Soal Penyiapan Tempat Isolasi Khusus, Fezzi Minta Dikaji Ulang, Ini Alasannya

by -
Soal Penyiapan Tempat Isolasi Khusus, Fezzi Minta Dikaji Ulang, Ini Alasannya
Ketua DPRD Beltim Fezzi Uktolseja.

belitongekspres.co.id, MANGGAR – Rencana Gubernur Bangka Belitung terkait penyiapan tempat isolasi khusus bagi pasien positif Covid-19 di setiap Kabupaten/Kota perlu dikaji ulang. Sebab, membludaknya jumlah orang terkonfirmasi positif Covid-19 tentu menjadi persoalan baru jika harus ditempatkan dalam satu tempat yang memiliki daya tampung memadai.

Hal ini disampaikan Ketua DPRD Beltim Fezzi Uktolseja saat ditemui wartawan, Selasa (5/4).”Kalau masalah setiap yang Covid wajib isolasi mandiri, iya. Tapi, kita juga harus memikirkan kapasitas tempat penampungan kita. Kalau ditempat lain pasien gejala ringan, sedang dan berat memang di RS atau ruang isolasi. Ada juga daerah yang ringan cukup isolasi mandiri (di rumah),” ungkap Fezzi.

Menurut Fezzi, keinginan Gubernur agar setiap Kabupaten/Kota ada tempat isolasi boleh saja mengingat kewenangan Gubernur sebagai Ketua Satgas Covid Provinsi. Namun menyiapkan tempat yang layak tentu harus dipikirkan dan disiapkan Pemerintah daerah.

“Memang boleh, ini kan kewenangan Gubernur karena Provinsi kan ketua Satgas Provinsi. Tetapi juga harus dipikirkan tempat isolasinya, dari Pemda yang harus menyiapkan. Jangan nanti keluar Perda, setiap yang positif walau gejala ringan tidak boleh isolasi mandiri, tapi tempat tidak ada, ya itu juga susah,” bebernya.

Persoalan lainnya setelah tempat isolasi khusus disiapkan adalah tenaga medis yang ditugaskan. Sementara jumlah tenaga medis di daerah sangat terbatas dan telah ditugaskan di fasilitas kesehatan seperti Rumah Sakit dan Puskesmas.

“Jangan nanti tarok isolasi sementara tenaga medis tidak terlalu banyak dan akhirnya kewalahan. Sehingga yang gejala berat juga tidak terurus. ini juga jadi pertimbangkan,” kata Fezzi.

Menurut Fezzi, penyiapan tempat isolasi khusus di Beltim sebenarnya bukanlah hal baru. Sejak kali pertama Covid-19 menyebar, Beltim sudah menyiapkan beberapa lokasi namun akhirnya terhenti dengan sendirinya karena minimnya fasilitas.

Karenanya, Fezzi menyarankan isolasi dilakukan berdasarkan gejala yang dialami, misalnya gejala sedang dan berat saja. Sedangkan gejala ringan cukup isolasi mandiri. Namun isolasi mandiri bagi pasien gejala ringan tetap harus dipantau.

“Lebih penting adalah kontrol dari puskesmas dan Dinkes terhadap orang-orang yang positif. Selama ini kendala di lapangan yang positif seminggu sekali dilihat. Nah ini juga bahaya, setelah didata kadang-kadang tidak dilihat. Harusnya dipantau setiap hari sehingga bisa di cek keluar atau tidak, kesehatannya bagaimana, memberikan vitamin atau penyuluhan agar tidak keluar,” jelasnya.

Fezzi menambahkan, Pemerintah daerah sebaiknya tetap menggiatkan tracking orang-orang yang memiliki kontak erat dengan pasien positif. Sebab ia mengakui, tracking yang dilakukan saat ini sudah tidak lagi gencar seperti awal-awal penyebaran Covid-19.

“Kalau tenaga medis kurang, kenapa tidak ditambah tim khusus. Sekarang kan ada refocusing di Dinkes, dana pusat penanganan Covid dari pusat ke Dinas Kesehatan juga ada. Kenapa tidak membuat tim khusus merekrut anak-anak lulusan kesehatan untuk memantau terhadap orang yang isolasi mandiri,” pungkasnya. (msi)