berdasarkan temuan kasus, katanya, pelajar dan anak-anak putus sekolah tertinggi menggunakan lem aibon, cat semprot, obat sakit kepala, demam dan lainnya di Kabupaten Bangka Barat dan Belitung. Bahkan parahnya kata dia, ditemukan pula anak-anak menggunakan cat pilok yang dicampur dengan roti. Roti yang telah disemprot dengan cat pilot itu dimakan anak tersebut. “Lem aibon dan lainnya ini sangat berbahaya, lebih berbahaya dibanding menggunakan narkoba,” ujarnya, kemarin (26/2).
Ia mengaku, pihaknya kesulitan menangani kasus lem aibon ini karena barang ini legal dan dijual secara bebas. “Lem aibon ini merupakan zat perekat untuk merekatkan berbagai benda seperti sendal, sepatu dan lainnya. Bayangkan saja lem perekat ini menempel di jantung, usus dan organ tubuh lainnya,” ujarnya. Untuk itu, dia berharap pemerintah daerah untuk mengeluarkan peraturan daerah larangan toko atau warung menjual lem aibon kepada anak-anak. “Pemerintah daerah khususnya orang tua dan lingkungan anak harus mewaspadai penyalahgunaan dan penyimpangan prilaku anak-anak ini, demi melindungi generasi muda dari zat-zat berbahaya,” ujarnya.
Selain mewaspadai penyalahgunaan aibon, BNNP kata Hanopa juga mewaspadai penyalahgunaan dan peredaran narkoba di kawasan penambangan bijih timah yang cukup tinggi. “Saat ini, kawasan tambang timah sudah menjadi sasaran perdagangan narkoba,” katanya. Untuk menekan peredaran narkoba di kawasan tambang tersebut, kata dia, pihaknya mengoptimalkan kerja sama dengan polsek dan organisasi masyarakat di kecamatan se-Babel. “Saat ini, sebagian besar kasus penyalahgunaan dan pengedar narkoba yang berhasil diungkap terdapat di kawasan tambang timah,” ujarnya.
Berdasarkan data kasus narkoba pada 2014, BNNP berhasil mengamankan 267 orang tersangka pengedar narkoba atau meningkat dibanding tahun lalu 251 tersangka. Sementara itu, barang bukti narkoba yang paling banyak disita, yaitu ganja sebanyak 14.969,13 gram, sabu sebanyak 759,96 gram dan ekstasi tercatat 424 butir.
Bangka Belitung, kata dia, merupakan daerah yang kaya, karena sumber daya alam yang cukup melimpah, baik itu pertambangan timah dan perkebunan sawit, lada putih dan komoditas ekspor lainnya. Kekayaan sumber daya alam yang melimpah tersebut, menurut dia, warga dengan mudah mendapatkan uang yang cukup besar dengan relatif cukup mudah. Potensi ekonomi warga yang cukup besar tersebut dimanfaatkan oleh para bandar untuk memasarkan obat-obatan terlarang. “Kami terus menerus mensosialisasikan bahaya narkoba kepada masyarakat khususnya penambang timah, agar mereka menjauhi barang berbahaya ini,” ujarnya.
Ia berharap, kegiatan sosialisasi ini bisa menekan pengguna narkoba ini. Jika masyarakat sudah paham akan bahaya narkoba ini maka pengedar barang haram ini akan sulit menjual narkoba ini. “Kebanyakan masyarakat menggunakan narkoba ini karena ketidaktahuan bahaya narkoba. Semula hanya iseng coba-coba pada akhirnya ketagihan, akibatnya membahayakan jiwa dan rumah tangga berantakan,” ujarnya.
Sementara, Kepala BNNP Babel Setyo Raharja ketika ditemui pada kegiatan advokasi lembaga pendidikan yang dilaksanakan di Kabupaten Beltim menjelaskan, partisipasi masyarakat terhadap pencegahan narkotika masih rendah. Hal ini terlihat dari masih rendahnya kepedulian masyarakat untuk melindungi dan peduli lingkungan sekitar. “Kita mengharapkan masyarakat juga melakukan upaya pencegahan peredaran narkotika, sebab aparat juga terbatas jumlah personil. Maka kita berupaya memberdayakan masyarakat untuk menjaga lingkungan mereka sendiri,” ujar Setyo Raharjo.
Menyinggung kegiatan advokasi lembaga pendidikan, Setyo menganggap lingkungan pendidikan perlu mendapat advokasi agar secara mandiri dapat membuat kebijakan berkaitan pencegahan narkotika. “Kegiatan advokasi ini memang menghadirkan peserta dari dinas terkait seperti Dinas Pendidikan, Dinas Kesehatan, kepala sekolah dan siswa SLTA. Diharapkan nantinya, Dinas dan sekolah itulah yang akan menterjemahkan kebijakan di sekolah masing-masing,” jelas Setyo.
Ia mencontohkan, siswa yang terindikasi pengguna harus direhabilitasi sesuai kebijakan sekolah. Namun, penerapan kebijakan jangan sampai merugikan siswa yang berdampak pada masa depan. “Sekolah punya kebijakan apa, kita tidak mengintervensi. Jangan sampai merugikan siswa, kalau masa lalu suram, masa depannya harus lebih baik jangan malah dihancurin,” terangnya. Setyo menambahkan, penggunaan narkotika dapat disebabkan oleh lingkungan keluarga, lingkungan masyarakat dan lingkungan kerja. Karena itulah, upaya pencegahan di lingkungan masing-masing harus ditingkatkan agar saling menjaga satu sama lain.(msi/ant/rb)