Survey itu…

by -
Rakyat, Kemana Suaramu Nanti?
Syahril Sahidir, CEO Belitong Ekspres Grup.

Oleh: Syahril Sahidir
CEO Belitong Ekspres Grup

ALKISAH, seorang Calon Kepala Daerah atau Calon Wakil Kepala Daerah –entah Calon Bupati atau juga Calon Wakil Bupati– turun mengadakan survey di tengah lapangan terbuka di tengah rakyat pemilih. Asumsinya, popularitas tidak diragukan lagi, tapi dipilih atau tidak (elektabilitas), dia sendiri masih ragu-ragu.

DIA merasa sebagai tokoh masyarakat yang dikenal luas selama ini. Kini mencalonkan diri dalam Pilkada, sehingga perlu survey langsung turun.

Syahdan, di tengah lapangan terbuka itu ia umumkan bahwa ia akan bunuh diri dengan cara menyiram sekujur tubuhnya dengan bensin dan lalu membakar diri. Saat itu di depannya sudah ada satu dirijen bensin. Ia ingin menguji kesetiaan rakyat daerah itu terhadap dirinya.

”Jika kalian melarangku bunuh diri, aku minta kalian kumpulkan koin ke tengah lapangan ini…” ujarnya.

Tak lama kemudian, seorang warga mulai menghimpun uang dari warga yang hadir. Tak ada koin yang terkumpul. Justru rata-rata warga menyumbang uang ratusan ribu, minimal lima puluhan ribu. Melihat itu, sang calon tadi merasa terharu. Ia merasa begitu cintanya warga, sehingga mereka menolak menghimpun koin, tapi malah menghimpun uang dengan nilai yang lebih besar.

”Berapa uang yang sudah terkumpul?” ujar sang calon kepada penghimpun uang tadi.
”Ini ada sekitar dua puluh juta Pak… Kami pikir sudah lebih dari cukup untuk menambah bensin Bapak yang cuma satu dirijen itu Pak…”
Sang calon pun pucat pasi….

*

TERSEBUTLAH Kepala Daerah yang akan mencalonkan diri lagi –incumbent– pagi itu mengumpulkan 3 anaknya. Dengan tanpa ‘malu’ ia memanggil ketiga anaknya guna ditanyakan apa yang mereka mau ‘mumpung’ sang Bapak lagi berkuasa dan berencana nyalon lagi.

Kepala anak pertama ia berkata, ”Mumpung Bapak sedang berkuasa, hari ini Bapak akan membagi-bagi kue bisnis untuk kalian. Nah, kamu selaku anak tertua minta apa?”

”Saya minta semua proyek jalan saya yang mengerjakan, ayah,” ujar si anak pertama.
”Oke, besok saya perintahkan Kepala PU untuk mengaturnya,” ujar si Bapak. ”Lalu kamu minta apa?” lanjutnya seraya menanyakan kepada anak kedua.

”Saya minta semua proyek pengadaan saya yang memegang ayah,” ujar anak kedua.
”Gampang, besok semua Kepala Dinas saya perintahkan untuk mengaturnya,” ujar si Bapak. ”Lalu kamu minta apa?” ujarnya ditujukan kepada anak ketiga.

”Saya minta agar semua proyek bangunan saya yang mengerjakan,” ujar si anak ketiga.
”Besok saya perintahkan seluruh kepala dinas mengaturnya,” ujar si Bapak.

Tak lama, si Bapak kaget. Karena ternyata pembicaraan mereka didengar sang ajudan yang ada di ruangan itu. ”Nah, kamu ajudan karena kamu sudah mendengar  semuanya, maka kamu juga saya beri kesempatan. Ayo kamu minta apa?”

”Maaf Pak. Saya MALU,” ujar si ajudan tersipu.
”Apa? Kamu jangan minta MALU, kalau MALU saya nggak punya….”

*

PENCITRAAN dan citra bagi seorang calon kepala daerah atau calon wakil kepala daerah yang akan bertarung dalam Pilkada, itu berada di posisi berbeda. Jika citra dibangun dengan pencitraaan, berarti adalah upaya setting atau membangun citra diri positif sang calon dengan berbagai gambaran yang baik-baik dan hebat atas dirinya.

Mulai dari keberpihakan atas kepentingan rakyat, serta sikap dan perilaku yang seolah memang semua untuk rakyat. Sehingga pencitraan lebih mengarah kepada upaya membangun branding hebatnya si calon.

Sebaliknya, citra, adalah sudut pandang rakyat atau si calon atas kiprah dan perilakunya selama ini. Citra ini bisa positif, tapi juga bisa negatif, tergantung bagaimana sikap dan perilaku si calon selama di tengah publik.

Dari sini, jikalah sang calon tanpa disetting memang sudah dinilai positif dan patut oleh rakyat pemilih, maka pencitraan untuk orang seperti ini tak perlu diragukan lagi. Sebaliknya, jika citra selama ini negatif, maka harus ada upaya pemutar balikan dengan langkah-langkah pencitraan.

Nah, dengan begini silahkan para calon merenung, termasuk yang manakah?*