Stop Kekerasan Terhadap Anak

by -

PANGKALPINANG – Bertepatan dengan Hari Anak Nasional yang jatuh pada tanggal 23 Juli ini seharusnya anak-anak bisa dilindungi, dijaga dan diberi pelajaran lantaran anak-anak adalah pemuda nasionalis dan cinta Tanah Air, yang dapat menjadi generasi untuk membangun bangsa dan negara.
Kepala Dinas Sosial dan Tenaga Kerja yang juga sebagai pemerhati anak, Mikron Antariksa menegaskan, membahas derita anak-anak baik di negara-negara maju maupun di negara-negara berkembang adalah satu pembahasan penting. Seperti halnya pembahasan dalam pencegahan penyakit, gizi, pendidikan, gelandangan, anak-anak terlantar, eksploitasi tenaga kerja anak-anak, dan dampak AIDS bagi kehidupan anak-anak.
“Seluruh derita krisis ekonomi saat ini paling berat dipikul oleh anak-anak kita. Kesejahteraan mereka dikorbankan, kesehatan mereka dihancurkan, dan masa depan mereka dirusakkan. Kita juga menemukan anak-anak saat ini yang dipukuli, dianiaya, ditelantarkan orang tuanya, dan memanfaatkan tenaganya dengan upah yang murah. Atau paling tidak mereka tumbuh besar dengan tubuh yang rentan penyakit, otak yang terhambat, dan hidup yang tidak ceria,” katanya saat ditemui Kamis (23/7) kemarin.
Lanjut Mikron, Hari Anak Nasional tahun ini hendaknya dijadikan momentum oleh seluruh orang tua agar lebih memperhatikan dan memenuhi hak anak. Dan lakukan gerakan bersama untuk menyayangi anak, tidak mengeksploitasi anak-anak dalam pekerjaan. “Penuhi hak mereka dengan kasih sayang dan tunjukkan rasa sayang tersebut kepada anak sehingga anak tahu bahwa orang tuanya sayang dan memperhatikan mereka, anak-anak itu buah hati kita, tonggak kehidupan kita. Ibarat kata kita langit yang melindungi mereka dan bumi tempat mereka berpijak. Jika mereka marah, senangilah mereka. Jika mereka meminta sesuatu, berilah. Jangan memperlakukan mereka dengan kasar nanti mereka menghindari keberadaanmu dan mengharapkan kematianmu.” ucapnya.
Masih katanya, anak-anak belajar dari kehidupannya, jika anak dibesarkan dengan celaan, maka ia belajar memaki, jika anak dibesarkan dengan permusuhan, maka ia belajar berkelahi, jika anak dibesarkan dengan cemohan, maka ia belajar rendah diri, jika anak dibesarkan dengan hinaan, maka ia belajar menyesali diri, jika anak dibesarkan dengan toleransi, maka ia belajar menahan diri, jika anak dibesarkan dengan dorongan, ia belajar percaya diri.
“Begitulah alur kehidupan, jika anak dibesarkan dengan pujian, maka ia belajar menghargai, jika anak dibesarkan dengan sebaik-baiknya perlakuan, maka ia belajar keadilan, jika anak dibesarkan dengan rasa aman, maka ia belajar menaruh kepercayaan, jika anak dibesarkan  dengan dukungan, maka ia belajar menyenangi dirinya, jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, maka ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan dan jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan maka ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan,” ujarnya.
Sementara Bunda Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Kota Pangkalpinang, Dessy Ayu Irwansyah turut berpartisifasi dalam menyambut Hari Anak Nasional (HAN) yang diperingati setiap tanggal 23 Juli ini. Dessy berpesan kepada orang tua untuk selalu memberikan kasih sayang kepada anak mereka sejak dini dan selalu berhati-hati berbicara dan bersikap di depan anak anak, sebab kata dia, anak-anak akan meniru apa yang diperbuat oleh orang tua mereka.
“Berikan anak-anak kasih sayang dari kecil dan tidak memperlakukan anak anak dengan kekerasan. Apalagi di masa masa Golden Age (Masa Keemasan) anak anak. Karena otak anak seperti spons, dia menyerap apapun yang dilihat dan didengar,” ujar Istri dari Walikota Pangkalpinang ini.
Menurutnya, hari anak dapat menjadi salah satu bentuk koreksi diri khususnya bagi para orang tua. Bagimana orang tua bisa menjadikan anaknya untuk tumbuh lebih baik dan memiliki prilaku yang baik. “Makna hari anak menurut saya adalah suatu momentum dimana kita para orang tua dan lingkungan sekitar merenungi bagaimana kita memperlakukan anak anak kita,” imbuhnya. “Apakah selama ini anak anak kita sudah mendapatkan hak mereka dan yang perlu diperhatikan apakah kita selaku orangtua dan lingkungan anak anak, sudah mendidik anak anak dengan baik dan benar,” katanya lagi.
Sebagai Ibukota Provinsi Bangka Belitung, menurutnya pendidikan anak di Kota Pangkalpinang sejuah ini sudah cukup baik dan memadai, tinggal bagimana peran orang tua untuk mendidik anak mereka. “Kondisi anak di Pangkalpinang untuk kebutuhan pendidikan, rata-rata sudah bisa dipenuhi, hanya saja yang perlu jadi perhatian untuk kita semua bagimana orang tua memilih pendidikan yag tepat untuk ana-anak mereka,” tandasnya.
Dia berharap kekerasan terhadap anak tidak terjadi di Kota Pagkalpinang ini. Ia juga mengimbau jika terjadi kekerasan jangan takit melapor ke instansi terkiat. “Alhamdulillah di Pangkalpinang sejauh ini kasus kekerasan terhadap cukup kecil bahkan jarang terdengar. Mudahan-mudah hal itu tidak terjadi,” harapnya.(tya)