Sudah Seperti Mafia Narkoba, Diduga Arak dari Luar Belitung?

by -
Sudah Seperti Mafia Narkoba, Diduga Arak dari Luar Belitung?
Bupati Belitung Sahani Saleh saat menggerek tempat penampungan Miras Arak di Jalan Asam Lubang Desa Aik Merbau. 

belitongekspres.co.id, TANJUNGPANDAN – Bupati Belitung, Sahani Saleh (Sanem) menegaskan, akan terus memantau perkembangan kasus kepemilikan Minuman Keras (Miras) Arak di Jalan Asam Lubang Desa Aik Merbau sampai mendapatkan hukum yang setimpal.

Orang nomor satu di Kabupaten Belitung tersebut berharap ada sanksi tegas yang diberikan, sehingga menjadi efek jera bagi penjual dan juga produsen minuman keras lainnya.

“Biasanya untuk kasus seperti ini, maksimum hukumannya penjara enam bulan dan denda Rp50 juta. Kalau kami ingin ada sanksi lain sebagai efek jera sehingga tidak ada toleransi,” katanya kepada sejumlah awak media Sabtu (1/8) akhir pekan lalu.

Dikatakannya, ada indikasi minuman keras jenis arak mendapat pasokan atau didatangkan dari luar daerah menuju Belitung. “Ada indikasi, miras yang didatangkan dari luar daerah. Untuk itu, pemasok-pemasoknya ini siapa saja, harus kami telusuri semua,” katanya.

Dikatakan, pihaknya telah berhasil mengantongi identitas pemilik tempat penampungan minuman keras jenis arak Jalan Asam Lubang Desa Aik Merbau tersebut. Dimana pada saat penggerebekan itu berhasil diamankan 74 jerigen biang minum haram tersebut.

“Kami sudah tahu siapa pemiliknya. Bahkan dimana alamat rumahnya, jadi ini bahan kami untuk menelusuri lebih jauh,” ujarnya.

Oleh sebab itu, pihaknya tidak akan terburu-buru melimpahkan kasus tersebut ke tingkat selanjutnya. Sebab temuan tersebut akan dijadikan bahan untuk menelusuri dan membongkar lebih jauh indikasi peredaran miras di Kabupaten Belitung.

“Kami ingin menemukan siapa sebenarnya pemilik, kemudian pabriknya di mana saja, karena ini sudah seperti mafia narkoba juga,” pungkas Bupati Belitung.

Yang Beking, Berhentilah

Tokoh masyarakat Belitung H Muchtar Mutong (Tare) meminta kepada oknum-oknum, untuk berhenti membeking minuman keras (Arak) di Belitung. Dia menilai adanya peredaran miras tersebut, merusak generasi bangsa.

“Untuk oknum yang merasa, jadi-jadilah (berhenti) membeking miras arak. Tidak akan kaya juga, jadi pembeking. Malahan merusak moral bangsa,” kata H Tare kepada Belitong Ekspres, akhir pekan lalu.

Ungkapan tersebut merupakan bentuk keprihatinannya, pasca pengerebekan miras arak yang dilakukan Bupati Belitung H Sahani Saleh, pekan lalu di Kawasan Desa Air Merbau, Kecamatan Tanjungpandan.

“Kalau masih tetap membeck up, kita akan laporkan ke pimpinan. Masing-masing instansi tersebut,” ujar pria bertubuh gempal ini.

Kata H Tare, pengerebekan dan penangkapan miras tersebut merupakan yang terbesar di Belitung. Yakni sebanyak satu ton lebih. Dia berharap pemerintah menyatakan perang terhadap miras tanpa izin.

Dijelaskan Tare, Arak di Belitung membawa malapetaka. Sebab banyak aksi Kriminalitas di Belitung, disebabkan minuman haram ini. Tidak hanya itu, kejadian laka lantas di Negeri Laskar Pelangi juga disebabkan mabuk, setelah minum arah.

“Kita ambil contoh yang kasus pemerkosaan nenek di Kelapa Kerak, beberapa tahun lalu. Yakni seorang cucu dengan tega memperkosa dan membumi neneknya sendiri. Diduga penyebab setelah minum arak,” kata Tare.

Dan yang kedua peristiwa di Membalong. Yakni seorang ponakan tega membunuh paman dan bibinya sendiri di kebun. Pada saat sebelum melakukan, tersangka mengkonsumsi miras jenis arak.

“Itu masih dua kasus. Belum lagi yang penganiayaan dan lain sebagainya. Serta kecelakaannya lalu lintas. Maka dari itu, tutup dan stop peredaran arak di Belitung,” pungkasnya.

Sementara itu, Ketua KNPI kabupaten Belitung Harfian Fajar (Jarwo) juga mengaku prihatin, dengan maraknya peredaran arak di Bumi Laskar Pelangi. Bahkan dia mengaku terkejut dengan pengerebekan, pekan lalu.

Untuk mengantisipasi adanya peredaran arak di Belitung, rencananya sejumlah ormas akan menggelar aksi. “Rencana kita akan gelar kegiatan di jalan. Tapi kita akan rapatkan dengan Pemuda Pancasila besok (hari ini, red),” kata Jarwo. (rez/kin)