Sungai Tebat Rasau Kering, Pintu Bendungan Pice Harus Kembali Ditutup

by -
Ketua Pokdarwis Nasidi berada di lokasi Geosit Tebat Rasau yang dilanda kekeringan, Kamis (25/7).

BPBD Beltim Paparkan Penyebab Kekeringan

belitongekspres.co.id, GANTUNG – Fenomena keringnya air sungai di wisata Geosite Tebat Rasau Desa Lintang Kecamatan Simpang Renggiang sangat disesalkan masyarakat setempat. Sebab, kekeringan yang terjadi sejak dua minggu terakhir merupakan fenomena aneh, karena sebelumnya sungai tersebut tidak pernah kering. Kecuali ketika terjadi kemarau panjang selama tujuh bulan.

“Ini baru empat minggu tidak hujan, kok keringnya luar biase. Padahal, berapa tahun ini masyarakat Desa Lintang ini banyak tertolong dari sungai ini. Dari mulai ngambik ikan sampai aktifitas apapun di sungai ini,” kata Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Nasidi kepada Belitong Ekspres, Kamis (25/7) kemarin.

Dikatakan Nasidi ketika aktifnya Pintu aliran air Bendungan Pice Gantung, tidak pernah terjadi kekeringan seperti saat ini. “Kalau kami lihat ternyata pintu bendungan pice tidak tertutup (dibuka,red). Kenapa itu tidak ditutup kita tidak tahu alasannya,” sesal Nasidi.

Oleh Karena itu, Nasidi berharap agar pemerintah harus segera kembali menutup pintu air bendungan Pice tersebut agar permukaan air kembali naik. “Aku selaku pengelola Geosite Tebat Rasau ini berharap bisa kembali seperti semula, masih bisa dibuatek, masih bisa asal pintu pice ditutup lagi. Agar air kembali naik keatas, kita lihatlah dampaknya nanti,” pinta Ketua Pengurus Geosit Tebat Rasau ini.

Sementara itu, menanggapi fenomena keringnya sungai Tebat Rasau, Ketua Pelaksana Harian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Beltim, Andriyanto menyebutkan hal itu terjadi akibat adanya galian di sekitar Sungai Lenggang.

“Sebetulnya daerah Tebat Rasau terdapat mata air. Akan tetapi karena penguapan lebih tinggi, selama ini penguapan ditahan oleh vegetasi tumbuh-tumbuhan lokal, dan di sana terjadi pula pengupasan, sehingga muka airnya turun. Jadi yang terjadi di sana adalah Groun Water Tablenya turun karena ada penggalian,” jelas Andrey sapaan Andryanto.

Untuk itu Andrey meminta hindarilah penggalian besar-besaran di sekitar sungai Lenggang. “Misalnya penggalian untuk tambang inkonvensional, itu paling cepat menurunkan muka air tanah. Penyebabnya itu, jadi kita sebenarnya jangan menyalahkan orang lain, terjadi itu karena penggalian yang berlebihan,” tukasnya.

Selain itu, Kepada masyarakat dia juga meminta agar lebih berperilaku menjaga kondisi alam. “Sebenarnya disana mata air ada dari dua bukit besar. Kita lihat dari tumbuhan lokal situ batuannya batuan sedimen semua. Dan di situ berupa sebuah cekungan air, tapi karena memang penguapan tinggi terus vegetasi dikuras, ya terjadi (kekeringan), hingga air hilang,” terang Andrey.

Penyebab lainnya lanjut Andrey, terjadinya kekeringan karena tidak ada vegetasi penahan. Jadi dalam sebuah lingkungan biota air menurut Andrey bisa saja hilang karena berubahnya unsur mikroskopis. Sebab, tidak adanya vegetasi yang menutupi ruang terbuka sekitar tebat atau tubuh air ataupun danau tersebut.

“Fenomena ini bisa dikembalikan seperti semula gampang sekali, dengan menanami vegetasi asli di situ, kita jangan menanam vegetasi yang bukan asli disitu. Tanamlah vegetasi yang akrab di situ, karena akar-akar mereka (tanaman) itu sudah familiar dengan lingkungan batuan di sana,” paparnya.

Oleh karenanya, Andrey menghimbau kepada masyarakat sekitar, jangan menggali di sekitar Sungai Lenggang. Jika digali terus, nanti airnya akan pergi. “Namanya groun water table. Gerakannya, dia akan berada di permukaan yang paling rendah,” tukasnya.

“Apabila ada penggalian, air akan turun ke lubang penggalian yang kedalamannya lebih dalam dari sungai itu. Nanti, yang akan merasakannya satu kampung tersebut, air tidak dijumpai di situ,” tandasnya. (dny)