Sumatera Gudang IKM OVOP, Terbanyak Dari Provinsi Babel

by -
Sumatera Gudang IKM OVOP, Terbanyak Dari Provinsi Babel
Fatimah Sayuthi berbagi pengalaman bagaimana dia mampu secara konsisten dapat mempertahankan bintang 5 OVOP, dalam sosialisasi virtual yang digelar Ditjen IKMA Kemenperin.

belitongekspres.co.id, JAKARTA– Indonesia memiliki keanekaragaman hayati dan budaya mulai dari ujung Sumatera sampai dengan Papua yang apabila mendapatkan sentuhan pembinaan yang tepat dapat menjadi motor penggerak ekonomi masyarakat di daerah.

One Village One Product (OVOP) merupakan sebuah model pembinaan yang bertujuan untuk meningkatkan ekonomi suatu daerah dengan menghasilkan produk kearifan lokal berkelas global yang menekankan pada pemanfaatan sumber daya lokal.

Itu melanjutkan kisah sukses program OVOP yang dimulai sejak tahun 1979 di Prefektur Oita Jepang. Di mana pada saat itu berhasil mengembangkan produk jamur shitake, model pendekatan OVOP kemudian diadopsi oleh Thailand dengan jargon One Tambon One Product (OTOP) yang berhasil mempopulerkan produk olahan buah, kain sutra dan gerabah.

“Indonesia memiliki potensi yang sangat luas baik dari sumber daya alam, sumber daya manusia dan kearifan lokalnya. Saya optimis model pengembangan IKM di Sentra melalui Pendekatan OVOP juga akan meraih kisah sukses di Indonesia,” tutur Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka (IKMA) Kemenperin, Gati Wibawaningsih di Jakarta, Selasa (24/11).

Program OVOP yang diselenggarakaan oleh Kementerian Perindustrian fokus pada 5 komoditi, yaitu makanan dan minuman, kain tenun, kain batik, anyaman dan gerabah. Kearifan lokal Indonesia banyak tercermin pada kelima komoditi tersebut, yang begitu kental dan mengakar dalam kehidupan bermasyarakat penduduk Indonesia. Dalam produk dengan kearifan lokal tersebut banyak terselip kisah maupun hikayat dibalik penciptaan produk tersebut.

Melanjutkan sesi sebelumnya, Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka menyelenggarakan kembali Sosialisasi Program Pengembangan IKM di Sentra melalui Pendekatan OVOP. Kali ini sosialisasi yang dilakukan secara virtual ditujukan kepada pembina industri dari Kabupaten, Kota dan Provinsi di wilayah Pulau Sumatera.

“Wilayah Sumatera ini gudangnya IKM OVOP, terbanyak dari Bangka Belitung. Sebanyak 67 IKM dari total 112 IKM OVOP penerima penghargaan OVOP pada tahun 2018 lalu (59,82%) berasal dari wilayah Sumatera, yang mencakup hampir semua komoditi OVOP. Hanya IKM OVOP dari komoditi gerabah yang belum ada dari Sumatera,” katanya.

Komoditi makanan dan minuman dan kain tenun begitu mendominasi produk IKM OVOP di wilayah Sumatera. Tak heran, sebab sudah banyak produk dari komoditi tersebut yang telah begitu populer di Nusantara ini. Siapa yang tak kenal keripik sanjai asal Sumatera Barat yang telah menjadi oleh-oleh wajib bagi setiap pelancong yang mengunjungi Sumatera Barat?

Siapa pula yang tidak kenal rendang dari Sumatera Barat yang telah termahsyur hingga ke manca negara bahkan telah dinobatkan sebagai kuliner terlezat di dunia versi CNN Travel selama bertahun-tahun lamanya. Bahkan chef sekaliber Gordon Ramsay, secara khusus mengunjungi Sumatera Barat untuk mengulik kuliner ini dan menampilkannya secara eksklusif dalam konten tayangan televisi yang digawanginya.

Dari komoditi kain tenun, nama ulos dari Sumatera Utara tentu sudah tak asing bagi masyarakat Indonesia. Sementara itu tenun songket bagi banyak orang sudah identik dengan khazanah kain asal Sumatera Barat dan Sumatera Selatan. Dalam sesi kedua yang dilaksanakan di Kota Padang, IKM OVOP bintang 5 dengan komoditi kain tenun songket, yaitu Fatimah Sayuthi, turut hadir untuk berbagi pengalaman bagaimana dia mampu secara konsisten dapat mempertahankan bintang 5 OVOP.

Ditjen IKMA Kemenperin memberikan dukungan bagi industri tenun Indonesia melalui berbagai program, mulai dari pelatihan, fasilitasi sarana produksi, pendampingan desainer dan tenaga ahli, serta partisipasi pameran. Ditjen IKMA juga memfasilitasi perlindungan Indikasi Geografis Tunun Gringsing Bali pada tahun 2016 dan Tenun Doyo Benuaq Tanjung Isuy Jempang Kutai Barat, Kalimantan Timur pada tahun 2019.

“Ke depan, diharapkan usulan IKM OVOP dapat lebih banyak lagi sehingga nantinya akan diperoleh IKM OVOP berdaya saing global yang mampu menembus pasar nasional maupun internasional dan mengharumkan nama Indonesia,” pungkas Gati. (*/yud)