Tak Ada Pungli TI Rajuk

by -

*Yodi Sebut Hanya Sumbangan Penambang

MANGGAR –Kabar adanya pungutan liar terhadap penambangan timah dengan sistem rajuk (TI Rajuk) yang pernah diungkapkan Wakil Bupati Belitung Timur (Beltim), Zarkani Mukri, ternyata tidak sepenuhnya benar.

Ketua Asosiasi Penambang Rakyat Daerah (Astrada) Kabupaten Belitung Timur (Beltim), Haspiniwyodi menegaskan tidak ada pungutan liar (pungli, red) atas nama oknum terhadap tambang Rajuk. Ia menyebutkan semisal TI Rajuk di Pok I, Desa Batu Penyu Kecamatan Gantung, hanyalah kesepakatan seluruh penambang berupa sumbangan sesuai perolehan hasil tambang.

“Untuk tambang rajuk di Pok I Desa Batu Penyu, itu (sumbangan, red) kesepakatan penambang. Ada berita acaranya, dan ditandatangani seluruh penambang,” ujarnya, usai menghadiri silaturahmi dan tatap muka LSM, Ormas dan OKP bersama Kapolres Beltim, Selasa (24/2) siang kemarin.

Kepada Belitong Ekspres, Menurut pria yang akrab disapa Yodi, keberadaan Astrada adalah untuk melindungi penambang. Sekaligus memfasilitasi penambang agar nyaman beraktifitas.

“Kalau soal pungli di lokasi (rajuk, red) lain, kami tidak tahu menahu. Tapi kalau yang di Pok I hanya bersifat sumbangan,” tegasnya.

Sebelumnya, Yodi yang ditemui akhir pekan lalu, sempat menunjukkan berita acara kesepakatan antara penambang yang menggunakan sistem TI rajuk di Pok I, Desa Batu Penyu. Dalam berita acara tersebut dijelaskan, sumbangan pemilik ponton rajuk diberlakukan sama pada setiap ponton perhari.

Adapun sumbangan diperuntukkan bagi tim koordinator sebanyak 1 kaleng susu kental manis (perkiraan berat 1 kilogram, red) dan untuk kas Desa Batu Penyu dengan takaran sama.

“Untuk sumbangan kas Desa adalah sumbangan sukarela dan tidak diambil setiap hari. Tetapi tercatat di kolektor dan berdasarkan itulah, pihak Desa bisa kapan saja apabila dibutuhkan mengambil,” jelas Yodi.

“Kalau untuk tim koordinator, pemanfaatan sumbangan tersebut untuk gaji pengurus dan kalau ada tim sewaktu-waktu turun kelapangan,” tukasnya.

Ditambahkan Yodi, tambang sistem rajuk tidak selamanya menghasilkan bijih timah. Sehingga, sesuai kesepakatan bersama, sumbangan juga dibuat fleksibel sesuai perolehan penambang.

“Kalau hasilnya dibawah 10 kilogram tidak diambil sumbangan. Antara 11 hingga 15 kilogram sumbangannya satu calong (kaleng susu, red), diatas 15 kilogram diambil dua calong,” kata Yodi.

Sementara itu, berdasarkan berita acara tertanggal 26 November 2014 yang disepakati penambang dan koordinator tambang rajuk Pok I, Desa Batu Penyu, terdapat 8 kesepakatan.

Di antaranya, inventarisasi data pemilik dan pekerja rajuk, penegasan masalah K3, sumbangan perponton rajuk, pemanfaatan sumbangan, jam operasional tambang rajuk, kelengkapan data sebelum beroperasi, mewajibkan Jamsostek dan menyelesaikan masalah dengan musyawarah.

Sejauh ini, para pemilik dan pekerja tambang rajuk di Pok I mengaku senang dan puas atas kinerja tim koordinator yang profesional. Mereka merasa penunjukkan koordinator di tambang rajuk Pok I, sangat membantu penambang dalam berusaha. (feb)