SMK Handayani Manggar Seminar untuk Pengembangan Karakter Siswa

by -

Masih Banyak Siswa Ngaku-ngaku Generasi Milenial?

belitongekspres.co.id, MANGGAR – Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Handayani Manggar menyelenggarakan Seminar pengembangan karakter siswa, Kamis (31/10) kemarin. Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka  memperingati Hari Sumpah Pemuda dan Bulan Bahasa tahun 2019. Dengan tema Move Over Millenials : Alpha is the one to watch.

Dalam kegiatan ini menghadirkan narasumber yang merupakan alumni SMK Handayani Manggar angkatan 2004 dan 2006. Yakni Dosen dan peneliti di universitas Culalongkon Bangkok Thailand, Joko Gunawan, P.hD. RN, serta pengusaha muda Beltim, Hendro, S.Pd.B dan Suhandri, S. AB.

Bertempat di ruang pertemuan SMK Handayani Manggar ini kegiatan ini melibatkan peserta siswa dari MTs N Manggar, SMP N 6 Manggar, SMP N 2 Manggar serta seluruh siswa SMK Handayani Manggar.

“Kegiatan ini merupakan pembentukan karakter siswa, yang saat ini sangat penting sekali. Soalnya kita bisa lihat di media, semakin canggihnya zaman, banyak orang menggadang-gadangkan yang namanya milenial,” terang Hendro kepada Belitong Ekspres.

Oleh karena itu, Hendro berupaya memberikan pemahaman tentang apa arti dari kata-kata milenial tersebut. “Jangan sampai anak-anak sekolah ini, mulai dari SMP hingga SMA, mereka tidak tahu arti milenial itu sebenarnya. Sebelum mereka masuki milenial itu, masa-masa mereka adalah masanya alpha, yang generasinya di bawah milenial,” ungkapnya.

Selain itu, menurutnya para pelajar saat ini lebih cenderung menggunakan kata atau bahasa-bahasa milenial. Seakan-akan siswa yang menggunakan bahasa itu seolah-olah  adalah kaum milenial. “Kepada siswa, bagaimana memberikan pandangan supaya mereka bisa mapan. Mereka mandiri, jadi siswa yang baik. Terus menggunakan hal-hal teknologi  itu secara positif,” harapnya.

Senada, dosen dan peneliti di universitas Culalongkon Bangkok Thailand, Joko Gunawan, P.hD. RN, berharap Generasi Alpha itu harus siap berkompetisi tingkat nasional maupun internasional. “Jadi yang harus mereka persiapkan terutama dari bahasa, bahasa inggris. Kedua dari skill komputer mereka perdalam. Ketiga yang terpenting itu dari segi mentalnya. Mental untuk menerima segala perubahan, dan mental apa yang dilihat dampak positif maupun negatif dari teknologi itu sendiri,” ujar Joko Gunawan.

Sebetulnya, kata Joko, siswa di Belitung ini belum merasakan terlalu banyak dampak dari teknologi itu sendiri. Karena, menurutnya baru memulai menyambut generasi  milenial atau pun alpha itu sendiri.

“Sebenarnya potensi mereka itu sangat besar sekali. Karena mereka saat ini serba instan. Makanya yang harus kita persiapkan itu, bagaimana agar mereka menerima suatu proses itu tidak mudah, seperti proses pembelajaran hari ini,” ungkapnya.

Dia berpesan, bahwa segala keberhasilan itu butuh proses. “Dak instan seperti aplikasi-aplikasi saat ini, semua butuh proses. Makanya yang saya tekankan di situ, slow, steady, konsistensi. Artinya, semua itu butuh proses, tetap teguh dan konsistensi tanpa ada perubahan sedikit pun,” pesannya.

Sementara itu, Kepala Sekolah SMK Handayani Manggar, Dhita Rakaisamba W, S.Pd, menyambut baik kegiatan yang dilaksanakan oleh alumni SMK Handayani Manggar, yang mana dapat menjadi motivator bagi generasi berikutnya. Dan siswa dapat memahami perbedaan antara milenial dan alpha.

“Kami berharap, kegiatan ini bisa berkelanjutan ke depan. Memang tema ini tema generasi. Pada dasarnya secara umum orang cuma tahu generasi milenial, tapi tidak tahu arti milenial,” tutur Dhita.

Menurut Dhita, di generasi milenial ada generasi yang lain. Seperti generasi Alpha. Generasi alpha ini, generasi yang lahir tahun 2000an ke atas. Mereka harus lebih diperhatikan. Karena, kata Dhita, mereka lahir dari zaman yang sudah sangat berkembang sekali ilmu pengetahuan dan teknologi.

“Kalau tidak didampingi orang tua, tak didampingi sama gurunya, bisa bahaya. Contoh misalkan heacker. Nunggu 10 tahun ke depan bagi anak-anak itu suatu hal yang gampang. Makanya dibekali pengembangan karakter, supaya ilmu pengetahuan dan teknologi itu bisa diambil dari sisi positifnya, bukan sisi negatifnya,” tandasnya. (dny)