SOAL MIRAS, Dewan Sorot Maraknya Kenakalan Remaja

by -

belitongekspres.co.id TANJUNGPANDAN-Maraknya kenakalan remaja yang menyalahgunakan Minuman Beralkohol (Minol) dan zat adiktif mendapatkan sorotan tajam dari sejumlah anggota DPRD Kabupaten Belitung.

Pasalnya, Minol atau Miras membawa dampak tidak baik bagi kesehatan fisik dan psikis seseorang. Para remaja ini, sering ditemukan sedang mengkonsumsi Miras oleh anggota Satpol PP Belitung saat melakukan patroli atau penertiban di sejumlah tempat.

Anggota Komisi III DPRD Kabupaten Belitung Saryadi mengatakan, kenakalan remaja baik itu pelajar maupun yang sudah putus sekolah tentunya ini menjadi PR tersendiri bagi Pemerintah Daerah. Khususnya Instansi terkait terutama dalam memberikan pembinaan bagi generasi muda.

Kata dia, menyangkut anak-anak di luar jam pulang sekolah ada di pengawasan orang tua. Namun, Satpol PP diharapkan tidak hanya merazia kenakalan remaja, tetapi mencari sumber yang membuat melakukan hal tersebut seperti mengkonsumsi Minol ataupun menggunakan zat adiktif lainya.

“Bagaimana mereka dengan mudahnya memperoleh Minol tersebut. Oleh karena itu perizinan dari penjual minuman harus ditindaklanjuti lebih jauh, baik itu oleh Satpol PP maupun Penegak hukum lainya,” ujarnya kepada Belitong Ekspres, kemarin.

Menurut Politisi PPP ini, untuk anak yang masih berstatus sekolah tentunya dinas Pendidikan, dinas sosial, tokoh agama maupun pihak sekolah yang bersangkutan harus mengambil langkah-langkah kongkrit. Langkah bagaimana cara untuk meningkatkan moral mereka dan mencegahnya jangan sampai hal ini terus kembali berulang-ulang.

“Begitu juga halnya peran dari pengawasan orang tua tentunya harus ditingkatkan. Apalagi sekarang daerah kita daerah pariwisata dan ini sangat rentan oleh kenalan remaja, narkoba dan seks bebas. Ini hanya sebagian saja tertangkap yang tidak ketahuan dengan modus online dan itu di luar dari pengamatan kita,” kata Ketua APS ini.

Saryadi melanjutkan, banyaknya Minol yang diproduksi secara Ilegal dengan kategori oplosan dengan mudah didapatkan para remaja ini. Lantas, ini menurutnya yang harus menjadi perhatian serius dalam menekan peradaran minol terutama yang tidak memiliki izin. “Intinya kami mengharapkan ada tindakan nyata kalau memang itu tidak memiliki izin dan melanggar aturan tutup saja,” tegasnya.

Sementara itu Ketua Komisi I DPRD Kabupaten Belitung Firuzah mengatakan secara umum masalah kenakalan remaja terutama yang mengkonsumsi Minol dab Zat Adiktif terus saja berulang-ulang. Tentunya ini sangat memprihatinkan.

Menurut Politisi Partai Golkar ini, cara berfikir remaja saat ini semangkin inovatif. Bahkan, mereka bisa mengkonsumsi Minol meski minuman tersebut tidak dijual secara umun. Selain itu, mereka bisa meracik Minol dan zat adiktif tersebut secara terang-terangan.

“Tentu saja, jika hal ini terus berlanjut akan berbahaya bagi generasi muda kita kedepanya. Oleh sebab itu kita semua mulai dari kalangan akademisi, tokoh agama, para pemuda, pemerintah daerah, aparat penegah hukum maupun legeslatif harus pro aktif memberikan pengawasan untuk mengatasi persolan ini,” ajaknya.

Kata Firuzah, dari sisi penjual yang sifatnya pelaku usaha atau bisnis selama mereka memiliki izin tentunya hal tersebut harus disikapi dengan baik dan tidak boleh sebelah pihak. Sebab, negara kita adalah negara hukum.

“Yang menjadi sorotan nyaitu penjual minuman yang tidak memiliki izin atau menjual secara ilegal dan terang-terangan. Karena itu saya minta hal tersebut ditertibkan guna meminimalisir kenakalan remaja kita yang bermula dari mengkonsumsi Minol,” pintanya.

Meski begitu kata firuzah, peran dari orang tua juga, tidak bisa disalahkan secara keseluruhan. Sebab, melihat kondisi saat ini mungkin, pergaulan yang terlalu bebas dan kemajuan teknologi membuat pengawasan orang tua kepada anak-anaknya menjadi luput.

“Tidak ada orang tua yang mau menjerumuskan anak-anaknya untuk melakukan perbuatan yang negatif. Tetapi sisi pergaualan yang paling dominan sehingga, anak-anak masih polos ini lepas dari pengawasan orang tua dan melakukan perbuatan yang bisa merugikan dirinya sendiri,”katanya.

Artinya kata Firuzah, keterkaitan dan keterlibatan pemangku kebijakan harus lebih banyak membuat suatu momen atau kegiatan yang positif yang melibatkan para generasi muda. Seperti di kegiatan karang taruna, organisasi kepemudaan (OKP), sehingga pergaulan mereka akan mengarah kepada kegiatan yang positive. (rez)