Survei Potensi Komoditi Lada, 100 Eksportir Bakal Kunjungi Belitung

by -
Survei Potensi Komoditi Lada, 100 Eksportir Bakal Kunjungi Belitung
Suasana rapat pembahasan persiapan Program Bisa Ekspor Masuk Desa, Rabu (20/1) kemarin.

belitongekspres.co.id, TANJUNGPANDAN – Sebanyak 100 eksportir akan akan berkunjung melihat potensi Lada di Belitung. Kunjungan itu dalam rangka pelaksanaan program Kementerian Desa PTT yaitu Bisa Ekspor Masuk Desa. Program ini bakal mempertemukan para eskportir dengan petani guna memasarkan produk desa sampai dengan ekspor lada.

“Ini pembahasan awal, nanti diharapkan setelah pembahasan ini, kita akan kedatangan tamu sekitar 100 eksportir,” kata Kepala Bidang Perkebunan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Belitung, Hamzah usai rapat pembahasan persiapan Program Bisa Ekspor Masuk Desa, Rabu (20/1).

Menurut Hamzah, eskportir itu akan mencari potensi-potensi yang ada di Belitung terutama lada. Sehingga mereka akan melihat langsung dan secara detail potensi Lada Belitung. “Insyallah bulan Februari nanti, mereka akan melihat secara langsung prosesnya, kemudian berkoordinasi lagi untuk mekanisme pengeksporan Lada di Belitung,” jelasnya.

Selama ini kata dia, ekspor Lada Belitung masih tergantung Pangkalpinang, sehingga selisihnya lebih rendah sekitar Rp 2000 hingga Rp 3000 per Kg. Maka dari itu, dengan adanya eksportir nanti, Belitung akan langsung ekspor lada dan tidak melalui daerah lain lagi seperti Pangkalpinang.

“Mudah-mudahan kita akan ekspor langsung, karena kita sudah lengkap seperti karantina dan lainnya. Tinggal hanya bagaimana regulasi itu muncul sehingga kita bisa ekspor langsung ke negara tujuan,” papar Hamzah.

Saat ini kata dia, produksi Lada Belitung sudah pulih yakni dari 9000-an hektar sudah menghasilkan mencapai 5.716 ton. Angk tersebut naik jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya hanya mencapai 4.930 ton. “Harapannya di tahun ini ada puncak panen di bulan April hingga Juni, target kita mudah-mudahan tercapai 5.900 ton,” tukasnya.

Lebih lanjut dikatakan Hamzah, dengan adanya eskpor langsung nanti diharapkan bakal lebih menguntungkan, karena ekspor langsung dari petani itu sendiri. Kemudian eskportir ini tidak hanya terbatas pada komunitas lada, bahkan mereka akan mencari komoditas lainnya, seperti perikanan dan hortikultura. “Kita coba 100 orang eksportir, semoga mereka bisa dapat petaninya dan dapat barangnya,” harapnya.

Dia kembali mengungkapkan tahun 2020 ini, Belitung bukan daerah pengekspor lada, karena daerah pengekspor itu Pangkalpinang. Jadi, begitu Belitung tidak masuk daerah bukan ekspor, maka bagi hasil ekspornya pun tidak dapat.

“Dengan demikian ekspor itu penting bagi daerah. Label lada tapi tetap Muntok White Papper, tetapi daerah pengekspornya Belitung. Begitu kita masuk jadi bagi hasil untuk ekspor ladanya kita pun dapat,” bebernya.

Adapun tujuan negara eksportir lada yang masih berbentuk biji itu kata Hamzah, yakni negara-negara yang langsung pemakai produk itu sendiri. Sehingga, bukan lagi negara pengekspor, seperti Australia, Belanda, dan Timur Tengah. “Kita menghindari negara yang akan mengekspor kembali produksi kita,” tandas Hamzah.

Sementara itu, Bupati Belitung H. Sahani Saleh mengatakan, Pemkab akan mempersiapkan segala sesuatunya, terutama ketersediaan produksi lada di Belitung yang ada dari petani itu.

“Yang jelas Pemerintah sudah bersiap-siap untuk itu, terutama lada. Selain itu, hasil perikanan dan segala macam. Nanti mereka akan survei ke Belitung bulan depan (Februari),” katanya.

Kata dia, adapun yang dipersiapkan Pemkab Belitung saat ini adalah mengenai regulasi. Regulasi itu yakni agar ekspor nantinya tidak melewati Pangkalpinang dan Jakarta lagi, berupa langsung kepada negara tujuan.

“Dasar regulasinya sudah ada yaitu bahwa pelabuhan di Belitung sudah Internasional, tinggal kesiapan produksi petaninya seperti apa nanti,” terang bupati Belitung yang karib disapa Sanem itu.

Sanem pun yakin hal itu bisa memangkas birokrasi, karena selama ini terjadi semacam monopoli harga. Pemangkasan birokrasi ini, sangat diperlukan agar harga lada di Belitung bisa lebih tinggi.

Apalagi Kata Sanem, para eksportir ini memiliki berbagai macam jaringan untuk pemasaran lada di luar negeri. “Jadi mereka nanti di Belitung melihat kemampuan produksi lada. Terus mereka akan memberi gambaran tentang packing produk itu seperti apa,” tukasnya. (dod)