Soal ‘Kaburnya’ 2 ASN Covid dari RSUD Beltim, Mikron: Harus Kembali Dirawat!

by -
Soal 'Kaburnya' 2 ASN Covid dari RSUD Beltim, Mikron: Harus Kembali Dirawat!
Sekretaris Satgas Percepatan Penanganan Covid-19, Provinsi Bangka Belitung (Babel), Mikron Antariksa.

belitongekspres.co.id, Sekretaris Satgas Percepatan Penanganan Covid-19, Provinsi Bangka Belitung (Babel), Mikron Antariksa menegaskan, agar 2 ASN yang merupakan pasangan suami istri berstatus belum terbebas dari Covid-19, kembali ke ruang perawatan.

”Bagaimanapun, kewenangan pasien yang dirawat itu boleh pulang atau belum ada di Rumah Sakit. Kita tidak ingin kasus-kasus seperti ini menjadi sorotan publik. Semua harus tuntas, jika rumah sakit menyatakan sudah bebas dari covid-19 dan boleh pulang, silahkan. Kalau belum, yah kembali ke ruang perawatan,” tegas Mikron kepada Babel Pos tadi malam.

Pernyataan Mikron ini menanggapi soal adanya pasangan suami istri berstatus ASN yang belum terbebas dari covid-19, malah nekad pulang. Kedua pasien berinisial H dan EH nekat pulang ke rumahnya di Dusun Ban Motor Desa Lalang, Kecamatan Manggar, tanpa mengantongi surat resmi dari pihak yang bertanggungjawab. Akibatnya, kepulangan ASN yang merupakan pimpinan OPD di Beltim dan Kepala SMA di Gantung itu, menjadi sorotan masyarakat.

Siapa Bertanggungjawab?

Sementara itu, pihak RSUD Beltim dan Dinas Kesehatan Beltim sempat terkesan saling lempar tanjungjawab. Direktur RSUD Beltim dr. Cahyo saat dikonfirmasi Belitong Ekspres mengatakan, bahwa pasien tersebut sudah difollow up oleh pihak dinas kesehatan. “Untuk follow up coba hubungi mak Pen ye, takut salah,” ujar dr. Cahyo.

Sebaliknya, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit DKPPKB Beltim, Supeni saat dikonfirmasi belum berani berkomentar. Dirinya malah kembali menyarankan untuk menanyakan persoalan itu kepada pihak RSUD. “Ya bagusnya tanyakan langsung ke pihak RSUD,” ujar Supeni kepada Belitong Ekspres, Jumat (14/11).

Setelah beberapa hari berlalu dan menimbulkan kekhawatiran masyarakat, Senin (16/11) kemarin Sekda Kabupaten Beltim, Ikhwan Fahrozi baru angkat bicara kepada wartawan. Namun, anehnya dalam peristiwa ini Sekda Beltim mengatakan, pulangnya pasien ke rumah sudah mendapatkan izin dari RSUD.

“Jadi kalaupun ada pernyataan bahwa beliau kabur ya sah-sah saja di masyarakat. Namun setelah kami klarifikasi hari ini saya minta dokumen-dokumen di rumah sakit untuk menyampaikan, bahwa beliau sudah ada surat dari rumah sakit. Yang menyatakan bahwa beliau sudah gejala ringan, dan menunggu swab yang terakhir beliau bisa untuk isolasi di rumah,” katanya.

Selain itu, Sekda Beltim menyampaikan pertama soal kondisi pasien. Menurutnya, kondisi pasien memang masih menunggu hasil Swab sekali lagi. Kondisi saat terakhir kedua pasien masih terkonfirmasi positif Covid-19 dan sudah cukup lama diisolasi.

“Dan pelayanan rumah sakit itu, pada waktu itu ingin memindahkan beliau ke ruang VIP. Karena beliau (pasien) juga penyakit bawaan lain seperti gejala stroke ringan dan sebagainya, menjadi pertimbangan kemanusiaan,” imbuhnya.

Di sisi lain, kata Ikhwan ada miskomunikasi. Di mana hasil pertemuan pada Senin (16/11) kemarin dengan kepala desa, dinas kesehatan, dan beberapa unsur perangkat desa dan masyarakat, bahwa dari rumah sakit itu sebetulnya telah menerbitkan semacam surat tentang kronologis pasien.

“Di sinilah pada saat mengambil keputusan untuk mengembalikan beliau untuk isolasi di rumah itu terputus komunikasi dengan dinas kesehatan, bahwa kalau kita memindahkan itu tetap harus mengikuti protokol kesehatan. Nah, di sinilah terjadi miskomunikasi, di mana beliau hanya dievakuasi oleh pihak keluarga,” pungkas Sekda Beltim.

