Soal Penerapan New Normal, Beltim Kalah Cepat Dengan Belitung

by -
Soal Penerapan New Normal, Beltim Kalah Cepat Dengan Belitung
Ketua DPRD Beltim Fezzi Uktolseja.

Status New Normal Beltim Dipertanyakan
Fezzi Berkali-Kali Tanyakan Status Beltim

belitongekspres.co.id, MANGGAR – Ketua DPRD Beltim Fezzi Uktolseja mengaku telah beberapa kali mempertanyakan status Kabupaten Beltim saat ini kepada Bupati dan Sekretaris Daerah. Pasalnya, Kabupaten Beltim merupakan salah satu daerah yang diperkenankan untuk menerapkan new normal yang dimulai di bulan Juli.

Sementara itu, Tatanan Normal Baru Produktif dan Aman Covid-19 Rabu di Kabupaten Belitung, sudah resmi dilaunching Rabu (1/7) kemarin, yang juga bertepatan dengan Hari Jadi Kota Tanjungpandan (HJKT) ke 182 Tahun.

“Memang seharusnya kita sudah menentukan status kita apa. Kami juga sudah berapa kali sampaikan ke pak Sekda, pak Bupati ini status Beltim apa. Jika melihat 102 daerah kemarin yang zona hijau yang disampaikan gugus tugas, kita sudah hijau walaupun ada 1 pasien,” ungkap Fezzi saat menjawab Belitong Ekspres, Kamis (2/7).

Menurut Fezzi, Kabupaten Beltim justru kalah cepat dengan Kabupaten Belitung yang tidak termaasuk 102 daerah yang diperkenankan memberlakukan new normal. Padahal new normal menjadi salah satu jalan yang harus ditempuh Pemerintah daerah agar perekonomian masyarakat kembali berjalan. “Kalau memang ekonomi kita sudah bisa jalan mengapa kita tidak melakukan new normal saja,” kata Fezzi bernada tanya.

Permasalahan Kabupaten Beltim menurut Fezzi adalah ketetapan new normal tidak ada tetapi aktifitas masyarakat sudah normal. Artinya tidak ada satu aturan dari pemda yang bisa menjadi acuan atau patokan dari masyarakat beltim sendiri.

“Sehingga pemerintah tidak ada aturan, ya masyarakat punya aturan sendiri. Tidak mungkin kita dirumah terus, (sementara) ekonomi harus tetap berjalan. Oleh karena itu tetapkanlah status daerah ini apa,” jelas Fezzi.

Ia mencontohkan, kegiatan-kegiatan masyarakat yang melibatkan orang ramai seperti hajatan sudah berjalan meskipun aturan new normal tak kunjung ditetapkan. “Kita ini mau gimana, segeralah tetapkan new normal,” pintanya.

Meski demikian, Fezzi mengingatkan ada konsekuensi jika aturan new normal telah diberlakukan. Terutama terkait rencana penggunaan anggaran yang bersifat bantuan. Jika sudah new normal bantuan-bantuan pemda tidak dapat dicairkan dan dilaksanakan.

“Sekarang yang jadi masalah mengapa SK Mendagri kan bulan April, refocusing bulan April (tapi) kenapa dari April sampai Juli itu capaian dari refocusing nol. Apakah gara-gara itu kita tidak new normal? Yang jadi pertanyaan besar kami, mengapa dari April sampai Juli realisasinya nol,” sesal Fezzi.

Ia menambahkan, salah satu aktifitas yang bakal dimulai adalah sekolah-sekolah. Namun jika tanpa aturan new normal maka anak-anak belum boleh sekolah. “Tanggal 13 Juli menurut edaran pusat kegiatan pendidikan sudah bisa jalan, nah kita ini apa status kita. Apakah darurat, kalau darurat anak-anak kita tidak boleh sekolah. Sedangkan provinsi juga sudah mulai membuka itu,” sebut Fezzi.

“Tolonglah diatur, jangan sampai keterlambatan pemda dalam mengeksekusi refocusing anggaran yang (jadi) korbannya masyarakat. Pembangunan sudah tidak ada, ekonomi sudah tidak jalan. Inikan kasihan,” tandasnya. (msi)

Editor: Yudiansyah