Suka Batalkan Salat Maghrib

by -

TANJUNGPANDAN – Berbagai ujian dan tantangan telah dilalui oleh Alotius Iskandar atau yang akrab disapa Alek. Pria kelahiran Gantong 9 Maret 1957 itu, saat ini menjadi Ketua Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) Kabupaten Belitung. Ia hidup di keluarga penganut agama lain. Ia anak paling bungsu dari 12 bersaudara.

Sejak memutuskan menjadi Muslim, tepatnya tanggal 28 Agustus ketika berumur 19 tahun, berbagai cobaan mulai datang. Tantangan terbesar datang dari keluarga. Ia harus dijauhi keluarganya. Namun cobaan itu mampu dilalui oleh Alek.Sebab, ini adalah pilihan hidupnya yang paling sulit, meski sangat pahit rasanya. Karena sudah yakin dan mantap, inlilah yang dinamakan hidayah dari Tuhan.

Ada cerita yang tidak ia lupakan. Setiap salat Maghrib ia selalu menyegerakan. Tentu saja meski pintu sudah ditutup, ibunda tercinta curiga. “Kadang saya sholat, padahal sudah dua rakaat. Ibu manggil. Terpaksa saya nyahut. Kadang-kadang sampai tiga kali ngulang,” kenangnya.

Ia begitu selain takut dengan orangtua, dan takut kepada Allah. Karena saat itu ia sudah tahu dan takut durhaka kepada orang tua. Namun, karena setiap Magrib begitu, orang tua juga tahu. Meski orangtuanya tidak mentah-mentah melarang, tapi tidak ada yang setuju dengan keputusannya. Hingga akhirnya karena keteguhan hati, lama-lama keluarga mulai memahami keputusannya.

“Aku memang bersihkeras, mulanya aku yang segan sholat dengan diketahui orang tua dna keluarga, tapi akhirnya aku memberanikan diri,” ujarnya.

Meski sebelumnya ia sangat susah menjalani hidup akibat pilihannya tersebut. Termasuk dalam hal fasilitas yang diberikan dari keluarga, hampir semua ditarik. Hingga akhirnya ketika menikah, pengalaman getir seperti kehabisan beras, lauk, semua sudah dialaminya. Namun, ia percaya rizki bisa datang dari mana saja. Hingga ia harus jual sepeda Phoenix kesayangannya hanya untuk menyambung hidup.
“Kalau kita benar-benar taqwa kepada Allah, Allah akan memberi jalan keluar. Rizki itu bisa datang dari arah yang tidak kita duga,” ujarnya.

Yang unik dari Alek adalah, ia baru khitanan ketika dua tahun menikah. Memang sebelumnya belum terpanggil sepenuh hati menjalankan Islam. Namun ketika hatinya mulai teguh, ia batu melakukan khitanan. “Sunat pun sudah dua tahun nikah, karena memang belum terpanggil. Setelah sunat baru mencari guru ngaji. Sampai sekarang pun cari guru terus untuk benahi ngaji,” ujarnya.

Ia merasa beruntung dengan program pemerintah. Jadi, ketika dia SMP, diwajibkan mengikuti pelajaran agama Islam. Karena untuk mengisi raport saat itu. Bahkan sejak SMP ia sudah bisa menulis huruf Arab, demi mendapat nilai bagus.

“Begitu saja menginjak remaja, Alhamdulilah saya mendapat hidayah. Kita semua harus mengikuti pelajaran agama Islam saat itu untuk mengisi rapor,” kenangnya.

Yang menyedihkan baginya, pemuda saat mulai menjauh dari Alqur’an. Padahal Alqur-an adalah petunjuk. “Saya sangat prihatin baik Islam turunan maupun mualaf, sangat susahnya kita mengajak beribadah kepada Allah,” pungkasnya. (ade)