Kalimat senada juga disampaikan oleh kepala DKPPKB Kabupaten Beltim, Yulhaidir. Dirinya mengatakan, bahwa sebetulnya bahasa melarikan itu memang tidak ada Sebab, ada surat keterangan sakit pasien dan juga resume rumah sakit dari dokter.

“Karena memang prosesnya berjalan dan beliau (tuan H) sudah masuk di rumah, dalam waktu penanganan, melalui beberapa koordinasi yang kita lakukan kerjasama dengan kita dengan BPBD. Artinya beliau itu dalam kondisi sudah agak membaik tetapi masih status positif,” terang Yulhaidir.

Bantah Keluarkan Izin

Sementara itu, Direktur RSUD Beltim Dokter Cahyo membantah telah memberikan izin terkait kepulangan kedua pasien. Dia menegaskan tidak pernah mengeluarkan surat izin apapun untuk pasien meninggalkan RSUD dan isolasi mandiri di rumah.

Pasien Covid-19 H beserta istrinya EH kata dia, meninggalkan RSUD sejak tanggal 11 Nopember 2020. Padahal pada hari itu, sekira pukul 10.00 WIB kedua pasien sudah mengetahui bahwa dirinya masih dalam kondisi positif Covid-19, dan dialihkan rawat ke ruang VIP RSUD Beltim.

“Jadi pada saat tanggal 11 November tersebut keluar hasil Swab yang ketiga dari tuan H, dan itu hasilnya positif. Kemudian dari pihak rumah sakit menginfokan terkait hal tersebut pada tuan H pada pukul 10 siang. Namun kemudian tuan H ini tetap bersikeras ingin pulang walaupun hasil swab yang ketiga ini masih positif,” tegas dr Cahyo kepada Belitong Ekspres, Senin (16/11).

Lebih lanjut dokter Cahyo mengatakan, dari pihak rumah sakit sudah melakukan upaya pencegahan dan memberikan informasi bahwa tuan H tersebut memang pada awalnya adalah pasien Covid-19 dengan gejala yang berat, sampai dengan pakai bantuan oksigen.

“Sesuai SOP dari Kemenkes bahwa kasus dengan gejala berat dan positif itu untuk dirawat di rumah sakit, pulangnya itu ada kriteria, sama ada PCR harus RT-PCR 3 kali negatif. Ditambah minimal 3 hari tidak menunjukkan gejala, dan kalau tidak ada PCR, maka itu diisolasi selama 10 hari ditambah minimal 3 hari tanpa gejala di rumah sakit,” jelasnya.

Dokter Cahyo kembali menjelaskan, untuk tuan H ini berdasarkan hasil pemeriksaan Swab memang masih terkonfirmasi positif dan setelah tanggal 11 November akan kembali dilakukan swab ulang. Akan tetapi, tuan H ini bersikukuh ingin pulang ke rumah.

“Saat tuan H ingin bersikeras pulang tanggal 11 November, saya selaku Direktur RSUD lakukan koordinasi kepada kepala dinas dan meminta juga untuk menasehati tuan H tersebut, supaya jangan pulang dahulu. Tetapi memang tuan H bersikeras ingin ingin pulang, dan inilah yang terjadi masalah yang timbul keresahan di masyarakat,” ulasnya.

“Jadi intinya tuan H ini memang belum ada izin dari rumah sakit, dia memang belum ada izin. Ya jelas, karena tidak mungkin lagi sekarang diberikan izin juga. Pada saat tuan H pulang itu, RSUD tidak pernah mengeluarkan izin pulang dari rumah sakit,” tegasnya lagi.

Dikatakan dr Cahyo, untuk surat yang diberikan sekarang itu (Rabu kemarin) adalah surat resume dari status pasien. Resume itu adalah catatan kesimpulan dari riwayat penyakit. Dari rekomendasi memang bisa dilakukan isolasi mandiri. “Tapi kan pada saat tuan H pulang memang tanpa konfirmasi dan tanpa izin dari pihak rumah sakit,” tukasnya.

Ketika wartawan kembali menanyakan kepulangan pasien pada tanggal 11 November itu boleh dikatakan kabur, dokter Cahyo mengiyakannya. “Ya itu pulang tanpa izin. Jadi saya sebagai direktur RSUD, saya juga mohon maaf kepada masyarakat. Saya juga sudah mencegah, tapi ini kembali kepada pribadi beliau (pasien),” tandasnya.(dny/red)